Kesusastraan Indonesia kontemporer kembali menyaksikan pencapaian naratif yang megah melalui hadirnya novel "Tango & Sadimin" (2019) karya Ramayda Akmal. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama setelah meraih posisi runner-up dalam UNNES International Novel Writing Contest 2017 dan masuk dalam jajaran kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019, novel ini menegaskan kedudukan pengarangnya sebagai salah satu akademisi dan novelis paling tajam dalam membedah relasi kuasa.
Ramayda Akmal, yang menempuh pendidikan doktoral di Hamburg University serta mengajar di Universitas Gadjah Mada, memboyong keahlian teoritis dan kepiawaian estetisnya untuk menghidupkan lanskap Sungai Cimanduy, sebuah ruang marginal yang diselimuti kabut, kelembapan, dan takdir yang pekat.
Melalui novel sepanjang 288 halaman ini, Ramayda tidak sekadar menyajikan cerita kemiskinan yang sentimental, melainkan sebuah dekonstruksi radikal atas konsep nasib, ketimpangan kelas, dan perlawanan gender. Narasi yang dirajut dengan gaya penceritaan liris namun dingin ini menembus batas-batas moralitas konvensional borjuis.
Sinopsis Novel Tango & Sadimin
Berakar pada atmosfer lanskap Sungai Cimanduy, sebuah wilayah pinggiran berarus tenang yang menyimpan endapan pasir tak berhabis untuk dikeduk warga, sekaligus menyimpan rahasia kehidupan yang ganjil dan di luar nalar. Narasi besar novel ini dibagi ke dalam lima bagian kisah intertekstual yang saling melengkapi.
Cerita dibuka dengan mitos dan realitas penderitaan sosok Nini Randa, seorang tokoh perempuan yang ditemukan hanyut saat bayi di tengah banjir bandang. Tumbuh di pinggiran sungai, Nini Randa mendirikan rumah bordil di pemukiman kumuh dengan motif dasar menyediakan ruang bernaung bagi perempuan-perempuan telantar dan terbuang.
Kehadiran rumah bordil milik Nini Randa ini menyulut konfrontasi moral dan idiologis dengan warga di seberang sungai, terutama dengan Haji Misbah. Bagi Haji Misbah, sosok yang mewakili otoritas religius-patriarkal, tempat tersebut merupakan sarang kebiadaban dan sumber kejahatan yang memicu kemalangan desa sehingga harus dibinasakan.
Namun, teks memperlihatkan realitas yang lebih kompleks, uang para suami kelas pekerja dari seberang sungai justru dihabiskan di bilik-bilik Nini Randa, mempertegas krisis ekonomi dan keretakan dalam ruang domestik keluarga-keluarga miskin.
Di tengah konstelasi sosial yang rentan ini, fokus utama cerita bergeser pada babak kedua yang menelusuri kehidupan rumah tangga Tango dan Sadimin. Sebagai sepasang suami istri yang hidup di bawah himpitan ekonomi, Tango dan Sadimin harus menanggung beban trauma sejarah keluarga masing-masing.
Pembangunan bendungan di Sungai Cimanduy, kepergian tokoh Cainah secara mendadak dan misterius, serta riak keresahan para penghuni bilik pelacuran memperbelit jalan hidup mereka. Tokoh-tokoh perempuan lain seperti Nah, Sipon, dan Nyai Pertama hadir membawa jaring-jaring konflik tersendiri, memperlihatkan bagaimana keputusan-keputusan kecil yang diambil demi memperpanjang umur pada akhirnya bertransformasi menjadi belenggu nasib yang mengikat sisa hidup mereka.
Kelebihan
Kelebihan utama novel ini terletak pada keberhasilannya mengawinkan pendekatan psikologi sastra dengan kritik psikoanalisis feminis. Berbeda dari karya fiksi sosial umumnya yang cenderung menempatkan perempuan kelas bawah sekadar sebagai korban pasif (passive victims), Ramayda Akmal memperlakukan tokoh-tokohnya sebagai subjek yang memiliki agensi.
Tokoh Nini Randa, Nah, dan Sipon digambarkan berhasil merebut kedaulatan melalui cara-cara subversif: menjadi pelacur, keluar dari jaringan eksploitasi anak jalanan, menolak tunduk pada otoritas suami, hingga memutus ikatan domestik dengan meninggalkan keluarga.
Di samping kedalaman teoritisnya, novel ini menunjukkan penguasaan atmosfer naratif dan sensitivitas ekologis yang luar biasa. Pengarang mampu mengonstruksi Sungai Cimanduy bukan sekadar sebagai latar belakang geografis, melainkan sebagai organisme estetik yang hidup.
Kekurangan
Meskipun kaya akan wawasan teoretis dan keindahan bahasa, novel ini memiliki sejumlah keterbatasan structural yang menuntut ketelitian membaca ekstra. Struktur alur yang terfragmentasi ke dalam lima bagian cerita dengan perpindahan fokalitas tokoh dapat mengganggu kontinuitas pembacaan konvensional.
Pada awal penceritaan, pembaca dibangun untuk mempercayai Nini Randa sebagai tokoh utama tunggal, sebelum narasi bergeser secara tajam menempatkan Nini Randa sebagai peran pendukung dan mengalihkan fokus utama pada Tango dan Sadimin di bab kedua. Bagi pembaca yang menyukai alur linier padu, perubahan fokus ini berisiko memicu distansi emosional terhadap karakter utama.
Kekurangan lainnya berkaitan dengan tone cerita yang terlampau muram dan eksistensial. Intensitas penderitaan, eksploitasi, dan alienasi sosial yang disajikan secara bertubi-tubi di sepanjang bab dapat memicu kelelahan emosional bagi pembaca.
Kesimpulan
Melalui "Tango & Sadimin", Ramayda Akmal membuktikan kematangannya dalam mengolah isu-isu krusial mengenai ketimpangan kelas dan keadilan gender ke dalam bentuk fiksi bernilai estetis tinggi. Novel ini tidak sekadar merekam jejak penderitaan kaum periferi di sepanjang Sungai Cimanduy, tetapi secara cerdas membongkar bagaimana struktur patriarki dan determinisme ekonomi bekerja menindas manusia.
Sebagai sebuah karya fiksi yang mendalam, "Tango & Sadimin" sukses menyampaikan pesan bahwa kedaulatan manusia sering kali harus direbut melalui pilihan-pilihan yang pahit dan berisiko. Karya ini sangat direkomendasikan bagi para pemerhati sastra, peneliti gender, maupun pembaca umum yang mencari narasi yang menantang pemikiran konvensional tentang moralitas dan takdir.
Identitas Buku
Judul: Tango & Sadimin
Penulis: Ramayda Akmal
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: 25 Maret 2019
Tebal: 280 Halaman
Baca Juga
-
Ulasan Novel Olenka, Obsesi dan Kehampaan Jiwa yang Terasing
-
Review Drama The Guest, Sisi Kelam Jiwa Manusia dan Teror Supranatural
-
Novel Tanjung Luka, Pencarian Kebenaran di Tengah Prasangka Masyarakat
-
Review Drama You Are My Hero, Misi Kemanusiaan dan Perjalanan Asmara
-
Review Drama Mouse, Pembalasan Dendam yang Menguak Sisi Kelam Manusia
Artikel Terkait
Ulasan
-
The Shawshank Redemption: Kisah Harapan dan Kebebasan di Balik Jeruji Penjara
-
Ulasan Film Tarung Sarung: Legenda Pertarungan Pusaka Para Ksatria Makassar
-
Membongkar Pesan Posesif dan Self Love di Balik Judul Nyeleneh MMG Naykilla
-
Warung Bu Sastro: Ketika Bisnis Tidak Cuma Soal Menghitung Untung
-
Bukan Rokok: Siasat Cerdas Rara Mendut Menjaga Harga Diri Perempuan
Terkini
-
Nggak Harus Baru, 5 HP Flagship Bekas Rp2-3 Jutaan yang Masih Worth It
-
Jakarta Mulai Bersiap, 2 Lapangan Disiapkan untuk FIFA ASEAN Cup 2026
-
Jangan Tunggu Nanti, Ini Trik Jitu Mengatur Waktu Belajar US, TKA, dan UTBK Sejak Dini
-
Dituding Palsukan Kehamilan, Anne Hathaway Beri Balasan Menohok
-
A New Dawn Tayang Agustus di Bioskop Indonesia, Garapan Animator Your Name