Pernah nggak, sih, Sobat Yoursay kecewa berat ketika mengetahui sosok yang selama ini dikagumi ternyata menyimpan sisi yang jauh dari bayangan kita? Aktor favorit tersandung skandal, atlet idola melakukan pelanggaran, atau pemimpin yang dianggap panutan ternyata membuat keputusan yang menyakiti banyak orang.
Secara menarik, hal-hal berkaitan di atas diangkat dalam kisah Film The Death of Robin Hood. Drama berdurasi ±123 menit ini digarap Michael Sarnoski yang juga bertindak sebagai penulis naskah, dan sudah rilis bioskop Indonesia sejak 3 Juli 2026
Film ini diproduksi Lyrical Media dan Ryder Picture Company dengan A24 sebagai distributor. Deretan pemainnya diisi Hugh Jackman sebagai Robin Hood, Jodie Comer sebagai Sister Brigid, kemudian Bill Skarsgard, Murray Bartlett, Noah Jupe, hingga Faith Delaney. Alih-alih menghadirkan petualangan Robin Hood pada umumnya, film ini malah membedah sisi paling manusiawi dari sang legenda.
Kisahnya mengikuti Robin Hood yang telah menua dan dihantui masa lalunya. Setelah mengalami luka serius saat pertarungan yang diyakininya sebagai pertarungan terakhir, Robin menemukan perlindungan di biara terpencil.
Di sana Robin dirawat Sister Brigid, perempuan misterius yang perlahan membuka jalan bagi Robin untuk menghadapi dosa, penyesalan, dan mitos yang selama ini melekat pada namanya.
Sementara dunia mengenalnya sebagai pahlawan rakyat, Robin justru dipaksa menatap kembali jejak kekerasan yang pernah dirinya tinggalkan. Terasa banget betapa gundah gulana versi film kali ini, kan?
Sisi Gelap Robin Hood yang Relevan dengan Realita
Pahlawan adalah pahlawan. Penjahat adalah penjahat. Dunia lebih nyaman ketika semuanya hitam atau putih. Begitu seseorang kita tempatkan di posisi ‘orang baik’, kita cenderung mengabaikan informasi yang bertentangan dengan keyakinan tersebut.
Hal itu terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Ketika selebritas terjerat kasus, penggemarnya sering berkata, “Pasti ada fitnah.” Saat tokoh politik yang didukung melakukan kesalahan, pendukungnya buru-buru mencari pembenaran. Bahkan ketika fakta sudah sangat jelas, sebagian orang tetap memilih mempertahankan citra idolanya dibanding menerima kenyataan yang menyakitkan. Padahal, mengagumi seseorang bukan berarti harus menutup mata terhadap kekurangannya.
Dari situlah menurutku Film The Death of Robin Hood begitu relevan. Film ini seolah-olah ngomong, legenda pun bisa salah. Robin Hood yang selama ini terkenal sebagai pencuri budiman ternyata bukan sosok tanpa cela. Dia membawa luka, rasa bersalah, dan keputusan-keputusan yang meninggalkan konsekuensi bagi banyak orang. Film ini kayak ngajak penonton mempertanyakan kembali kisah-kisah heroik yang selama ini diterima begitu saja.
Karena itu, Film The Death of Robin Hood rasanya lebih dari sekadar kisah Robin Hood. Michael Sarnoski menggunakan ‘cerita, legenda, dan kepahlawanan’ yang sudah dikenal dunia untuk mengingatkan sejarah seringkali hanya menceritakan bagian yang ingin dikenang. Di balik nama besar, penghargaan, atau reputasi, selalu ada sisi lain yang mungkin sengaja dilupakan.
Bagiku, menerima sisi gelap orang yang kita kagumi bukan berarti berhenti menghormati mereka. Justru itulah bentuk kedewasaan. Kita bisa mengapresiasi karya, perjuangan, atau kontribusinya, tanpa harus menganggap mereka sempurna. Mengakui kesalahan seseorang nggak otomatis menghapus seluruh kebaikannya, sama seperti mengakui kebaikannya nggak boleh menghapus kesalahan yang pernah dilakukan.
Begitulah, Sobat Yoursay. Film The Death of Robin Hood berhasil mengubah kisah legenda yang selama ini identik dengan kepahlawanan menjadi perenungan tentang cara kita memandang manusia. Film ini mengingatkan ke kita, sehebat apa pun seseorang, manusia tetaplah manusia yang nggak bersih dari dosa maupun kesalahan. Di dalam diri setiap orang selalu ada dua sisi yang berjalan berdampingan, yakni kebaikan yang patut diapresiasi dan kekurangan yang nggak bisa diabaikan begitu saja.
Kalau Sobat Yoursay sedang mencari tontonan yang isinya nggak sebatas aksi heroik, pertarungan, atau petualangan, melainkan cerita yang ngajak merenung tentang penyesalan, pengampunan, dan makna menjadi manusia, Film The Death of Robin Hood layak masuk daftar tontonan. Film ini mungkin bergerak dengan tempo yang tenang dan lambat banget, tapi berhasil meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang akan terus terngiang bahkan setelah layar selesai menggelap. Selamat menonton!
Baca Juga
-
Review Verity: Licik Memainkan Kepercayaan Penonton lewat Banyak Kebenaran
-
Review Ibadah & Cinta: Konflik Keluarga Menarik, Eksekusinya Kurang Terarah
-
Review Hanuman Ansh: Mukjizat Lebih Mudah Dipercaya Ketimbang Manusianya
-
Review Never After Dark: Licik Memainkan Formula Horor yang Sudah Familier
-
Review Film The Scout: Karakternya Menarik Kendati Emosinya Tertahan
Artikel Terkait
-
Review Film Galaksi: Luka Tersembunyi di Balik Sikap Keras Seseorang
-
Review Film Bad and Crazy: Saat Sisi Gelap dan Gila dalam Diri Saling Bertabrakan
-
Tazza: The Song of Beelzebub: Intrik Yakuza, Pengkhianatan, dan Plot Twist Bikin Nahan Napas
-
Plot Twist Mengejutkan di 'The Handmaiden', Ketika Cinta Sesama Jenis Jadi Simbol Perlawanan
-
Mengupas Karakter Kim Seon-ho di 'The Childe': Tersenyum Lebar tapi Bikin Merinding!
Ulasan
-
Ulasan Film Djamin Setia Selamanya: Biopik Sejarah yang Sangat Menggugah!
-
Bukan Film Horor Biasa! Conjurig Tawarkan Sisi Lain Cosplayer Jalanan yang Penuh Air Mata
-
Juhoon Stoic Bukan Cerita Rakyat, Kini Rekomendasikan Buku Karya Seneca
-
Nugas Nyaman Tanpa Bikin Kantong Jebol di Tjap Nyonya 2, Ada Dimsum Murah & Teh Refill!
-
Menelusuri Jejak Sejarah dan Kebudayaan Bondowoso dalam Sebuah Buku
Terkini
-
Polemik Memburu Muhammad: Jangan-Jangan yang Kita 'Buru' Bukan Bukunya, Tapi Asumsi Sendiri?
-
Mengintip Redmi Note 17 Pro Max 5G: Bawa Baterai Jumbo, 100W HyperCharge, dan Bodi Tangguh
-
Proposal Cinta di Bawah Proyek Mangkrak dan Halusinasi Negara
-
HONOR X9e Pro Resmi Rilis, Baterai 11.000 mAh Bikin HP Ini Serasa Membawa Powerbank
-
Di Balik Hiatus One Piece: Menyelamatkan Animator dari Sindrom Kejar Tayang