Sekar Anindyah Lamase | Athar Farha
Scene dalam Film Minions & Monsters (IMDb)
Athar Farha

Bukan rahasia lagi kalau industri film saat ini memuat banyak franchise. Hampir setiap tahun, studio-studio besar berlomba menghadirkan sekuel, prekuel, reboot, hingga spin-off dari merek yang sudah dikenal publik. Di sisi lain, teknologi CGI berkembang begitu pesat sampai-sampai hampir semua hal kini bisa diwujudkan di layar lebar. Monster raksasa, dunia fantasi, ledakan spektakuler, bahkan karakter digital yang tampak hidup menjadi pemandangan sehari-hari.

Di tengah situasi tersebut, Film Minions & Monsters mengambil langkah yang unik. Film produksi Illumination Entertainment yang didistribusikan Universal Pictures ini disutradarai Pierre Coffin bersama Patrick Delage, dengan naskah dari Brian Lynch dan Pierre Coffin. Deretan pengisi suaranya pun diisi nama-nama besar: Pierre Coffin, Trey Parker, Allison Janney, Christoph Waltz, Jeff Bridges, dan Jesse Eisenberg. Meski tampil sebagai film animasi keluarga dengan humor khas Minion, film ini diam-diam menyimpan penghormatan yang begitu hangat terhadap sejarah lahirnya sinema.

Cerita diawali dengan momen tur di museum sejarah perfilman yang mengajak penonton menelusuri masa lalu Hollywood. Dari sanalah kisah beralih ke era 1920-an, ketika James dan Henry menemukan gairah baru yang sama sekali berbeda dari tujuan hidup para Minion selama ini. Alih-alih sibuk mencari sosok untuk mereka layani, keduanya malah jatuh cinta pada dunia perfilman dan memendam mimpi membuat film monster terbesar yang pernah diproduksi.

Ambisi tersebut membawa James dan Henry masuk ke gemerlap Hollywood pada masa kejayaan film bisu. Mereka merasakan pahit-manis menjadi bagian dari industri yang sedang berkembang pesat, menyaksikan perubahan besar ketika film bersuara mulai mengambil alih, sekaligus berusaha mempertahankan mimpi mereka di tengah perubahan zaman. 

Demi menciptakan tontonan monster yang spektakuler, mereka mengambil keputusan nekat yang tanpa disadari memicu kekacauan jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan. Di tengah perjalanan itu, mereka bertemu berbagai karakter baru: Goomi dan Dort, yang membuat petualangan berkembang menjadi semakin liar, kocak, sekaligus banyak kejutan.

Sejarah Perfilman Sebagai Jantung Utama Narasi Minions & Monsters

Poster Film Minions & Monsters (IMDb)

Menurutku, inilah keputusan paling berani yang diambil film ini. Selama ini, banyak film animasi khususnya untuk anak-anak dan keluarga hanya menggunakan referensi pop masa kini sebagai lelucon sesaat. Penonton dewasa mungkin tersenyum karena mengenali referensinya, sementara anak-anak tetap menikmati ceritanya tanpa harus memahami konteks. 

Film Minions & Monsters melakukan lebih dari itu. Film ini seolah-olah ngajak diriku mengingat, sebelum teknologi secanggih sekarang lahir, dunia perfilman dibangun oleh orang-orang yang hanya mengandalkan kamera alakadar, kreativitas tanpa batas, dan keberanian mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Hal itu terlihat jelas lewat berbagai penghormatan terhadap era film bisu. Cara para Minion bergerak, jatuh, saling bertabrakan, hingga menciptakan kekacauan kerasa banget kayak meneruskan tradisi komedi fisik yang pernah dipopulerkan Charlie Chaplin, Buster Keaton, dan para pelawak ternama lainnya. Menariknya, penghormatan tersebut nggak menggurui. Anak-anak mungkin hanya melihat adegan lucu, tapi yang kutangkap, semua humor itu memiliki akar sejarah yang sangat panjang.

Bagiku, inilah bukti teknologi bukanlah satu-satunya hal yang membuat sebuah film terasa hidup. Ya, CGI memang mampu menciptakan dunia yang luar biasa indah. Animasi masa kini juga memungkinkan para pembuat film menghadirkan adegan yang mustahil diwujudkan puluhan tahun lalu. Namun, secanggih apa pun teknologinya, sebagai penonton, aku tetap membutuhkan cerita yang memiliki hati. 

Itulah mengapa hubungan James dan Henry jauh lebih penting dibandingkan berbagai adegan monster atau aksi spektakuler yang muncul di paruh akhir film. Persahabatan mereka menjadi pengingat, inti sebuah film bukanlah seberapa megah efek visualnya, melainkan seberapa besar emosi yang berhasil disampaikan kepada penonton alias dampaknya. 

Walaupun tetap menjadi bagian dari franchise besar, Film Minions & Monsters justru meluangkan waktu untuk menoleh ke belakang. Yup, bahwa sebelum semua dunia sinematik, CGI, dan teknologi digital hadir, ada begitu banyak seniman yang lebih dulu membuka jalan bagi industri perfilman.

Tanpa warisan para pelopor tersebut, bahasa visual yang kini menjadi ciri khas para Minion mungkin nggak akan sekuat sekarang. Menariknya, penghormatan pada perfilman disampaikan oleh karakter yang hampir nggak memiliki bahasa yang benar-benar bisa dipahami. Kita tahu pars Minion berbicara dengan campuran bunyi, kata-kata acak, dan bahasa ciptaan sendiri. Namun, mereka tetap mampu membuat jutaan penonton tertawa hanya melalui ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan komedi visual. Bukankah itu esensi film bisu yang dulu menjadi fondasi sinema?

Film Minions & Monsters ibarat ucapan terima kasih kepada para pelopor yang membangun dunia perfilman dari nol. Teknologi boleh berubah, kamera boleh semakin canggih, dan franchise boleh terus bermunculan. Namun, semangat dasar sinema nggak pernah berubah, yaitu menghadirkan cerita yang mampu membuat orang tertawa, terharu, dan pulang dengan membawa sesuatu untuk dikenang.

Barangkali itulah alasan mengapa Film Minions & Monsters begitu hangat. Di balik semua warna cerah, humor slapstick, dan kekacauan khas para Minion, agaknya menyimpan sepucuk surat cinta pada sinema, bahwa setiap film yang kita nikmati hari ini berdiri di atas mimpi, kerja keras, dan keberanian para pembuat film di masa lalu. Dan surat cinta seperti itu rasanya akan selalu relevan, bahkan di era ketika CGI dan franchise mendominasi layar lebar.

Sobat Yoursay yang belum nonton jangan kebanyakan mikir lagi, ya. Ini film bagus dan layak diapresiasi. Selamat menonton.