Saat mencari Rara Mendut di sudut perpustakaan, saya sempat berpikir akan menemukan sebuah novel lama dengan ketebalan yang biasa-biasa saja. Ternyata dugaan itu keliru. Buku yang saya temukan justru tebal sekali, sampai awalnya saya bertanya-tanya, memanglah sepanjang itukah kisah Rara Mendut? Setelah melihat isinya, barulah saya tahu bahwa buku tersebut bukan hanya memuat kisah Rara Mendut, melainkan trilogi yang dihimpun menjadi satu dalam satu jilid tebal. Sampulnya yang sudah tampak tua dan klasik membuat buku ini semakin menarik, seolah membawa saya masuk ke kisah Mataram yang telah lama berlalu. Namun, karena saya sudah membaca bagian cerita ketiga yaitu Lusi Lindri, maka ulasan kali ini akan difokuskan khusus untuk membahas bagian pertamanya saja, yaitu kisah Rara Mendut.
Buku tersebut merupakan rangkaian kisah sejarah yang ditulis YB Mangunwijaya atau yang akrab disapa Romo Mangun. Ketiganya mula-mula hadir sebagai cerita bersambung di harian Kompas pada tahun 1982 sampai 1987, lalu dikenal sebagai trilogi Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Saya sendiri sudah pernah membaca sekaligus mengulas kisah-kisah lanjutannya secara terpisah. Oleh karena itu, kali ini saya ingin kembali ke titik awal mula perjalanannya, yaitu pada kisah Rara Mendut, tentang perempuan pesisir yang namanya terseret jauh ke dalam pusaran kekuasaan Mataram.
Ulasan
Rara Mendut dibesarkan di sebuah kampung nelayan di pantai utara Jawa. Kehidupan pesisir membuatnya tumbuh sebagai perempuan yang trengginas, terbiasa dengan laut, gemar berlayar, dan tidak mudah tunduk pada aturan. Ia sangat jauh dari gambaran perempuan istana yang harus selalu bersuara lembut dan patuh. Kecantikannya kemudian menarik perhatian Adipati Pragola dari Pati hingga ia diboyong ke kadipaten.
Namun, alur hidupnya berubah drastis ketika Pati kalah perang melawan Mataram. Bersama harta rampasan perang dan para perempuan lainnya, ia dibawa ke pusat Kesultanan Mataram dan diserahkan kepada Panglima Perang Kanjeng Raden Tumenggung Wiraguna sebagai hadiah kemenangan. Di sinilah konflik utama bermula, ketika sang panglima tua langsung terpikat dan ingin memperistrinya, sementara Mendut dengan keras kepala menolak tunduk karena harga dirinya tidak bisa dibeli oleh kekuasaan.
Di Mataram, masalah mulai muncul ketika Tumenggung Wiraguna, panglima perang disegani yang telah beristri banyak, jatuh hati kepada Mendut dan memintanya sebagai hadiah dari raja. Bagi Mendut, keinginan tersebut bukanlah sesuatu yang bisa diterima. Ia menolak tegas karena tidak ingin menyerahkan diri kepada lelaki yang tidak dicintainya, meskipun lelaki itu memiliki kedudukan dan kekuasaan yang tinggi. Penolakan tersebut membuat Wiraguna geram, sehingga ia menjatuhkan hukuman berupa pajak harian yang nilainya terus dinaikkan untuk menekan Mendut.
Untuk melunasi pajak harian yang mencekik itu, Mendut tidak kehabisan akal. Dibantu oleh kedua dayang setianya, Ni Semangka dan Genduk Duku, ia memilih berjualan rokok di pasar. Di balik tirai merah tempatnya berdagang, rokok lintingan yang konon dibasahi air ludahnya sendiri justru laris manis diburu kaum lelaki, mulai dari rakyat jelata hingga para pembesar istana yang antusias datang demi melihat tarian dan jenaka sang gadis pesisir.
Di tengah keramaian dan gelombang pencari rokok inilah, takdir mempertemukannya kembali dengan Pranacitra, pemuda pelaut dari pantai utara yang sejak lama diam-diam mengisi hatinya. Pertemuan itu menghidupkan kembali harapan Mendut untuk lepas dari cengkeraman istana Mataram.
Puncak ketegangan pun tiba ketika Pranacitra, dengan bantuan cerdik serta restu terselubung dari Putri Arumdadi yang diam-diam bersimpati pada keberanian Mendut, berhasil membawa kabur sang gadis pesisir menuju pantai selatan. Pelarian ini memicu amarah besar Tumenggung Wiraguna yang merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia lantas mengerahkan pasukan untuk memburu mereka, berujung pada bentrokan maut di muara Sungai Opak. Di tempat peristirahatan terakhir di bumi itu, Mendut dan Pranacitra memilih mati berangkulan demi mempertahankan cinta serta kemerdekaan mereka ketimbang harus tunduk pada rantai kekuasaan.
Melalui kisah tragis tersebut, Romo Mangun berhasil merangkum sebuah kritik sosial yang tajam mengenai posisi perempuan di tengah jeratan feodalisme. Di era ketika kaum hawa sering kali diringkas dalam tradisi kuno atau dituntut untuk serba patuh, Rara Mendut hadir sebagai antitesis yang radikal. Ia menjadi simbol bahwa perempuan memiliki hak penuh untuk berdikari, memberontak terhadap ketidakadilan, dan menentukan pilihan hidupnya sendiri tanpa harus tunduk pada paksaan kekuasaan.
Kisah Rara Mendut mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sejati tidak pernah datang sebagai hadiah, melainkan buah dari keberanian untuk melawan. Sebuah karya sastra klasik yang tak lekang oleh waktu dan selalu berhasil menggugah kesadaran pembacanya.Melalui ulasan ini, patut diacungi jempol bagaimana Romo Mangun memperlakukan karakter-karakter perempuannya dengan sangat bermartabat.
Di tengah latar zaman yang begitu patriarkal, di mana perempuan sering kali direduksi dan dicitrakan secara bias dalam karya sastra, Romo Mangun justru menampilkan sosok perempuan yang terhormat, mandiri, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Beliau tidak terjebak mengeksploitasi unsur seksual demi panggung cerita atau menggambarkan tokoh perempuan dalam kehinaan yang seolah mendamba untuk dijadikan budak seksual seperti yang kerap ditemui pada novel-novel lain dengan tema serupa. Sebaliknya, Rara Mendut dan para perempuan di sekitarnya dihadirkan secara netral, kuat, utuh, serta memiliki prinsip hidup yang teguh.
Baca Juga
-
Lusi Lindri: Perempuan yang Menolak Tubuhnya Menjadi Milik Takhta Mataram
-
Membaca Patiwangi: Merenungi Suara Perempuan Bali Lewat Goresan Puisi Oka Rusmini
-
Denyut Tradisi Bali dalam Bait-Bait 'Saiban' Karya Oka Rusmini
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
Serdadu dari Neraka: Warga Sipil di Tengah Konflik Pemerintah dan GAM
Artikel Terkait
Ulasan
-
Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin: Ketika Cinta Harus Belajar Ikhlas
-
Drama Remaja Berubah Arah, Sterling Point Tahu Caranya Jadi Lebih Menarik
-
Review The Day of the Jackal: Drama Aksi Intelijen Eropa yang Sangat Seru
-
The Invisible Guest: Menghadirkan Kisah Adu Siasat Elit di Balik Kejahatan!
-
Farmhouse: Ketika Sebuah Rumah Menyimpan Ribuan Cerita
Terkini
-
Pimpin Klasemen, Jorge Martin Tak Mau Ambisi jadi Juara Dunia Lagi?
-
Font Buku Terlalu Kecil, Buku Ajar Dirombak: Gaji Guru Kapan Menyusul?
-
4 Brightening Micellar Water Tanpa Parfum Solusi Buat Wajah Cerah dan Sehat
-
3 Hari Tayang, Film The Last House Melesat Puncaki Top 10 Netflix Global
-
Rekomendasi 5 Sandal Lokal Terbaik, Nyaman dan Stylish Seharian