Kalau ditanya pengalaman yang paling berkesan selama naik transportasi umum, sebenarnya bukan satu kejadian yang besar atau luar biasa. Justru yang paling membekas adalah hal-hal kecil yang mungkin sering dianggap biasa oleh banyak orang.
Aku hampir setiap hari menggunakan transportasi umum, terutama KRL, untuk berangkat ke kampus, magang, atau sekadar pergi ke pusat kota. Lama-kelamaan, naik kereta sudah jadi bagian dari rutinitasku. Sampai akhirnya aku sadar, setiap perjalanan ternyata selalu punya cerita.
Salah satu yang paling aku ingat terjadi saat jam pulang kerja. Gerbong KRL waktu itu benar-benar penuh. Semua orang terlihat lelah setelah menjalani aktivitas seharian. Ada yang sibuk melihat ponsel, ada yang tertidur sambil berdiri, ada juga yang masih membuka laptop karena mungkin pekerjaannya belum selesai.
Di salah satu stasiun, masuk seorang ibu yang menggendong anak kecil. Kondisinya cukup ramai sehingga beliau kesulitan mencari tempat berdiri yang nyaman. Belum sempat petugas mengingatkan, seorang penumpang yang duduk langsung berdiri dan memberikan kursinya. Penumpang lain juga ikut membantu membawakan tas si ibu agar lebih mudah masuk ke dalam gerbong.
Kelihatannya sederhana, ya. Tapi momen itu cukup membekas buatku.
Di kota yang serba cepat seperti Jakarta, ternyata masih banyak orang yang peduli dengan orang lain meskipun mereka tidak saling mengenal. Dari situ aku sadar kalau transportasi umum bukan cuma tempat untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi juga tempat kita belajar hidup berdampingan dengan banyak orang.
Setiap naik transportasi umum, aku selalu bertemu orang dengan latar belakang yang berbeda. Ada mahasiswa yang buru-buru mengejar kelas pagi, pekerja kantoran yang baru pulang lembur, pedagang yang membawa banyak barang, sampai orang tua yang tetap semangat bepergian sendiri. Walaupun tujuan kami berbeda, beberapa puluh menit di dalam satu gerbong membuat kami menjadi bagian dari perjalanan yang sama.
Mungkin terdengar sepele, tapi dari situ aku belajar untuk lebih sabar. Belajar mengantre, memberi jalan saat orang akan turun, tidak memaksakan masuk ketika kereta sudah penuh, sampai memahami bahwa ruang publik memang harus dipakai bersama-sama.
Itulah kenapa sampai sekarang aku tetap memilih menggunakan transportasi umum.
Alasan pertama tentu karena lebih praktis. Dibanding harus membawa kendaraan sendiri dan menghadapi macet yang kadang tidak bisa diprediksi, naik KRL atau transportasi umum lain jauh lebih nyaman buatku. Jadwalnya jelas, waktunya juga lebih mudah diperkirakan, jadi aku bisa mengatur aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.
Selain itu, transportasi umum juga jauh lebih hemat. Sebagai mahasiswa yang masih harus mengatur pengeluaran setiap bulan, selisih biaya antara menggunakan kendaraan pribadi dan transportasi umum cukup terasa. Uang yang tadinya bisa habis untuk bensin dan parkir, akhirnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain, seperti makan, membeli buku, atau sekadar ditabung.
Yang paling penting, aku merasa menggunakan transportasi umum adalah salah satu cara sederhana untuk ikut berkontribusi mengurangi kemacetan dan polusi.
Aku tahu, keputusan satu orang mungkin tidak akan langsung mengubah kondisi jalanan. Tapi kalau semakin banyak orang berpikir seperti itu, dampaknya pasti akan terasa. Jalanan bisa lebih lengang, kualitas udara lebih baik, dan kota juga menjadi lebih nyaman untuk ditinggali.
Beberapa tahun terakhir aku juga melihat perkembangan transportasi umum di Indonesia cukup pesat. Stasiun-stasiun semakin nyaman, sistem pembayaran semakin mudah, integrasi antarmoda juga mulai terasa. Sekarang berpindah dari KRL ke MRT, LRT, TransJakarta, atau bus lain sudah jauh lebih praktis dibanding beberapa tahun lalu.
Perubahan itu membuatku optimis bahwa transportasi umum di Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih baik. Meskipun begitu, tentu masih ada harapan yang ingin aku lihat ke depannya.
Aku berharap transportasi umum tidak hanya berkembang di kota-kota besar, tetapi juga bisa dinikmati masyarakat di daerah lain. Masih banyak orang yang sebenarnya ingin menggunakan transportasi umum, tetapi pilihannya belum banyak atau aksesnya masih terbatas.
Aku juga berharap konektivitas antarmoda semakin baik. Kadang perjalanan justru terasa lebih lama bukan karena berada di dalam kereta atau bus, tetapi karena harus berpindah dari satu moda ke moda lain. Kalau proses perpindahannya semakin mudah, tentu masyarakat akan semakin tertarik menggunakan transportasi umum.
Selain fasilitas, menurutku budaya pengguna transportasi umum juga perlu terus dibangun. Aku berharap semakin banyak orang yang sadar untuk mengantre, menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, memberikan kursi kepada yang membutuhkan, dan saling menghargai selama perjalanan. Karena sebaik apa pun fasilitas yang disediakan, kalau penggunanya tidak ikut menjaganya, kenyamanan itu tidak akan bertahan lama.
Buatku, transportasi umum bukan lagi sekadar pilihan untuk menghemat biaya atau menghindari macet. Ada banyak pelajaran yang tanpa sadar aku dapatkan selama menjadi penumpang. Aku belajar menghargai waktu, belajar lebih sabar, belajar berbagi ruang dengan orang lain, dan belajar bahwa perubahan bisa dimulai dari kebiasaan yang sederhana.
Semoga ke depannya semakin banyak masyarakat yang menjadikan transportasi umum sebagai pilihan utama, bukan karena terpaksa, tetapi karena memang nyaman, aman, mudah dijangkau, dan bisa diandalkan.
Kalau semakin banyak orang mulai memilih transportasi umum, aku yakin Indonesia bisa memiliki sistem transportasi yang bukan hanya modern, tetapi juga menjadi kebanggaan bersama. Dan mungkin, perubahan itu memang dimulai dari keputusan sederhana yang kita ambil setiap hari, yaitu memilih naik transportasi umum.
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya: Perjalanan Berdamai dengan Luka Masa Lalu
-
Menemukan Keajaiban dalam Hari yang Biasa: Mengapa Buku Fireworks Begitu Istimewa
-
Reborn Rookie: Kisah Konglomerat yang Terlahir Kembali sebagai Karyawan Baru
-
Kopi Kiwa: Menyesap Sensasi Kopi Premium di Pinggir Jalan GOR Kota Jambi
-
Ulasan Series Running Point, Ketika Ratu Pesta Menjadi Presiden Klub Basket
Terkini
-
Lee Do Hyun Resmi Gabung Lee Byung Hun dan Go Youn Jung dalam Film Nambeol
-
5 Tone Up Sunscreen untuk Kulit Berminyak: Anti Lengket, No White Cast!
-
Mengejar Pajak Motor Sampai Pertamina, Giliran Koruptor Hanya Kias Semata
-
Skip Jakarta! Young K Day6 Umumkan Jadwal Tur Konser Solo Bertajuk Youngest
-
Profil Pau Cubarsi, Bek Spanyol yang Raih Penghargaan Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2026