Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
Moga Bunda Disayang Allah (Gramedia)
Tarassa Q.

Novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye merupakan cerita yang mengangkat perjuangan, kasih sayang, dan proses penyembuhan dua manusia yang sama-sama terluka. Kisah ini berpusat pada Melati, seorang anak kecil yang harus menjalani kehidupan dalam kondisi kehilangan kemampuan melihat, mendengar, sekaligus berbicara. Di sisi lain, hadir sosok Karang, seorang pemuda dengan masa lalu kelam yang perlahan menemukan kembali tujuan hidupnya ketika berusaha membantu Melati keluar dari dunianya yang sunyi.

Melati sebelumnya dikenal sebagai anak yang ceria dan tumbuh dalam keluarga berada, yaitu keluarga HK. Kehidupannya berubah drastis ketika sebuah kejadian tragis menimpanya saat masih berusia tiga tahun. Peristiwa tersebut membuat Melati kehilangan tiga kemampuan penting dalam hidupnya, yakni penglihatan, pendengaran, dan suara. Berbagai usaha telah dilakukan oleh orang tuanya dengan mendatangkan dokter-dokter terbaik, tetapi kondisi Melati belum juga mengalami perubahan berarti.

Keterbatasan yang dialaminya membuat Melati tumbuh menjadi anak yang sulit dikendalikan. Ia sering marah, memberontak, bahkan merusak benda-benda di sekitarnya karena tidak mampu memahami dunia yang tidak dapat ia lihat dan dengar. Sang ibu yang selama ini berusaha kuat akhirnya mulai merasa kehilangan harapan karena tidak tahu cara terbaik untuk membantu anaknya.

Harapan baru muncul ketika Karang hadir dalam kehidupan Melati. Karang bukanlah sosok sempurna yang datang sebagai penyelamat tanpa masalah. Ia sendiri merupakan seseorang yang mengalami kehancuran dalam hidupnya. Kebiasaan buruk seperti mabuk-mabukan menjadi pelariannya setelah trauma besar akibat kehilangan anak-anak didiknya dalam sebuah kejadian tragis di tempat wisata alam. Luka masa lalu membuat Karang menjauh dari kehidupan yang sebelumnya ia cintai.

Ayah Melati kemudian menawarkan Karang untuk menjadi pendamping sekaligus guru bagi putrinya. Pada awalnya, Karang menolak karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi kondisi Melati. Namun, perlahan ia menerima tantangan tersebut dan mencoba memasuki dunia Melati dengan kesabaran yang luar biasa.

Cara Karang mendidik Melati tidak dilakukan dengan paksaan, melainkan melalui pendekatan penuh perhatian dan kasih sayang. Ia berusaha memahami dunia Melati yang gelap dan sunyi dengan mengajarkan berbagai hal sederhana, seperti mengenali sentuhan, memahami benda di sekitar, serta mengenal emosi. Proses tersebut berjalan perlahan, tetapi sedikit demi sedikit Melati mulai menunjukkan perubahan. Anak yang sebelumnya penuh amarah mulai belajar menjadi lebih tenang dan mampu merespons kehadiran Karang.

Hubungan antara Karang dan Melati bukan hanya membawa perubahan bagi sang anak, tetapi juga menjadi perjalanan penyembuhan bagi Karang sendiri. Melalui Melati, Karang belajar berdamai dengan rasa bersalah, menerima masa lalu, dan menemukan kembali makna kehidupan yang sempat hilang.

Dengan ketebalan 312 halaman, novel ini berhasil membawa saya mengikuti perjalanan emosional Melati dan Karang dari awal hingga akhir. Konflik yang dibangun Tere Liye terasa kuat karena tidak hanya berfokus pada masalah Melati, tetapi juga menggali luka batin setiap tokohnya. Gaya bercerita Tere Liye yang sederhana namun menyentuh membuat kisah ini mudah dinikmati sekaligus meninggalkan kesan mendalam.

Sebagai pembaca dewasa, saya melihat novel ini memberikan banyak pelajaran penting tentang kehidupan. Cerita Melati mengingatkan bahwa mendidik seorang anak, terutama yang memiliki keterbatasan atau trauma, membutuhkan kesabaran tanpa batas. Tidak cukup hanya dengan keinginan untuk membantu, tetapi juga diperlukan empati dan ketulusan untuk memahami apa yang mereka rasakan.

Novel ini juga menunjukkan bahwa kasih sayang dapat menjadi kekuatan besar dalam memulihkan luka. Perhatian seorang ibu menjadi gambaran bahwa cinta dan kehadiran orang tua memiliki peran penting dalam membangun kembali hati anak yang rapuh. Selain itu, kisah Karang mengajarkan bahwa seseorang tidak harus terus terjebak dalam penyesalan masa lalu. Menerima kenyataan dan memaafkan diri sendiri merupakan langkah penting untuk kembali menemukan kebahagiaan.

Moga Bunda Disayang Allah bukan hanya cerita tentang seorang anak dengan keterbatasan fisik, tetapi juga tentang manusia yang belajar menerima kekurangan dan berdamai dengan takdir. Novel ini mengajarkan bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjalanan untuk menemukan kekuatan baru.

Identitas Buku

Judul: Moga Bunda Disayang Allah
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabak Grip Nusantara
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786239607494