Sekar Anindyah Lamase | Rie Kusuma
Novel Satu Musim Panas di Paris (Dok. Ipusnas)
Rie Kusuma

Ini bukan pertama kalinya bagi saya membaca karya dari Sarah Morgan. Tapi, novel kali ini, Satu Musim Panas di Paris (One Summer in Paris) benar-benar membuat saya memahami bahwa ini bukanlah sekadar novel yang bercerita tentang perpisahan, tapi juga kisah tentang bagaimana manusia bertumbuh untuk sembuh, untuk menemukan rumah sebagai tempat pulang mereka.

Sesuai judul novelnya, Satu Musim Panas di Paris (One Summer in Paris), Sarah Morgan akan mengajak para pembacanya ke ‘Kota Cinta’ ini. Namun, berbeda dari kebanyakan novel yang menjadikan Paris sebagai kota romantis, di sini Paris berfungsi sebagai tempat bagi orang-orang yang sedang ‘tersesat’ untuk bertemu dan menata ulang hidup mereka.

Adalah Grace Porter, perempuan berusia akhir empat puluhan tahun, sosok yang terorganisir, dan tinggal di kota kecil Woodbrook, Connecticut. Ia telah menyiapkan kejutan istimewa, sebuah perjalanan ke Paris bersama suaminya untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-25.

Tapi, tepat di hari tersebut Grace dihadapkan pada kenyataan bahwa sang suami, David, seorang editor surat kabar lokal, mengakui perselingkuhannya dengan seorang gadis muda berusia 23 tahun dan lelaki itu menghendaki perceraian.

Lalu ada Audrey Hackett, gadis berusia 18 tahun asal London, Inggris yang berjuang menghadapi disleksia serta masalah ibunya yang seorang pecandu alkohol. Ia butuh waktu untuk menjauh sejenak dari masalahnya dan memutuskan menghabiskan musim panas di Paris sembari bekerja dan mencari jati diri.

Sebuah kejadian tak terduga kemudian mempertemukan Audrey dan Grace. Di kemudian hari dari satu perjumpaan ke perjumpaan lainnya, keduanya menyadari bahwa mereka memiliki banyak kesamaan. Masalah yang serupa, luka yang mereka miliki, membuat ikatan di antara mereka semakin kuat. Persahabatan yang manis pun tumbuh meski mereka terpaut jarak usia lebih dari 20 tahun. 

“Aku membangun kehidupan baru di sini, dan seharusnya kau juga. Jika tidak, kau akan pulang ke sampah—maaf, maksudku ke situasi yang sama—dengan yang kaumiliki sebelumnya dan tidak akan ada yang berubah. Ini kesempatanmu melakukan sesuatu untuk dirimu.” (Hal. 204)

Satu hal yang menarik dari novel Satu Musim Panas di Paris (One Summer in Paris) adalah novel ini tidak memaksa tokohnya untuk mempertahankan hubungan demi status ‘keluarga utuh’. Sebaliknya, Sarah Morgan mengajak pembaca bertanya:

Apakah bertahan selalu lebih baik daripada melepaskan?

Pertanyaan itu menjadi inti emosional novel.

Satu Musim Panas di Paris (One Summer in Paris) juga menyajikan tema yang berulang sepanjang novel, yaitu: Rumah bukan selalu bangunan. Rumah adalah tempat seseorang merasa diterima. Para tokoh utamanya justru menemukan ‘rumah’ setelah meninggalkan rumah lamanya.

Novel ini juga tidak melihat perceraian hanya dari sudut pandang pasangan. Namun, juga memperlihatkan bagaimana sebuah perceraian bisa memengaruhi anak-anak yang sudah beranjak dewasa, hubungan ibu-anak, dan bahkan cara seseorang memandang masa lalunya. Ini membuat konflik yang ada terasa realistis.

Hal lain yang juga saya sukai dari novel ini adalah romansa tetap hadir sebagai latar belakang bagi kisah persahabatan dan perkembangan karakter Grace dan Audrey, tapi porsi kisah cintanya tidak mendominasi. Novel ini pun cukup ‘aman’ karena unsur romansanya tidak diekspos berlebihan kecuali satu adegan saja yang cukup panas.

Pada akhirnya, Satu Musim Panas di Paris (One Summer in Paris) bukan sekadar kisah tentang perpisahan, melainkan tentang keberanian menerima perubahan dan percaya bahwa selalu ada kesempatan kedua untuk menemukan kebahagiaan.