Hayuning Ratri Hapsari | Dini Sukmaningtyas
Drama Korea Uncle Samsik (soompi)
Dini Sukmaningtyas

Drama politik sering kali identik dengan alur yang rumit dan dipenuhi percakapan serius. Itulah kesan pertama yang saya rasakan saat mulai menonton Uncle Samsik.

Bahkan, beberapa episode awal terasa cukup berat karena saya harus benar-benar memperhatikan siapa berbicara dengan siapa, apa kepentingannya, dan bagaimana setiap keputusan politik bisa mengubah arah cerita.

Namun, setelah mulai memahami konteksnya, saya menyadari bahwa kerumitan itu memang menjadi bagian dari pengalaman menonton drama ini.

Drama yang dibintangi oleh Song Kang Ho dan Byun Yo Han ini mengajak penonton untuk melihat Korea Selatan pernah saat berada di titik yang sangat rapuh.

Di balik kemajuan ekonomi yang dikenal dunia saat ini, negara tersebut pernah dihantui krisis politik, persaingan elite, hingga ketidakpastian masa depan pada akhir pemerintahan Presiden Rhee Syngman menjelang 1960.

Lantas, seperti apa Uncle Samsik menggambarkan situasi krisis politik 1960 dalam balutan drama yang kompleks ini? Simak ulasan lengkapnya.

Kim San dan Mimpi Besar yang Bertentangan dengan Realita Politik

Uncle Samsik mengikuti kisah Kim San, seorang lulusan akademi militer yang melanjutkan studi ekonomi di Amerika Serikat.

Sepulang ke Korea Selatan pada awal 1960-an, ia membawa satu cita-cita besar, yaitu membangun industri nasional agar rakyat bisa hidup lebih sejahtera dan tidak lagi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Namun, impian tersebut harus berhadapan dengan situasi politik yang sedang memanas, sehingga jalan yang ia tempuh jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.

Di tengah perjuangannya, Kim San bertemu dengan Uncle Samsik, sosok misterius yang mengaku siap mendukung setiap mimpinya.

Kehadiran pria tersebut membuka pintu Kim San ke dunia politik yang dipenuhi intrik, kompromi, dan perebutan kekuasaan.

Dari sinilah cerita berkembang menjadi drama tentang benturan antara idealisme, ambisi, dan kepentingan para elite di tengah krisis politik Korea Selatan menjelang tahun 1960.

Tokoh yang paling menarik perhatian saya adalah Kim San. Setelah menyelesaikan pendidikan ekonomi di Amerika Serikat, ia pulang ke Korea Selatan dengan satu impian yang terdengar sederhana, tetapi sangat besar maknanya.

Idealisme Kim San terasa begitu tulus. Ia percaya bahwa industrialisasi mampu membawa Korea Selatan keluar dari keterpurukan, meski mimpi tersebut memiliki banyak hambatan.

Krisis Politik 1960 sebagai Fondasi Utama Cerita

Menurut saya, Uncle Samsik akan terasa jauh lebih mudah dipahami jika penonton mengetahui sedikit latar sejarah Korea Selatan.

Cerita berlangsung pada masa akhir pemerintahan Presiden Rhee Syngman, periode yang dikenal penuh gejolak politik dan ketidakpuasan masyarakat.

Persaingan antar elite semakin tajam, sementara rakyat mulai kehilangan kepercayaan terhadap pemerintahan yang dianggap semakin otoriter.

Drama ini menggambarkan kelompok politik yang berlomba mendapatkan pengaruh menjelang pemilu. Setiap tokoh memiliki kepentingan sendiri, mulai dari mempertahankan kekuasaan, mencari dukungan politik, hingga memanfaatkan orang-orang berbakat demi memenangkan pertarungan.

Menariknya, Uncle Samsik tidak menyederhanakan konflik menjadi pertarungan antara tokoh baik dan tokoh jahat. Hampir semua karakter berada di wilayah abu-abu. Mereka memiliki alasan masing-masing atas setiap tindakan yang diambil.

Bagi saya, krisis politik tahun 1960 bukan sekadar dekorasi sejarah dalam drama ini. Peristiwa tersebut menjadi alasan mengapa hampir seluruh karakter harus memilih jalan hidup yang berbeda.

Bukan Tontonan Ringan, tetapi Penuh Detail Menarik

Saya tidak akan mengatakan bahwa Uncle Samsik adalah drama yang bisa dinikmati semua orang. Alurnya cenderung slowburn, dialognya padat, dan jumlah tokohnya cukup banyak.

Bahkan, beberapa kali saya harus mengulang adegan tertentu agar benar-benar memahami hubungan antarkarakter maupun arah konflik yang sedang dibangun.

Meski demikian, justru itulah yang membuat drama ini menarik untuk ditonton. Konflik politik dipadukan dengan isu ekonomi, kemiskinan, dan pembangunan nasional sehingga ceritanya memiliki bobot yang kuat.

Akting para pemain juga menjadi nilai tambah. Song Kang Ho berhasil menghadirkan Uncle Samsik sebagai sosok yang sulit ditebak, sementara Byun Yo Han mampu memperlihatkan perubahan Kim San dari seorang idealis menjadi seseorang yang mulai memahami kerasnya dunia politik.

Secara keseluruhan, saya melihat Uncle Samsik sebagai drama yang menawarkan pengalaman berbeda. Memang tidak ringan, tetapi memberikan perspektif menarik tentang kondisi Korea Selatan sebelum berkembang menjadi negara maju seperti sekarang.