M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
Film The Bodyguard From Beijing (IMDb)
Tika Maya Sari

Dari kecil, aku suka menonton film-film kungfu atau yang memiliki unsur seni bela diri (martial arts). Sebut saja serial film-film vampir Cina, Boboho, sampai film-film Jackie Chan maupun Jet Li. Nah, ada satu film yang cukup berkesan di memori, di mana Jet Li menjadi karakter utamanya (main character). Film itu bertajuk The Bodyguard From Beijing.

Melansir MyDramaList, The Bodyguard From Beijing adalah film besutan sutradara Corey Yuen yang rilis pada 28 Juli 1994 dengan mengusung genre aksi, thriller, dan romantis tipis. Film ini tidak cuma menyoroti budaya seni bela diri khas Negeri Panda, tetapi juga sukses menunjukkan kemampuan (skill) mengagumkan Jet Li, baik dalam berakting maupun dalam bela diri.

Film berdurasi 1 jam 29 menit ini bisa ditonton di platform seperti Netflix, atau bisa juga dicari di YouTube.

Gadis Manja Bertemu Pengawal dari Jajaran Militer Elite

The Bodyguard From Beijing mengisahkan kehidupan gadis manja bernama Michelle Yeung (Christy Chung) yang menjadi salah satu saksi atas kerja kotor seorang pengusaha paling berpengaruh. Dari tiga orang saksi mata, Michelle adalah satu-satunya yang selamat dari percobaan pembunuhan.

Pacarnya, Sung Sai Cheung (Lawrence Ng), kemudian menyewa jasa pengawal dari Beijing bernama Allan Hui Ching-yeung (Jet Li) yang sebenarnya adalah anggota pasukan militer. Hal ini dilakukan sebab Cheung sering berada di luar negeri untuk mengurusi bisnisnya.

Dari awal, Michelle tidak menyukai Allan karena hidupnya serasa dikekang. Sampai di satu titik jenuh, Allan menyetujui keinginan Michelle untuk berbelanja di mal hanya untuk mendapati serangan tidak terduga yang berkaitan dengan ambisi menghabisi saksi mata yang tersisa.

Dari sanalah, Michelle menyadari profesionalitas Allan. Bahkan, mulai timbul romansa tipis-tipis sebelum segalanya hancur oleh kehadiran Wong Wen Jun (Collin Chou). Ia adalah pembunuh bayaran terkemuka yang disewa untuk membunuh Michelle sekaligus membalaskan dendam kematian saudaranya terhadap Allan.

Dalam pertarungan ini, siapakah yang bakal bertahan hidup?

Film Lawas yang Melekat Kuat di Ingatan

Meski menontonnya sewaktu kecil, aku masih mengingat alurnya dengan jelas. Pun setelah menontonnya beberapa kali, aku masih tidak bosan. Mungkin karena film ini menyajikan masa prima Jet Li sekaligus kemampuan martial arts yang melegenda?

Secara sinematografi, film ini adalah yang terkece pada zamannya. Visualnya berpadu dengan ide cerita unik bernuansa thriller, tipikal adu bela diri khas Cina, dan solusi-solusi kreatif nan cerdas dalam menghadapi situasi genting. Ditambah lagi, para aktornya adalah ahli bela diri asli seperti Jet Li dan Collin Chou.

Namun, kalau dibandingkan dengan masa sekarang, pengambilan gambarnya (take) jelas terasa agak aneh. Ada beberapa adegan (scene) terbang ala wuxia yang terkesan kurang natural. Meski demikian, esensi pengorbanan sang pengawal selalu sukses menembus layar dan melekat di sanubari.

Pertarungan Ahli Bela Diri dan Romansa yang Menyatu

Karena memiliki latar belakang (background) sebagai ahli bela diri, kualitas pertarungan para aktornya pun logis dan sangat dalam (deep). Jatuhnya tidak dipaksakan, apalagi terasa hambar sebagaimana adegan tarung yang dilakukan oleh aktor-aktor tanpa latar belakang bela diri asli.

Sisi kejam Collin Chou sebagai antagonis (villain) pun tersalurkan dengan keji sehingga penonton dibikin ngilu melihatnya. Boleh dibilang, ekspresi sangar dan sorot matanya itu sungguh khas penjahat sejati.

Nah, sang pemeran utama pria (male lead) alias Jet Li di sini bersinar sekali. Selain memamerkan (flexing) keahlian bela diri, ia juga diberi peran sebagai anggota militer yang tegas nan maskulin, ditunjang dengan gaya rambut (hairstyle) cepak dan ekspresi tegas khas prajurit. Kendati nyaris sepanjang film ekspresinya datar, ada satu atau dua bagian yang menampilkan sisi grogi dan senyum tipis yang manis sekali.

Aku justru kurang sreg dengan penampilan Christy Chung yang terasa berlebihan. Meski sejatinya itu adalah karakteristik Michelle Yeung yang memang manja, rasanya tetap kurang pas. Romansa ringannya (light) bersama Jet Li memang memiliki tensi yang kuat kendati tidak berbumbu kemesraan yang berlebihan (lovey-dovey). Namun, akting menangisnya sewaktu Allan tertembak masih kurang terlihat sengsara menurutku.

Perpaduan Budaya Modern dan Klasik

The Bodyguard From Beijing rupanya tidak hanya bercerita tentang keprofesionalan pekerjaan pengawal semata. Alih-alih hanya fokus pada penekanan psikologis sebagai efek pertarungan, pengkhianatan, atau kesetiaan, film ini ternyata tidak lupa daratan. Ada bagian yang menunjukkan budaya Cina klasik mengenai prosesi kremasi dan benda-benda apa saja yang diperlukan.

Hal ini justru mengingatkanku pada film-film vampir klasik, di mana prosesi kremasi adalah upacara sakral yang penuh ketabahan.

Akhir Terbuka yang Meninggalkan Tanda Tanya

Selama menonton film ini, aku sangat menikmati pertarungan yang terasa nyata (real) dan ekspresi tenang Jet Li. Meski akhirnya menangis juga saat menjelang akhir (ending) cerita ketika ia sekarat akibat tertembak oleh Collin Chou sewaktu menyelamatkan Christy. Oke, film ini juga mengajarkan bahwa sekalipun berada di situasi terdesak, pasti bakal ada pertolongan yang datang.

Namun sangat disayangkan, film ini menyajikan akhir terbuka yang membuat penonton uring-uringan. Apalagi alur akhirnya terasa meloncat dan kian memperlebar celah kekosongan.

Kalau dipikir secara nalar dan logika kehidupan nyata (real life), hal ini lazim mengingat sisi profesionalitas seorang pengawal bayaran. Namun, sisi halusinasi (delulu) penonton berusaha berontak dan meminta kejelasan sedetail mungkin.

Romansa Tipis, tetapi Penuh Aksi Kungfu

The Bodyguard From Beijing sendiri memiliki rating 15+ atau bisa ditonton oleh usia 15 tahun ke atas. Namun, bagi penyuka film bernapaskan kungfu dan martial arts autentik, atau penggemar Jet Li, film ini wajib masuk dalam daftar (list) tontonan.

Sebab, sepanjang alur nyaris tidak ada semerbak romansa bak taman mawar, melainkan romansa tipis macam sayur sop kurang garam. Ini murni menurut pendapat pribadiku.

Namun, justru dengan romansa yang tipis inilah pesona duo petarung kuat mendapatkan panggung yang bergaya. Struktur peran mereka bak Yin dan Yang yang seolah mewakili budaya keduanya. Bagaimanapun juga (after all), aku memberikan nilai 8/10 untuk film ini.

Identitas Film

  • Judul: The Bodyguard From Beijing
  • Sutradara: Corey Yuen
  • Genre: romance, thriller, aksi
  • Rilis: 28 Juli 1994
  • Platform: Netflix, Youtube (sudah ada)
  • Negara Asal: Hongkong
  • Bahasa: Cantonese, Mandarin, Bahasa Inggris
  • Durasi: 1 Jam 29 menit