Lintang Siltya Utami | Dini Sukmaningtyas
Drama Korea Queen of Masks (Viki)
Dini Sukmaningtyas

Awalnya, saya tidak menaruh ekspektasi apa pun terhadap Queen of Masks. Saya mengira drama ini hanya sebatas thriller tentang pembunuhan dan balas dendam yang mainstream.

Namun, semakin saya menonton, semakin terasa bahwa kekuatan utamanya justru terletak pada konflik antar karakter yang kompleks dan penuh kepentingan.

Di balik kisah misteri yang menjadi penggerak cerita, Queen of Masks berbicara tentang ambisi, pengkhianatan, dan rapuhnya kepercayaan. Setiap tokoh memiliki alasan untuk berbohong, menyembunyikan masa lalu, atau mempertahankan citra yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Lewat ulasan Queen of Masks ini, saya ingin membahas mengapa drama tersebut terasa berbeda dari drama thriller lainnya.

Ambisi Mengubah Persahabatan Menjadi Arena Pertarungan

Cerita berpusat pada empat perempuan dengan kehidupan yang tampak sempurna. Do Jae Yi (Kim Sun A) dikenal sebagai pengacara hak asasi manusia, Joo Yoo Jung (Shin Eun Jung) memimpin sebuah yayasan seni.

Sementara itu, Yoon Hae Mi (Yoo Sun) menduduki posisi penting di industri perhotelan, sedangkan Go Yoo Na (Oh Yoon Ah) kembali ke Korea setelah bertahun-tahun meninggalkan negaranya akibat kasus pembunuhan yang menghancurkan hidupnya.

Alih-alih menjadi reuni yang menyenangkan, pertemuan mereka justru membuka kembali luka dan rahasia yang telah lama terkubur.

Kehadiran Go Yoo Na menjadi ancaman bagi kehidupan yang telah susah payah dibangun oleh ketiga sahabatnya. Dari sinilah saya merasa drama ini lebih banyak membahas tentang ambisi daripada sekadar balas dendam.

Tak Ada Topeng yang Bertahan Selamanya

Judul Queen of Masks terasa sangat relevan dengan isi ceritanya. Topeng bukan sekadar simbol, melainkan cara setiap karakter bertahan hidup. Mereka menyembunyikan rasa takut, penyesalan, dan kepentingan masing-masing di balik citra sebagai sosok yang sukses dan terhormat.

Menariknya, drama 16 episode ini tidak terburu-buru mengungkap semua rahasia. Informasi diberikan sedikit demi sedikit sehingga penonton terus mengubah penilaian terhadap setiap karakter.

Menurut saya, pendekatan seperti ini membuat Queen of Masks terasa lebih mature dibanding banyak drama thriller lainnya. Alih-alih mengandalkan kejutan semata, drama ini membangun ketegangan melalui konflik psikologis.

Drama ini memperlihatkan bahwa hubungan yang dibangun di atas kebohongan memang sekilas tampak kokoh, tetapi sangat rapuh ketika kebenaran mulai mencari jalannya.

Layak Ditonton bagi Penikmat Thriller Psikologis

Kalau mencari drama dengan adegan romantis yang mendominasi cerita, Queen of Masks mungkin bukan pilihan yang tepat. Namun, jika menyukai thriller yang tidak hanya mengandalkan plot twist, drama ini layak masuk daftar tontonan.

Porsi kisah cintanya tidak menjadi fokus utama. Drama ini menonjolkan intrik antar karakter, permainan kepentingan, serta misteri yang perlahan terurai hingga akhir episode.

Kekuatan lain drama ini terletak pada akting para pemainnya. Kim Sun A, Oh Yoon Ah, Shin Eun Jung, dan Yoo Sun mampu menghadirkan emosi yang terasa alami.

Drama ini tidak mengajak penonton untuk mencari siapa yang pahlawan dan siapa yang penjahat. Akan tetapi, penonton diajak memahami bahwa keputusan-keputusan buruk sering kali lahir dari rasa takut kehilangan, ambisi mempertahankan posisi, atau keinginan menutupi kesalahan masa lalu.

Ketika semua tokoh memiliki motif yang masuk akal, cerita menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar permainan mencari pelaku.

Lebih dari sekadar misteri pembunuhan, Queen of Masks mengajak penonton melihat bahwa ambisi dapat mengubah manusia, sementara kebenaran selalu menemukan jalannya untuk terungkap.