Masih ada anggapan yang cukup kuat di tengah masyarakat bahwa ketika seorang anak mulai sulit diatur, sering melanggar aturan, atau terjerumus dalam pergaulan yang buruk, solusi terbaik adalah mengirimnya ke pesantren. Seolah-olah begitu melewati gerbang pesantren, seluruh masalah perilaku akan selesai dengan sendirinya.
Jika orang tua yang setiap hari hidup bersama anak saja kewalahan membimbingnya, mengapa berharap pengasuh pesantren yang menangani puluhan bahkan ratusan santri mampu mengubah karakter anak secara instan?
Pendidikan bukanlah proses yang dapat dipindahkan begitu saja kepada lembaga lain. Karakter dibangun sejak kecil melalui kebiasaan yang terus diulang di rumah, bukan hanya melalui aturan yang diterapkan di sekolah atau pesantren.
Bukan berarti pesantren tidak mampu mendidik. Justru banyak pesantren yang berhasil melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan mandiri. Namun, keberhasilan itu umumnya lahir dari kerja sama antara keluarga dan lembaga pendidikan, bukan karena seluruh tanggung jawab diserahkan kepada pesantren.
Masalah muncul ketika pesantren diperlakukan layaknya "bengkel perbaikan anak". Anak yang sudah lama tidak dibiasakan salat, tidak pernah diajarkan disiplin, terbiasa melawan orang tua, bahkan memiliki berbagai persoalan perilaku, tiba-tiba diharapkan berubah hanya karena berganti lingkungan.
Harapan seperti ini sering kali tidak realistis.
Di sisi lain, kehidupan di pesantren juga memiliki keterbatasan. Seorang pengasuh atau musyrif harus membimbing banyak santri dalam waktu yang sama. Perhatian yang diberikan tentu tidak bisa seintensif perhatian orang tua kepada anaknya sendiri. Pengurus pesantren bekerja keras mendampingi para santri, tetapi mereka tidak mungkin menggantikan peran keluarga sepenuhnya.
Karena itu, akar persoalan tetap berada di rumah. Pendidikan agama pertama kali bukan berlangsung di ruang kelas, melainkan di ruang keluarga. Anak belajar salat dari orang tuanya. Anak belajar berkata jujur dari sikap ayah dan ibunya. Anak belajar menghormati orang lain dari contoh yang ia lihat setiap hari. Semua itu tidak bisa digantikan oleh lembaga pendidikan mana pun.
Ironisnya, ada sebagian orang tua yang baru mengingat pentingnya pendidikan agama ketika anak sudah bermasalah. Padahal, membangun kebiasaan beribadah, mengajarkan adab, melatih tanggung jawab, dan menanamkan disiplin seharusnya dimulai sejak usia dini. Ketika fondasi ini lemah, lembaga pendidikan akan menghadapi pekerjaan yang jauh lebih berat.
Bukan berarti anak yang pernah berbuat salah tidak dapat berubah di pesantren. Banyak kisah yang menunjukkan sebaliknya. Namun, perubahan itu biasanya terjadi karena ada dukungan dari keluarga, kemauan anak untuk berubah, serta lingkungan pendidikan yang kondusif. Ketiga unsur tersebut saling melengkapi, bukan berdiri sendiri.
Yang perlu diubah adalah cara pandang masyarakat terhadap pendidikan. Pesantren bukan tempat "membuang" anak bermasalah. Pesantren adalah lembaga pendidikan yang dirancang untuk memperdalam ilmu agama, membentuk akhlak, dan melatih kemandirian. Agar tujuan itu tercapai, keluarga harus terlebih dahulu menanamkan fondasi yang kuat.
Orang tua tetap merupakan pendidik pertama dan utama. Sekolah, madrasah, maupun pesantren hanyalah mitra dalam proses tersebut. Ketika keluarga menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada lembaga pendidikan, yang terjadi bukan pembagian peran, melainkan pelepasan tanggung jawab.
Pada akhirnya, tidak ada lembaga yang mampu menggantikan peran rumah. Anak yang sejak kecil dibesarkan dengan kasih sayang, keteladanan, disiplin, dan pendidikan agama yang konsisten akan lebih siap menerima pembinaan di mana pun ia belajar.
Sebaliknya, jika fondasi itu rapuh, pesantren pun tidak bisa diharapkan menjadi solusi instan. Pendidikan karakter selalu dimulai dari rumah, lalu diperkuat oleh sekolah dan pesantren, bukan sebaliknya.
Baca Juga
-
Mampukah Indonesia Bangkit? Mencari Jalan Keluar dari Krisis
-
Memutus Lingkaran Setan Pungli: Negara Bukan Tempat yang Layanannya Ditentukan Isi Dompet
-
Kritik Tajam di Buku Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta
-
Di Antara Soeharto dan Reformasi: Bedah Buku 'Bersaksi di Tengah Badai' Jenderal Wiranto
-
Petite Histoire Indonesia Jilid 3: Menyusuri Kisah yang Luput dari Sejarah
Artikel Terkait
Kolom
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Di Balik Putusan MK soal Gibran, Rakyat Cuma Penonton dalam Konflik Elite
-
Memutus Lingkaran Setan Pungli: Negara Bukan Tempat yang Layanannya Ditentukan Isi Dompet
-
Jerat "Child Grooming" Makin Berbahaya, Orang Tua Harus Menyelamatkan Anak
-
Dilema Sandwich Generation: Ketika Memilih Diri Sendiri Terasa Sangat Egois
Terkini
-
I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Comeback dengan Lagu Stay, Yuqi i-dle Yakin Hari Esok Pasti Akan Lebih Baik
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau