Malam Satu Suro selalu memiliki tempat yang istimewa dalam budaya Jawa. Bagi sebagian orang, malam ini dianggap sakral sekaligus dihormati melalui berbagai tradisi yang diwariskan turun-temurun. Sayangnya, di tengah perkembangan zaman, masih banyak yang menganggap seluruh tradisi tersebut identik dengan sesuatu yang menyeramkan.
Film Sajen Satu Suro yang rilis bioskop pada 30 Juli 2026 mencoba memainkan anggapan itu, tapi dengan cara yang menarik.
Disutradarai Gatot Subroto, diproduseri Agustinus Sitorus, dan diproduksi PIM Pictures, film berdurasi sekitar 106 menit ini menghadirkan horor yang berakar pada budaya Jawa. Naskahnya ditulis Endik Koeswoyo, Agustinus Sitorus, dan Gatot Subroto. Deretan pemainnya diisi Aisyah Aqila, Cinta Brian, Frislly Herlind, Munggaran Meldrat, Clift Sangra, Yurike Prastika, Harris Syaus, Kevin Abani, Kukuh Prasetya, hingga Aulia Deas.
Ceritanya tertuju pada Tania yang berusaha menyelamatkan ibunya yang sedang berada di ambang kematian. Satu-satunya harapan yang dimilikinya adalah mengembalikan keris peninggalan mendiang kakeknya sebelum malam Satu Suro tiba. Tanpa sepengetahuan sang ayah, Tania berangkat menuju Desa Maduabang bersama Jeff, Laura, dan Robby.
Namun, niat baik itu malah membuka kembali luka lama yang selama bertahun-tahun terkubur. Keris milik Sapto Dilogo dipercaya menjadi pemicu bangkitnya kembali teror Sumarni, sosok Hantu Andong Pengantin yang menyimpan dendam dari masa silam.
Warga desa memasang berbagai sajen di sudut-sudut kampung demi meredam malapetaka, tapi semakin dalam Tania mencari jawaban, semakin jelas akar petaka bukan semata-mata berasal dari dunia gaib, melainkan dari rahasia keluarganya sendiri. Menarik, ya?
Film yang Nggak Lagi Menghakimi Tradisi
Yup, tradisi digambarkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang lahir dari penghormatan kepada leluhur dan upaya menjaga keseimbangan. Sumber masalahnya adalah manusia yang meninggalkan tanggung jawab, menyembunyikan kesalahan, dan membiarkan dosa masa lalu terus membusuk.
Sayangnya, film horor Indonesia seringkali membuat penonton menyimpulkan, ritual dan tradisi selalu berujung kutukan. Sajen, sesajen, atau malam Satu Suro seolah-olah menjadi tanda datangnya makhluk gaib. Padahal, dalam kehidupan masyarakat Jawa, sajen memiliki makna yang jauh lebih luas sebagai tanda penghormatan, rasa syukur, dan pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam serta warisan budaya.
Film ini, minimal, masih memberi ruang untuk melihat, persoalan utamanya bukan tradisinya, melainkan tindakan manusia yang memicu lahirnya dendam.
Konsep itu menarik karena membuat horornya memiliki lapisan yang lebih dalam. Penonton memang dibuat takut oleh kemunculan Sumarni, tapi rasa takut tersebut perlahan berubah menjadi rasa penasaran terhadap apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Teror akhirnya menjadi konsekuensi dari pilihan manusia, bukan hukuman karena menjalankan tradisi.
Nuansa film yang dibangun juga cukup mendukung gagasan tersebut. Desa yang sunyi, rumah-rumah tua, suara gamelan, angin malam, hingga berbagai ritual tradisional membuat ketegangan muncul secara perlahan. Rasa nggak nyaman dibangun sedikit demi sedikit hingga penonton merasa ada sesuatu yang memang nggak beres sejak awal.
Meski begitu, ritme film memang belum sepenuhnya konsisten. Ada beberapa bagian yang berjalan lebih lambat dari yang seharusnya sehingga tensi sedikit turun sebelum kembali meningkat menjelang akhir. Sejumlah karakter pendukung pun masih bisa digali lebih dalam agar konflik emosionalnya memberikan dampak yang lebih kuat.
Terlepas dari kekurangan tersebut, aku justru melihat Film Sajen Satu Suro sebagai pengingat, budaya bukanlah sesuatu yang patut ditakuti. Tradisi lahir karena manusia ingin menjaga hubungan dengan nilai-nilai yang diwariskan leluhur. Ketika tradisi berubah menjadi petaka, penyebabnya bukan sesajen, bukan malam Satu Suro, dan bukan pula ritual yang dijalankan masyarakat. Penyebab utamanya adalah manusia yang menyalahgunakan kepercayaan, menutupi kesalahan, atau enggan mempertanggungjawabkan masa lalunya.
Kalau ada satu pesan yang paling membekas setelah film ini selesai, mungkin bukan soal keberadaan hantu dan teror horornya. Namun, dosa yang disembunyikan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali. Tradisi hanya menjadi panggung. Manusialah yang menentukan apakah panggung itu akan dipenuhi penghormatan atau berubah menjadi awal dari sebuah bencana
Nah, bila Sobat Yoursay penasaran dengan Film Sajen Satu Suro bisa langsung nonton di bioskop, ya. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Review Laut Bercerita: Ketika Luka Sejarah Menolak Tenggelam dalam Ingatan
-
Review Lingsir Wengi: Tembang Jawa, Mitos, dan Teror di Motel Tua Malioboro
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
Artikel Terkait
-
NGORBIT: Wavi Zihan & Ihsan Tarore Ungkap Kisah Mistis di Balik Layar Film Rambut Sewu
-
Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
Ulasan
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik
-
Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel
-
Delapan Belas Cerita, Delapan Belas Cara Mempermainkan Pikiran Pembaca
-
Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah
Terkini
-
SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026
-
Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!
-
Sukses Besar, Serial Carrie Resmi Lanjut Musim 2 Gandeng Mike Flanagan
-
Sinopsis Wild and Radiant, Dracin Romantis Fan Shi Ran dan Qin Xiao Xuan
-
Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan