Fenomena “asal bapak senang” atau yang biasa dikenal dengan sebutan ABS masih merajalela di negara ini. Budaya tersebut tidak hanya dilakukan oleh para pejabat publik, melainkan juga menjangkiti masyarakat sipil yang berada di lingkungan profesional, seperti pegawai perkantoran maupun korporasi.
Pada dasarnya, kita tidak perlu mengetahui nama-nama orang yang suka menjilat atasan, tetapi secara umum masyarakat tentu sudah memahami ciri-ciri perilaku tersebut. Hanya saja, kita tinggal memilih di antara kedua opsi: mengikuti arusnya atau tidak.
Seseorang bisa menjadi pejabat ataupun karyawan biasanya karena mereka memenuhi kualifikasi utama, yaitu memiliki ijazah dengan latar belakang pendidikan formal serta kemampuan teknis tertentu.
Namun, ironisnya para pejabat publik maupun karyawan yang bergelar sarjana sekalipun, masih memilih untuk menjadi seorang penjilat. Bagi saya, hal ini terasa wajar. Sebab pendidikan tinggi pada kenyataannya tidak menjamin lulusannya memiliki moral atau adab yang baik.
Saya teringat kembali pada masa SMA, tepatnya saat kegiatan keagamaan di lapangan setiap hari Jumat seperti tadarus dan salat Duha, guru agama saya sering mengingatkan siswanya.
Jika beliau melihat siswa yang lalai salat, beliau selalu menegur mereka dan berpesan bahwa kelak setelah lulus sekolah, tidak ada lagi yang menyuruh beribadah, melainkan semuanya bergantung pada diri masing-masing. Jika ditafsirkan lebih luas, pesan ini tak hanya menyentuh soal ibadah, tetapi juga relevan dengan kehidupan perkuliahan.
Antara Otonomi Diri dan Godaan Kekuasaan
Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar atau menengah, mungkin masih ada orang tua yang menyuruh salat di rumah. Namun, saat jauh dari orang tua, justru kita sendirilah yang menentukan arah hidup. Ingin menjadi mahasiswa yang bertakwa, beradab, ataupun sebaliknya, semua itu ditentukan oleh diri kita sendiri.
Akan tetapi, para pejabat maupun pegawai tidak memulai langkah-langkah menjadi penjilat dari dunia perkuliahan, mereka lebih banyak mempelajarinya saat sudah mengemban jabatan dan memegang kekuasaan.
Pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa jika Anda ingin menguji karakter sejati seseorang, berilah dia kekuasaan? Tentu saja, di masa-masa inilah pejabat publik dan pegawai kantor mulai membuka tabir jati dirinya.
Mereka yang sebelumnya berjiwa idealis justru dapat runtuh setelah menikmati fasilitas, insentif finansial, dan beragam keuntungan lain yang ditawarkan. Kekuasaan membuka topeng seseorang dengan begitu cepat, sehingga menjadikan lingkungan kerja dan birokrasi sebagai tempat yang paling efektif untuk belajar menjadi pejabat atau pegawai bermental ABS.
Sebenarnya, dampak dari budaya ini yang makin subur disebabkan oleh banyaknya atasan atau bos yang lebih mengapresiasi anak buahnya yang cenderung mencari perhatian atau menyenangkan hatinya.
Padahal, seorang atasan yang bersikap seperti itu secara tidak langsung menyingkirkan bawahan yang berbakat dan berprinsip integritas. Laporan-laporan manis mungkin terdengar membahagiakan, tetapi nantinya akan datang suatu waktu dengan kondisi yang membuat hati gelisah, khawatir, maupun rasa kecewa.
Pendidikan Tinggi Tidak Menjamin Manusia Bermoral
Saat menempuh pendidikan tinggi, fokus utama sering kali tersedot pada capaian akademik kognitif semata. Padahal, pemahaman adab dan etika seharusnya sudah tertanam sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah.
Saya merasa bahwa seorang mahasiswa seharusnya sudah memahami bagaimana menjadi pribadi yang beradab dan beretika. Sebab mereka telah diajarkan serta diberi arah oleh orang tua dan guru untuk berperilaku terpuji selama lebih dari tujuh belas tahun.
Lantas, bisakah bekal pendidikan moral yang diberikan tersebut secara perlahan-lahan luntur? Jawabannya, tentu saja bisa. Itulah mengapa orang yang konsisten terhadap prinsipnya justru jauh lebih menjunjung tinggi integritas daripada mereka yang bermuka dua.
Gelar sarjana hanyalah penanda intelektualitas, bukan jaminan integritas. Bahkan, masyarakat kelas bawah sekalipun bisa jauh lebih bermoral daripada kelas atas.
Sebagai penutup, gelar akademis dan jabatan mentereng seharusnya menjadi beban moral untuk memberi keteladanan, bukan sekadar alat untuk menumpuk kekuasaan secara pragmatis.
Harapannya, para akademisi, sarjana, dan pejabat publik tidak sekadar menjadikan pendidikan sebagai tangga karier semata. Jangan sampai etika dan nilai-nilai kemanusiaan yang dipupuk bertahun-tahun justru runtuh dan tergilas hanya oleh syahwat kekuasaan yang sifatnya sesaat.
Baca Juga
-
Pariwisata Maju, Lalu Lintas Mundur: Sisi Gelap di Balik Viralnya Situ Kamojing Cikampek
-
Menakar Skenario Gila: Bisakah WNI Tiru Warga Maroko yang Kabur Lewat Laut?
-
Membaca Buku Barat vs Lokal: Benarkah Karya Penulis Indonesia Selalu Subjektif?
-
Cermin Politik Hari Ini: Ketika Fanatisme Memaklumi Etika yang Terabaikan
-
Pajak Ada di Mana-mana, Kapan Manfaatnya Benar-benar Dirasakan Kita Semua?
Artikel Terkait
Kolom
-
Bendera Merah Putih Mulai Menghiasi Jalanan, Mengapa Tradisi ini Penting?
-
Kemiren: Menenun Kesejahteraan dari Tanah Osing ke Panggung Dunia
-
Gerah dengan Turis Eksklusif? Contek Cara Desa Les di Bali Utara Berbaur Tanpa Sekat
-
Ijazah atau Skill? Memaknai Ulang Kemerdekaan Pendidikan bagi Gen Z
-
Niat Curhat ke Sahabat untuk Cari Ketenangan, Ujungnya Malah Jadi Adu Nasib
Terkini
-
4 OOTD Casual Chic Style ala Seo Ji Hye, Inspo Gaya Ngampus Sampai Ngantor!
-
Iqbal Ramadhan Totalitas Perankan Ijal di Film Operasi Pesta Copet
-
7 HP Gaming Samsung 5G Terbaik 2026, Mulai Rp2 Jutaan!
-
Menjadi Kapten, Menjadi Manusia: Pelajaran Hidup dari Memoar 'BEPE20: Pride'
-
5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam