Setiap kali bulan Agustus tiba, telinga saya selalu disambut oleh gelak tawa riuh yang memecah udara pedesaan maupun perkotaan. Di tengah lapangan terbuka, berdiri sebatang pohon pinang yang telah dikulisi, dilumuri pelumas tebal, dan di puncaknya digantung berbagai hadiah menarik. Mulai dari pakaian, peralatan dapur, hingga sepeda. Anak-anak muda bahu-membahu, saling pijak, tumpah tindih, dan tak jarang jatuh tergelincir kembali ke tanah. Panjat pinang memang sudah menjadi identitas kebersamaan kita saat merayakan kemerdekaan Indonesia.
Namun, di balik riuhnya sorak-sorai itu, ternyata tradisi ini memiliki jejak yang agak ironis. Ketika saya menggali lembaran sejarah, saya menemukan fakta bahwa tradisi yang hari ini kita rayakan sebagai lambang gotong royong dan kemerdekaan, ternyata berakar dari hiburan para meneer Belanda di masa penjajahan.
Jejak ini membawa saya kembali ke abad ke-19, tepatnya pada era Hindia Belanda. Kala itu, panjat pinang dikenal dengan nama De Klimmast, yang secara harfiah berarti "menjat tiang". Tradisi ini bukanlah permainan yang lahir dari rakyat pribumi, melainkan sebuah pertunjukan yang diadakan oleh para kompeni atau bangsawan Belanda. Biasanya, acara ini digelar saat perayaan-perayaan besar penjajah, seperti hari ulang tahun Ratu Wilhelmina (Koninginnedag), pernikahan keluarga kerajaan, atau festival musim panas.
Saya membayangkan situasi di masa itu. Para pejabat Belanda dan keluarga mereka duduk di kursi-kursi empuk, menikmati minuman hangat dan camilan lezat, sembari menonton orang-orang pribumi bertelanjang dada berebut panjat tiang yang licin. Hadiah yang digantung di atas sana mungkin terlihat sederhana bagi kita hari ini, tetapi bagi masyarakat pribumi saat itu, barang-barang seperti beras, gula, roti, kemeja, dan keju adalah barang mewah yang sulit dijangkau.
Ada rasa perih ketika saya menyadari bahwa pada masa itu, panjat pinang adalah wahana lelucon. Gelak tawa para meneer pecah saat melihat warga lokal bersusah payah, jatuh bangun, dan saling injak demi sesuap bahan makanan atau selembar pakaian. Permainan ini memanfaatkan kemiskinan dan penderitaan rakyat sebagai sarana hiburan eksklusif kaum kolonial.
Lantas, bagaimana permainan yang sarat akan sejarah kelam ini justru bertahan dan menjadi bagian inti dari perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia?
Inilah ajaibnya bangsa kita. Sepanjang penelusuran saya, saya melihat bagaimana masyarakat Indonesia berhasil membalikkan narasi kelam tersebut. Setelah merdeka pada tahun 1945, rakyat tidak membuang panjat pinang, melainkan "merebut" dan mengubah makna filosofis di baliknya. Simbol penindasan diubah menjadi simbol perjuangan dan kebersamaan.
Jika dahulu meneer Belanda melihatnya sebagai bentuk merendahkan martabat, hari ini saya melihatnya sebagai cermin kearifan lokal. Panjat pinang mengajari kita satu hal penting. Tidak ada satu orang pun yang bisa mencapai puncak dan mengambil hadiah sendirian. Siapa pun yang egois ingin naik sendiri pasti akan tergelincir. Untuk mencapai puncak, dibutuhkan kerja sama, pengorbanan (siapa yang bersedia berada di posisi paling bawah untuk diinjak), strategi, dan rasa saling percaya.
Kini, setiap kali saya berdiri memandangi perlombaan panjat pinang di lingkungan rumah saya, perasaan saya bercampur aduk. Ada rasa hormat pada sejarah yang kelam, namun ada pula kebanggaan atas daya lentur budaya kita. Kita berhasil mengubah warisan tertawaan para meneer menjadi perayaan gotong royong yang paling autentik. Di atas tiang yang licin itu, kita tidak lagi dipandang sebagai bangsa yang kasihan, melainkan sebagai bangsa yang tahu cara bekerja sama untuk mencapai cita-cita bersama.
Baca Juga
-
Membedah Tragisme Dosa Victor dalam Novel Frankenstein karya Mary Shelley
-
Pergeseran Tragedi dalam Novel Mary Shelley dan Film Frankenstein (2025)
-
Aksi Les Grow hingga Juara ADWI: Sinergi Warga Desa Les Rawat Bumi & Tradisi
-
Menguak Trauma dan Keberanian Grace dalam Novel Project Hail Mary
-
Menelisik Sisi Gelap Kejiwaan Manusia dalam Film Obsession
Artikel Terkait
-
Fakta Pahit: Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia tapi Ogah Kembalikan Utang Rp500 T
-
Novel Dari Hari ke Hari: Sejarah Besar Diceritakan dari Mata Seorang Bocah
-
Merayakan Kemerdekaan dengan Cara Baru, dari Lomba Panjat Pinang hingga Menjelajahi Indonesia
-
Dosen UBBG dan Sanggar Aceh Art Dance Community Perkuat Pelestarian Tari Tradisi Aceh
-
Tersembunyi di Hutan Rengasdengklok, Kisah Rumah Djiauw Kie Siong Jadi Bagian Sejarah Proklamasi
Ulasan
-
Review Don't Say Good Luck: Menyingkap Batas Seni dalam Menghadapi Kepiluan
-
Drama The Fiery Priest, Membongkar Misteri di Balik Kematian Pastor Lee
-
Ulasan The Tokyo Zodiac Murders: Teka-Teki Pembunuhan yang Penuh Perhitungan
-
The Beauty: Suguhkan Drama Body Horror yang Mencekam di Industri Kosmetik!
-
Review Juvenile Justice: Ketika Usia Menjadi Tameng bagi Pelaku Kejahatan
Terkini
-
Kimpul Bu Tin: Ketika Umbi Lokal Bertemu Kreativitas Zaman Now
-
Usai Upacara HUT ke-81 RI, DKI Jakarta Kirim Nakes dan Galang Rp3,8 M untuk NTT
-
Samsung Galaxy S26 FE Segera Hadir, Bawa Exynos 2500 dan Baterai 4.900 mAh
-
Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?
-
Bye Kulit Berminyak dan Kusam! Ini 4 Pelembap Brightening Berlabel Oil Free