Forest of Noise: Poems merupakan kumpulan puisi kedua karya penyair Palestina, Mosab Abu Toha, yang lahir dari pengalaman nyata hidup di tengah perang di Gaza.
Buku ini ditulis ketika serangan militer menghancurkan rumahnya, meruntuhkan perpustakaan yang ia bangun untuk masyarakat, serta memaksa dirinya dan keluarga mengungsi demi keselamatan.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, Abu Toha tetap menulis puisi sebagai cara mendokumentasikan pengalaman hidup sekaligus menjaga ingatan tentang rumah, keluarga, dan kemanusiaan.
Kumpulan puisi ini tidak hanya merekam suara perang, tetapi juga menghadirkan potret keseharian yang sering luput dari perhatian, seperti kasih sayang orang tua kepada anak, kenangan masa kecil, hingga harapan sederhana yang terus bertahan di tengah kehancuran.
Salah satu kekuatan utama Forest of Noise terletak pada kemampuannya mengubah pengalaman pribadi menjadi sesuatu yang terasa universal. Abu Toha tidak menulis dengan bahasa yang rumit atau penuh simbol yang sulit dipahami.
Sebaliknya, ia memilih diksi yang lugas, tenang, dan jujur sehingga setiap puisi terasa seperti kesaksian langsung dari seseorang yang mengalami peristiwa tersebut. Kesederhanaan inilah yang justru membuat puisinya memiliki daya pukul emosional yang sangat kuat.
Pembaca tidak hanya membaca tentang perang, tetapi juga diajak menyaksikan bagaimana kehidupan sehari-hari perlahan berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.
Di sepanjang buku, perang tidak hanya digambarkan melalui ledakan, reruntuhan bangunan, atau suara pesawat tempur. Abu Toha memperlihatkan bagaimana konflik juga merampas hal-hal kecil yang sering dianggap biasa.
Sebuah rumah bukan lagi sekadar bangunan, melainkan tempat menyimpan kenangan. Sebuah pohon jeruk menjadi simbol hubungan antargenerasi.
Lagu yang dinyanyikan seorang ibu kepada anak-anaknya berubah menjadi cara mengalihkan rasa takut ketika bom jatuh di sekitar mereka. Kontras antara kenangan damai dan kenyataan perang inilah yang menjadi ciri paling menonjol dalam kumpulan puisi ini.
Dari segi bahasa, Forest of Noise menawarkan gaya penulisan yang sederhana tetapi puitis. Abu Toha tidak berusaha memperindah penderitaan secara berlebihan.
Ia justru membiarkan fakta-fakta berbicara melalui gambaran yang jernih dan penuh keheningan. Banyak puisinya terasa seperti catatan harian, tetapi setiap larik menyimpan lapisan makna yang lebih dalam.
Kesederhanaan bahasa membuat buku ini dapat dinikmati oleh pembaca yang belum terbiasa membaca puisi sekalipun, sementara pembaca yang akrab dengan sastra tetap dapat menemukan simbol dan refleksi yang kaya.
Keunggulan lain buku ini adalah kemampuannya menghadirkan sisi kemanusiaan di tengah konflik. Abu Toha tidak hanya berbicara tentang kehilangan, tetapi juga tentang cinta kepada keluarga, kerinduan terhadap rumah, serta usaha mempertahankan harapan dalam situasi yang tampaknya mustahil.
Karena itu, buku ini tidak terasa sebagai kumpulan puisi yang hanya berisi kesedihan. Di balik setiap luka, masih ada ruang bagi kasih sayang, kenangan, dan keyakinan bahwa identitas seseorang tidak dapat dihancurkan hanya oleh perang.
Meski demikian, buku ini juga memiliki tantangan bagi sebagian pembaca. Tema yang diangkat sangat berat dan emosional sehingga beberapa puisi dapat terasa menguras perasaan.
Tidak ada banyak jeda yang memberikan suasana ringan karena hampir seluruh isi buku bergerak di sekitar kehilangan, pengungsian, kematian, dan ketidakpastian.
Pembaca yang mengharapkan puisi dengan nuansa romantis atau refleksi yang lebih ringan mungkin akan merasa buku ini cukup melelahkan secara emosional. Selain itu, beberapa referensi budaya dan pengalaman khas Palestina mungkin memerlukan pemahaman konteks agar maknanya dapat sepenuhnya dipahami.
Namun, justru keberanian Abu Toha menulis dari pengalaman nyata membuat Forest of Noise memiliki nilai yang berbeda dibandingkan banyak karya puisi kontemporer lainnya.
Buku ini tidak sekadar menyampaikan opini atau menggambarkan peristiwa, melainkan menjadi arsip emosional tentang bagaimana manusia bertahan ketika segala sesuatu yang dicintainya perlahan menghilang.
Setiap puisi menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka korban perang selalu ada keluarga, rumah, mimpi, dan kehidupan yang nyata.
Secara keseluruhan, Forest of Noise merupakan kumpulan puisi yang kuat, jujur, dan menggugah. Mosab Abu Toha berhasil memadukan kesederhanaan bahasa dengan kedalaman emosi sehingga setiap puisi meninggalkan kesan yang lama setelah halaman terakhir ditutup.
Baca Juga
-
Review Serafina Makes Waves: Buku Bergambar Penuh Tawa dan Pelajaran Hidup
-
Tiny Garden: Buku Bergambar yang Mengajarkan Bahagia Lewat Hal-Hal Kecil
-
The Great Escape, Buku Bergambar tentang Keajaiban dan Kekacauan Saudara
-
Another Word for Neighbor, Buku Anak yang Mengajarkan Empati Sejak Dini
-
Magic Cat Leave the Trees, Please: Puisi Indah untuk Menyelamatkan Bumi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Serafina Makes Waves: Buku Bergambar Penuh Tawa dan Pelajaran Hidup
-
Forrest Gump: Kebijaksanaan Emosional di Tengah Turbulensi Sejarah
-
Review Novel Hyouka: Misteri Sederhana yang Menyimpan Rahasia 33 Tahun
-
Ulasan A Model Family: Menimbang Moralitas di Tengah Desakan Kehidupan
-
Bicara Boleh Biasa, Perform yang Menentukan: Jago MC ala Ongky Hojanto
Terkini
-
Tayang 2027, Anime Bertema Musik Studio Cabana Buka Audisi Seiyu Utama Pria
-
Portofolio Digital Jadi Ijazah Baru, Senjata Gen Z Tembus Dunia Kerja?
-
4 Rekomendasi Parfum Lokal Aroma Teh, Cocok untuk relaksasi!
-
Budaya Menghakimi Era Digital: di Balik Layar, Dia Tetaplah Seorang Manusia
-
Cermin Politik Hari Ini: Ketika Fanatisme Memaklumi Etika yang Terabaikan