Pernah nggak sih kawan-kawan stuck mau masak apa? Atau lagi bingung hendak beli lauk dan sayur apa mengingat inflasi menggila dan kurs mata uang anjlok?
Dewasa ini, kita dapati bahwa harga barang-barang naik semua. Mulai dari sembako, sayur, sampai pada onderdil kendaraan kompak ganti harga. Nah repotnya adalah bagaimana berhemat di kondisi semacam ini, ketika harga sayuran dan lauk pauk meroket.
Saya sempat mendapatkan saran dan resep cuma-cuma dari kenalan mengenai sambal pencit yang memiliki citarasa khas tapi low budget.
Menurut buku Pepak Basa Jawa, pencit sendiri bermakna mangga muda atau bakal buah yang masih kecil. Lazimnya, mangga muda memang diolah sebagai rujak bagi ibu hamil sih. Namun, esensi sambal pencit ternyata lebih brutal dan krusial daripada hanya sebagai rujak mangga.
Mangga Mengkal adalah Kunci
Berbekal resep abal-abal, sambal pencit rupanya terbuat dari bahan-bahan sederhana. Komposisi bawang merah, bawang putih, cabai rawit, garam, penyedap rasa, dan ikan asin berjenis gerih/klotok yang digoreng dan ditumbuk bersama. Selanjutnya, pencit dipasrah, diparut, atau dipotong kecil-kecil dan dicampurkan.
Rasanya bagaimana? Tentu saja gurih, pedas, dan sedikit asam. Nikmatnya tiada tara sewaktu dimakan bareng nasi hangat.
Namun, bila kurang suka dengan tingkat keasaman, sambal pencit bisa juga menggunakan mangga mengkal yang sudah nggak terlampau asam.
Pada praktiknya, saya prefer menggunakan mangga mengkal karena jujurly nggak kuat dengan keasaman mangga muda. Kemudian untuk ikan asin, saya memanfaatkan bagian kepala untuk campuran sambal dan bagian badan sebagai lauk.
Simpel dan low budget sekali kan?
Trik Survive di Musim Mangga
Namanya masa survival, apalagi ditengah era nggak pasti semacam ini, tentu saja berhemat adalah jalan ninja. Memang kebutuhan sayur dan lauk masih bisa diakomodasikan dan masih bisa dibeli, tetapi ada kalanya kita harus memanjangkan budget ke beberapa hari lagi sebelum gaji cair.
Sambal pencit sendiri juga memiliki citarasa yang nyentrik, otentik, tapi cukup menantang buat teman makan nasi. Terlebih lagi sekarang sudah memasuki musim mangga, di mana komoditasnya melimpah ruah.
Sebagian bisa dibiarkan masak di pohon, sebagian diperam, sebagian lagi dijadikan sambal pencit. Win win solution in this situation kan?
Budaya Kuliner Populer
Ketika saya sempat googling, sambal pencit rupanya telah masuk restoran dan dihidangkan dengan sigma. Esensinya nggak lagi sekadar ‘kuliner survival’, tetapi menyampaikan identitasnya sendiri.
Di beberapa lokasi rumah makan, sambal pencit telah menjadi pilihan sambal selain menu sambal matah, sambal terasi, dan lainnya yang mendampingi hidangan ayam goreng maupun bebek goreng. Dia menjelma budaya kuliner populer kendati berangkat dari kuliner lokal yang memanfaatkan buah mangga muda.
Mungkin modelnya seperti sambal nanas ya.
Kuliner Wajib di Musim Mangga
Saya amati belakangan ini sedang musimnya mangga, melihat pohon-pohon mangga sedang berbunga di sana-sini dan mulai ada penjual buah mangga. Jenisnya pun beragam. Tempo hari saya diberi mangga mengkal berjenis Manalagi oleh kenalan, yang tentu diolah menjadi sambal pencit.
Apa ya, seperti sudah menjadi tradisi wajib sih di saya setiap kali musim mangga. Lho, jadi nggak sabar menunggu mangga masak ya?
Bukannya begitu. Saya sendiri telah akrab dengan sambal pencit karena pengalaman personal dalam keluarga. Sekadar makan malam bareng dengan lauk sederhana dan kehadiran sambal pencit, diiringi percakapan ringan. Momentumnya yang hangat, sehingga memorinya terkenang di kepala. Alhasil, sambal pencit bukan lagi sebuah kuliner biasa, tetapi mengandung kenangan personal.
Namun, semuanya balik lagi kepada selera masing-masing ya. Artikel ini hanyalah suatu opini pribadi berdasarkan pengalaman personal, yang saya tulis demi mengenalkan kenikmatan sambal pencit. Bagi kawan-kawan yang berminat menjajal, resepnya sudah banyak bertaburan di internet. Sekian.
Sumber:
Daryanto, S.S. 1998. Kawruh Pepak Basa Jawa. Surabaya: Apollo Lestari.
Baca Juga
-
Drama Perkara Busi: Jangan Suruh Orang Beli Suku Cadang Tanpa Catatan Spesifik!
-
Pesona Male Lead Tengil di Drama Undercover Affair, Sukses Bikin Penonton Salah Tingkah!
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari
-
Dilema Ular Jelmaan Pembawa Pesan Petaka dan Tangis Mbah Darmi
Artikel Terkait
-
Kala Ceri dan Tomat Jadi Inspirasi Karya Fesyen, Instalasi, hingga Kuliner
-
Soto Mbak Mar Andalan Warga Nganjuk, Pencinta Kuliner Jawa Timur Merapat!
-
Review Film Heart of the Beast: Drama Survival yang Sangat Menyentuh Hati
-
Tak Sekadar Sertifikat, Brand Kuliner Asal Garut Jadikan Halal Integrity Fondasi Utama
-
Mode Survival Rakyat: Ayah Antre BBM, Ibu Cari Sembako, Anak Keracunan MBG
Kolom
-
Kolektor Pengetahuan yang Tak Pernah Belajar: Ironi di Balik Fitur 'Simpan'
-
Mengejar DP Rumah vs Beli Pengalaman: Mengapa Gen Z Memilih Realistis?
-
Gaya Hidup Aesthetic ala Gen Z: Menikmati Keindahan atau Mengejar Standar?
-
Influencer Pamer Kekayaan di Tengah Krisis, Masihkah Layak Jadi Tontonan?
-
Relationship di Era Gen Z: Ketika Love Language Bukan Satu-satunya Ukuran
Terkini
-
Unit Baru Seventeen! Jeonghan x Joshua Siap Debut Lewat Album Dreamscape
-
Novel The Woman in Cabin 10: Ketika Pembunuhan di Laut Lepas Dianggap Ilusi
-
Mengenal Danjong di The King's Warden, Raja Kecil yang Pernah Pimpin Joseon
-
Manga Romcom Akira Failing in Love Tembus 1 Juta Eksemplar di Seluruh Dunia
-
Review Gundam Hathaway 2: Intrik Cinta Segitiga dan Bayang Trauma Masa Lalu