Gunung seolah-olah nggak pernah kehilangan daya tarik jadi latar film horor di Indonesia. Berganti judul, berganti tokoh, bahkan berganti generasi penonton, tempat yang dipilih tetap sama: jalur pendakian, hutan lebat, kabut tebal, dan berbagai pantangan yang nggak boleh dilanggar.
Menariknya, formula tersebut masih terus bertahan hingga sekarang. Padahal, kalau dipikir-pikir, kisah sekelompok anak muda yang mendaki gunung lalu diteror makhluk gaib sudah berkali-kali diangkat ke layar lebar. Namun, setiap kali ada film baru bertema pendakian, rasa penasaran penonton selalu muncul kembali.
Salah satu contoh terbarunya adalah Petaka Gunung Welirang yang rilis bioskop sejak 2 Juli 2026. Film horor produksi Starvision ini disutradarai Indra Gunawan. Naskahnya ditulis Upi Avianto bersama Maya Azka, yang mengangkat pengalaman mistis sebagai inspirasi cerita. Film ini dibintangi Antonio Blanco Jr., Giulio Parengkuan, Alika Jantinia, Razan Zu, dan Jinan Safa, dengan dukungan Ramon Y. Tungka, Agus Kuncoro, Hana Saraswati, serta sejumlah pemain lainnya.
Ceritanya mengikuti lima sahabat yang memutuskan mendaki Gunung Welirang untuk merayakan kelulusan mereka. Perjalanan yang awalnya dipenuhi canda dan rencana masa depan perlahan berubah menjadi mimpi buruk ketika mereka memasuki Alas Lali Jiwo, kawasan misterius yang dipercaya menjadi gerbang menuju dunia lain.
Suara gamelan yang menggema tanpa asal, sosok-sosok asing yang mengawasi dari balik pepohonan, hingga peristiwa ganjil yang sulit dijelaskan mulai menghantui langkah mereka. Pendakian yang semula menjadi titik kebebasan malah berubah menjadi perjuangan bertahan hidup ketika mereka terpisah dan terseret ke dalam wilayah gaib yang berada di bawah kuasa Sang Ratu, penguasa mistis Gunung Welirang.
Dalam situasi itu, mereka nggak hanya harus menemukan jalan keluar, tapi juga menghadapi konflik, rasa bersalah, dan keretakan persahabatan yang selama ini mereka pendam. Akankah mereka selamat dari serangan mistis? Tontonlah di bioskop sebelum turun layar.
Mengapa Latar Film Horor di Indonesia Selalu Kembali ke gunung?
Jawabannya mungkin jauh lebih dalam, nggak cuma karena gunung identik dengan tempat angker.
Gunung dalam mitos di Indonesia bukan hanya bentang alam. Hampir setiap daerah memiliki cerita tentang gunung yang dihuni makhluk gaib, kerajaan nggak kasatmata, penunggu, hingga pantangan yang diperingatkan turun-temurun. Cerita-cerita tersebut hidup berdampingan dengan masyarakat bahkan sebelum film horor di Indonesia berkembang seperti sekarang.
Akibatnya, sineas nggak perlu bekerja terlalu keras membangun rasa takut. Ketika penonton melihat sebuah rombongan mulai mendaki gunung, sebagian besar dari kita sudah otomatis membawa bekal ketakutan dari berbagai cerita yang pernah didengar sejak kecil.
Inilah yang membedakan gunung dengan lokasi horor lain. Rumah berhantu, misalnya, harus lebih dulu meyakinkan penonton tempat itu menyeramkan. Set gedung kosong membutuhkan sejarah kelam agar terasa mengancam. Sebaliknya, gunung sudah memiliki aura misterius bahkan sebelum cerita dimulai. Alamnya yang luas, jalurnya yang mudah membuat orang tersesat, cuaca yang berubah tanpa peringatan, hingga minimnya akses bantuan membuat rasa takut muncul secara alami, bahkan tanpa kehadiran hantu sekalipun.
Di sinilah menurutku banyak film horor pendakian sering disalahpahami. Banyak orang menganggap film-film semacam ini hanya menjual penampakan. Padahal, kalau diperhatikan lebih saksama, hantu sering kali bukan ancaman utamanya.
Ancaman terbesar malahan dari manusia itu sendiri. Ketika berada di gunung, semua topeng perlahan runtuh. Ego muncul. Kepanikan mengambil alih logika. Rasa bersalah yang selama ini disembunyikan mulai menghantui pikiran. Persahabatan diuji oleh keputusan-keputusan yang harus diambil dalam waktu singkat. Gunung seolah-olah memaksa setiap karakter menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
Hal inilah yang menurutku berhasil dimanfaatkan Film Petaka Gunung Welirang. Film ini memang masih memakai formula yang sudah sangat akrab. Sekelompok sahabat mendaki, melanggar batas yang seharusnya dihormati, lalu diteror kekuatan gaib. Namun, teror tersebut nggak berdiri sendiri. Kehadiran makhluk gaib juga menjadi pemicu hubungan antarkarakter berubah ketika mereka berada di situasi ekstrem.
Gunung hanyalah panggung. Yang membuat cerita tetap hidup adalah manusia yang berdiri di atasnya. Mungkin itulah alasan mengapa film horor Indonesia terus kembali ke gunung. Bukan semata-mata karena tempatnya angker, melainkan karena gunung adalah wilayah yang mampu mempertemukan dua ketakutan sekaligus: ketakutan terhadap sesuatu yang nggak terlihat dan ketakutan menghadapi sisi paling rapuh dalam diri manusia.
Selama dua rasa takut itu masih mampu menyentuh penonton, gunung tampaknya akan jadi set film horor di Indonesia sampai kapan pun. Betewe, Sobat Yoursay sudah nonton Film Petaka Gunung Welirang? Bagikan pendapatmu tentang film ini, yuk!
Baca Juga
-
The Death of Robin Hood: Sulitnya Menerima Sisi Gelap Orang yang Dikagumi
-
Review Enola Holmes 3: Lebih Dewasa, Emosional, dan Penuh Misteri
-
Cinta Lama Babak Kedua #CLBK: Apakah Kita Bisa Melupakan Cinta Pertama?
-
Mengurai Surat Cinta Sinema yang Tersirat dalam Film Minions & Monsters
-
Bisakah Komedi Menggantikan Buku Sejarah? Ini Pendapat Saya Setelah Menonton Serial Larry David
Artikel Terkait
-
Bukan Sekadar Film Drama, Film Agape Mengajarkan Arti Cinta Tanpa Syarat yang Sesungguhnya
-
Gunung Apa yang Paling Mematikan di Indonesia?
-
Apakah Gunung Anak Krakatau Boleh Dikunjungi?
-
Gunung Anak Krakatau Siaga, Badan Geologi: Isu Tsunami Hoaks, Warga Banten-Lampung Harap Tenang
-
Jangan Tertipu! Video Erupsi Anak Krakatau Itu Hoaks, Ini Radius Bahaya yang Sebenarnya
Ulasan
-
Cinta Paling Rumit: Bukan Sekadar Kisah Romansa, Ini Refleksi Luka dan Harapan Kita
-
Bukan Sekadar Film Drama, Film Agape Mengajarkan Arti Cinta Tanpa Syarat yang Sesungguhnya
-
The Death of Robin Hood: Sulitnya Menerima Sisi Gelap Orang yang Dikagumi
-
Rahasia Batik Berdarah: Sisi Gelap Kota Pelajar yang Disembunyikan di Balik Kain Tradisional
-
Gaya John Wick di Bollywood? 'Alpha' Sajikan Visual Spionase Kelas Dunia yang Memanjakan Mata
Terkini
-
Di Balik Pesona Jaguar Meksiko: Mengapa Maskot Piala Dunia 2026 Membawa Pesan Konservasi?
-
Film Anime Orisinal ghost Garapan MADHOUSE Ungkap Judul Resmi, Tayang 2027
-
Saat Gelar Tak Lagi Jadi Tiket Masuk: Realita Pahit Dunia Kerja Bagi Lulusan Baru
-
Benamkan Kanada, Maroko Buka Peluang Menuju Final Piala Dunia 2026?
-
Ironi Kelas Pekerja Indonesia: Hidup Mode Survival Meski Kerja Full Time