Hollywood sudah berkali-kali membuat film tentang rumah berhantu, iblis, vampir, hingga pembunuh berantai. Namun, jarang sekali ada film yang mengangkat konsep yang bagi masyarakat Indonesia terasa begitu akrab: pelet.
Menariknya, Obsession nggak pernah menyebut kata ‘pelet’ sama sekali. Film horor independen produksi Blumhouse Productions ini melakukan pendekatan unik dengan ranting mistis bernama One Wish Willow, benda yang mampu mengabulkan satu permohonan. Di tangan Bear (Michael Johnston), ranting itu digunakan agar Nikki (Inde Navarrette) mencintainya. Hasilnya memang sesuai harapan, tapi cinta tersebut berubah menjadi obsesi yang mengerikan dan memakan banyak korban.
Premisnya simpel. Bahkan jika diceritakan kepada orang Indonesia, mungkin banyak yang langsung berkata, "Lho, itu kan pelet." Di situlah kecerdasan film Obsession.
Obsession nggak sibuk memperdebatkan apakah pelet benar-benar ada atau nggak. Sebaliknya, film ini menggunakan gagasan tersebut sebagai simbol untuk mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih universal: Apa yang terjadi ketika seseorang memaksa orang lain untuk mencintainya?
Bagiku, itulah yang membuat Obsession jauh lebih menarik dari kebanyakan horor romantis.
Selama ini, pelet sering dipenuhi mitos. Ada yang menganggapnya jalan pintas untuk mendapatkan pasangan. Ada pula yang menjadikannya bahan candaan di media sosial ketika seseorang tiba-tiba jatuh cinta. Nggak sedikit pula kisah sinetron atau film yang menggambarkannya sebagai sesuatu yang misterius sekaligus menggoda.
Namun, Obsession mengambil arah yang sepenuhnya berbeda. Film ini seolah-olah ngomong, “Andaikan benar ada kekuatan yang mampu membuat seseorang mencintai kita, apakah hasil akhirnya akan membahagiakan? Jawabannya ternyata nggak.
Bear memang berhasil mendapatkan Nikki. Namun, yang dia dapatkan bukan perempuan yang memilihnya dengan sadar, melainkan sosok yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Cinta berubah menjadi kepemilikan. Kasih sayang berubah menjadi obsesi. Hubungan berubah menjadi penjara.
Menurutku, di sinilah film ini berhasil mengubah konsep ‘pelet’ menjadi sesuatu yang menyeramkan.
Horornya bukan berasal dari hantu atau darah yang berceceran. Horornya muncul ketika seseorang nggak lagi memiliki kebebasan untuk menentukan isi hatinya sendiri.
Yang membuatku semakin kagum, semua gagasan besar ini lahir dari film yang disutradarai youtuber, Curry Burker, dengan skala produksi yang jauh lebih kecil dibanding film-film horor studio besar.
Obsession nggak membutuhkan penampakan setan mengerikan atau efek visual yang berlebihan. Keunikannya justru terletak pada ide cerita. One Wish Willow hanyalah sebuah ranting kecil, tapi dampaknya mampu menghancurkan hidup semua orang yang terlibat.
Bagiku, inilah alasan mengapa Obsession bukan sekadar film horor tentang benda penyalur cinta. Film ini adalah kritik terhadap keinginan manusia untuk menguasai perasaan orang lain.
Entah kita menyebutnya pelet, mantra cinta, sihir, atau apa pun namanya, semuanya berangkat dari satu keinginan yang sama: memperoleh cinta tanpa memberikan kebebasan kepada orang lain untuk memilih. Padahal, di situlah cinta kehilangan maknanya.
Sobat Yoursay yang belum nonton Obsession, buruan ke bioskop. Film ini masih tayang di bioskop Indonesia sejak 26 Juni 2026. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Lockbox Terasa Seperti Dua Film yang Dipaksa Menjadi Satu
-
The End of Oak Street Pamer Dinosaurus Sampai Misterinya Lupa Dikupas
-
Upon Entry: Ketika Orang yang Kita Cintai Mendadak Jadi Orang Asing
-
Sepucuk Surat dalam Film Dear You Mengajarkan Arti Rindu yang Hilang
-
Drama Remaja Berubah Arah, Sterling Point Tahu Caranya Jadi Lebih Menarik
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel White Wedding: Ketika Warna Putih Menjadi Simbol Luka dan Kebahagiaan
-
Ulasan Red Swan: Kisah Kehidupan Elite yang Dibangun dari Perebutan Kuasa
-
Review Drama Voice, Aksi Menegangkan Tim 112 Dalam Memburu Pembunuh Berantai
-
Lockbox Terasa Seperti Dua Film yang Dipaksa Menjadi Satu
-
Ulasan Beyond the Bar: Menguji Batas Idealisme dalam Praktik Hukum
Terkini
-
Presentasi Pakai iPad? Ini 4 Cara Mudah Menyambungkannya ke Proyektor
-
Menjaga Laut, Garam, dan Tradisi Desa Les di Tengah Modernitas
-
Nelayan Kecil Merugi, Mengapa Penangkapan Ikan Ilegal Terus Merajalela?
-
Sempat Ragu, Kenapa Marc Marquez Yakin Bertahan di Ducati hingga 2028?
-
Kisah Kang Edai Jadikan Budaya Osing Sebagai Motor Ekonomi Desa Kemiren Banyuwangi