Film tentang kehilangan biasanya membuat penonton merasa kehilangan bersama karakternya. Masalahnya, film semacam itu bisa melemah ketika terus menambahkan konflik berlapis-lapis. Film Love of Your Life berada di wilayah itu, lho. Film ini punya banyak alasan untuk membuat karakter utama hancur, sampai akhirnya kesedihan yang menumpuk terasa seperti rangkaian peristiwa yang harus dilewati ketimbang jadi pengalaman emosional.
Film Love of Your Life merupakan drama romantis arahan Rachel Morrison, sinematografer yang sebelumnya mendapat nominasi Oscar dan kemudian beralih ke kursi sutradara. Skenarionya ditulis Julia Cox, sementara produksi melibatkan Amazon MGM Studios, General Admission, dan Open Invite Entertainment. Ryan Gosling dan Jessie Henderson tercatat sebagai produser.
Film ini rilis awal di Toronto International Film Festival pada 13 September 2026, disusul nggak lama nantinya di Prime Video. Dan dibintangi Margaret Qualley sebagai Maya, Gabriel Basso sebagai Charlie, Aaron Pierre sebagai Felix, Patrick Schwarzenegger sebagai Jason, serta Catherine Keener sebagai Ruth. Durasi filmnya ±106 menit.
Ceritanya mengikuti Maya, perawat IGD di Boston yang sejak kecil punya hubungan rumit dengan gagasan keluarga. Dia tumbuh dengan pandangan skeptis pada cinta dan bahkan menganggap keputusan memiliki anak sebagai sesuatu yang kurang masuk akal. Pandangan itu mulai berubah ketika Maya bertemu Charlie, mahasiswa doktoral yang hangat dan berasal dari keluarga yang jauh lebih dekat dibandingkan pengalaman Maya sendiri.
Pertemuan mereka berkembang jadi hubungan serius. Charlie perlahan menjadi tempat Maya merasa memiliki rumah. Keduanya kemudian menikah, dan kehidupan yang sebelumnya asing bagi Maya mulai menemukan bentuknya.
Kebahagiaan itu berubah ketika pandemi COVID-19 datang. Sebagai perawat IGD, Maya berada di tengah situasi rumah sakit yang penuh tekanan. Charlie sendiri memiliki asma sehingga risiko infeksi jadi persoalan besar. Maya akhirnya harus menghadapi kondisi yang paling ditakuti ketika Charlie jatuh sakit dan meninggal dunia.
Kehilangan itu menghancurkan kehidupan Maya. Ruth, ibu Charlie, ikut meluapkan kemarahan kepadanya. Maya kemudian membawa rasa bersalah itu selama bertahun-tahun sebelum akhirnya meninggalkan Boston dan pergi ke Portugal, tempat yang sebelumnya ingin dikunjunginya bersama Charlie.
Di sana, hidup Maya bergerak tanpa arah sampai dia bertemu Felix, pria yang juga punya pengalaman kehilangan dalam kehidupannya.
Hubungan baru tersebut perlahan membuka kemungkinan bagi Maya untuk mencintai lagi. Felix memiliki anak dan kehidupan yang berbeda dari Charlie. Maya kembali melihat bentuk keluarga yang pernah dia temukan. Kehadiran Jason, sahabat lamanya, kemudian ikut membuka kembali bagian masa lalu yang selama ini dia hindari. Perjalanan Maya akhirnya bergerak menuju proses menerima bahwa hidup baru tidak harus berarti menghapus kehidupan yang pernah dirinya miliki bersama Charlie.
Film yang Terlalu Sibuk Mengoleksi Tragedi
Maya punya masa kecil yang bermasalah, termasuk ketika dewasa. Semua konflik secara terpisah sebenarnya punya potensi jadi pusat drama emosional.
Masalahnya, film terus bergerak. Satu luka belum mengendap, luka berikutnya sudah datang. Penonton baru saja diajak memahami hubungan Maya dan Charlie, lalu harus menghadapi pandemi. Baru mulai memahami rasa bersalah Maya, cerita membawanya ke Portugal. Ketika hubungan dengan Felix mulai berkembang, masa lalu kembali masuk dan membuka lapisan persoalan lain. Hasilnya seperti akumulasi penderitaan.
Semakin banyak tragedi yang diberikan pada Maya, semakin sulit bagi satu tragedi untuk dijadikan pusat emosi. Charlie meninggal adalah kehilangan terbesar dalam cerita. Seharusnya peristiwa itu memiliki ruang yang sangat panjang untuk membekas. Namun. film kemudian harus membawa Maya ke banyak tempat, memperkenalkan hubungan baru, karakter baru, serta luka baru.
Film ini memang punya banyak hal untuk diceritakan tentang duka, cinta, keluarga, rasa bersalah, dan kesempatan untuk memulai kembali. Namun, jujur saja, semua konflik saling bertumpuk.
Ini hanya soal selera. Jika Sobat Yoursay berbeda pendapat, nggak masalah. Selamat menonton.
Tag
Baca Juga
-
Review Laut Bercerita: Ketika Luka Sejarah Menolak Tenggelam dalam Ingatan
-
Review Lingsir Wengi: Tembang Jawa, Mitos, dan Teror di Motel Tua Malioboro
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
Artikel Terkait
-
Review The Longest Wait: Skuad Lokal dan Diaspora dalam Satu Impian Bersama
-
Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan Ini, Ada Laut Bercerita hingga The Intern
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
Ulasan
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik
-
Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel
-
Delapan Belas Cerita, Delapan Belas Cara Mempermainkan Pikiran Pembaca
-
Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah
Terkini
-
SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026
-
Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!
-
Sukses Besar, Serial Carrie Resmi Lanjut Musim 2 Gandeng Mike Flanagan
-
Sinopsis Wild and Radiant, Dracin Romantis Fan Shi Ran dan Qin Xiao Xuan
-
Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan