Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika aktivitas di pesisir Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, sudah dimulai. Di antara hamparan petak-petak tanah dan palung kayu kelapa yang berjajar di tepi pantai, warga sudah bergerak mengangkut air laut, menyaring, dan menata palungnya masing-masing. Inilah wajah keseharian para petani garam Desa Les, penghasil garam palungan yang namanya diwariskan turun-temurun dari proses pengolahannya yang khas.
Di tengah aktivitas itu, ada satu nama yang belakangan menjadi penggerak penting: Nyoman Nadiana. Ia dipercaya menjabat sebagai Penggerak atau Local Champion dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA) di Desa Les, sosok yang menjembatani tradisi lama petani garam dengan peluang ekonomi yang lebih luas melalui program pemberdayaan yang digagas Astra sejak desa ini bergabung pada 2024.
Bagi warga Desa Les, garam bukan sekadar komoditas. Ia adalah warisan yang sudah dijalani hingga empat generasi oleh sebagian keluarga petani setempat. Prosesnya sepenuhnya mengandalkan alam: air laut murni dan sinar matahari yang menyengat sepanjang hari. Air laut diambil dan disebar di petak-petak tanah agar menguap secara alami, sebelum disaring menggunakan wadah tradisional berbentuk kerucut yang disebut tinjung — dianyam dari bambu, kadang dilapisi daun lontar dan pasir halus. Air saringan yang disebut nyah kemudian dituang ke dalam palung, wadah dari batang kelapa yang dibentuk menyerupai perahu, dan dijemur hingga mengkristal menjadi butiran garam siap panen.
“Proses produksi sangat mengandalkan cahaya matahari,” ujar Nyoman Nadiana, menggambarkan betapa hasil panen sangat bergantung pada cuaca. Dalam kondisi optimal, satu kali proses penjemuran bisa menghasilkan puluhan kilogram garam, sementara secara total produksi warga desa dapat mencapai dua hingga tiga ton garam dalam satu musim panen.
Tantangannya bukan pada proses produksi, melainkan pada pemasaran. Selama bertahun-tahun, garam palungan Desa Les lebih banyak dijual dalam kemasan sederhana dan jangkauan pasar yang terbatas, meski kualitasnya diakui dan telah menarik perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi. Di titik inilah peran Nyoman Nadiana dan program Desa Sejahtera Astra terasa nyata. Melalui kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat, garam hasil olahan petani kini disalurkan untuk proses pengemasan yang lebih modern dan menarik, lengkap dengan branding khas Desa Les, sebelum didistribusikan ke pasar yang lebih luas. Bahkan kini garam tersebut hadir dalam beberapa varian rasa, membuka peluang menyasar segmen konsumen yang lebih beragam.
Perubahan ini tidak berdiri sendiri. Program Desa Sejahtera Astra di Desa Les berjalan berdampingan dengan tiga bidang lain: lingkungan, melalui konservasi terumbu karang dan pengelolaan sampah warga; kesehatan, lewat layanan Posyandu dan penanganan stunting; serta pendidikan, melalui pelatihan bahasa Inggris bagi generasi muda yang disiapkan menjadi pemandu wisata. Namun di sektor kewirausahaan, sosok seperti Nyoman Nadiana menjadi penghubung penting yang memastikan potensi ekonomi warga pesisir tidak hilang ditelan zaman, sekaligus tidak tertinggal dari perkembangan desa wisata yang kini tumbuh pesat di Desa Les.
Upaya kolektif ini membuahkan hasil. Desa Les tercatat meraih predikat Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dari Kementerian Pariwisata, sebuah pengakuan atas keseimbangan antara pelestarian budaya, lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi warga. Program yang menjangkau ratusan hingga ribuan warga ini pun disebut turut mendorong peningkatan pendapatan masyarakat setempat.
Bagi petani garam seperti yang digerakkan Nyoman Nadiana, pengakuan itu bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah memastikan tradisi yang telah dijalani leluhur mereka tetap punya tempat di tengah gempuran modernisasi — bahwa sebutir garam dari palungan sederhana di tepi Pantai Desa Les tetap bisa sampai ke meja makan yang jauh lebih luas, membawa serta kisah tentang matahari, laut, dan ketekunan warga yang menjaga warisannya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Bulan Terbaik untuk Liburan ke Bali, Kapan Waktu yang Paling Ideal?
-
Rahasia Garam Desa Les: Mineral Alami dari Tanah Beda dari Garam Biasa
-
Bukan di Dalam Museum, Ini "Sekolah" Budaya Paling Nyata di Ujung Timur Jawa
-
Chatib Basri Dikabarkan Jadi Kandidat Kuat Gubernur PFII, Prabowo Segera Tentukan Pilihan
-
Dari Desa Wisata Menuju Lestari, Cara Kemiren Belajar Mencintai Lingkungan
News
-
Syiar Muhammadiyah di Papua Barat: Rektor UMPB Pastikan RTL Baitul Arqam Berjalan Tuntas
-
Riset Terbaru: Siram Atap dengan Air Hujan Terbukti Tekan Penggunaan AC saat Gelombang Panas
-
Disuruh Jajan demi Selamatkan Negara? Dompet Kita: Giliran Gue Lagi?
-
Konsolidasi Kaderisasi di Tanah Papua, UNIMUTU Gelar Baitul Arqam Pertama Kali
-
Bakar Semangat Belajar Siswa Desa, KKN Unisri Sukses Gelar Aksi Inspiratif di SDN 1 Slogo Tanon
Terkini
-
Ulasan Namaku Alam: Kisah Emosional Anak Korban Stigma Politik Orde Baru
-
4 OOTD Chic Modern Minimalist ala Kim Hye Jun, Makin Stylish Tanpa Ribet!
-
5 Rekomendasi Drakor Investigasi Beragam Profesi dengan Kasus yang Seru
-
Festival vs Tribun, Mana Tiket yang Paling Worth It Buat Nonton Maroon 5?
-
Seksi dan Dinamis! Kiss of Life Unjuk Sisi Tangguh Perempuan di Lagu Sweat