Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Kegiatan Festival Literasi (Dok. Pribadi/Purworejo)
Chairun Nisa

Siapa bilang festival literasi hanya tentang buku dan orang-orang yang sibuk membaca? Di Purworejo, literasi hadir dengan cara yang lebih ramai. Buku berjejer, lukisan memenuhi ruang pamer, stan UMKM menawarkan berbagai jajanan, dan beragam kegiatan kreatif ikut meramaikan halaman perpustakaan.

Pada Jumat, 14 Agustus 2026, Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kabupaten Purworejo dipadati pengunjung yang datang untuk menikmati Festival Literasi Kabupaten Purworejo 2026. Sejak pukul 13.00 WIB, berbagai kegiatan mulai berlangsung di kawasan tersebut. Festival ini dibuka dengan kehadiran Sekretaris Kecamatan Purworejo, Ifan Mochtar Latif, A.K.S., M.A.P.

Kehadiran pemerintah kecamatan menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap penyelenggaraan festival yang mengajak masyarakat lebih dekat dengan buku dan berbagai kegiatan literasi. Namun, festival ini tidak berhenti pada pameran buku saja. Setelah berkeliling, saya menemukan ada banyak hal lain yang membuat acara ini menarik untuk dinikmati.

Kehadiran jajaran pemerintah kecamatan bukan sekadar formalitas birokratis belaka. Ini adalah bentuk manifestasi nyata bagaimana negara—atau dalam cakupan yang lebih mikro, pemerintah daerah—berupaya merangkul warganya untuk kembali mendekat pada buku, nalar kritis, dan budaya literasi yang kian tergerus zaman. Festival ini dirancang bukan sebagai seremoni kaku, melainkan sebuah ruang publik yang cair, inklusif, dan meriah. Dan sebagai seseorang yang senantiasa gelisah sekaligus jatuh cinta pada dunia literasi, tentu saja saya melangkah ke sana dengan antusiasme yang membuncah.

Menelusuri Labirin Kertas: Antara Hasrat Membaca dan Realitas Dompet

Begitu menginjakkan kaki di area book fair, pengunjung langsung disambut oleh surga kecil bagi para pencinta lembaran kertas. Berbagai penerbit ternama, dengan Gramedia sebagai salah satu primadonanya, memajang koleksi terbaik mereka. Gradasi harganya pun sangat merentang luas; dari buku-buku best seller original berharga ratusan ribu rupiah, buku-buku anak dengan banderol ribuan rupiah, hingga tumpukan buku obral seharga Rp5.000 saja yang seolah memanggil-manggil jemari untuk segera dibongkar.

Harus diakui, tumpukan buku-buku itu benar-benar menguji iman literasi. Ia "bikin ngiler" siapa saja yang melewatinya. Namun, di sinilah letak ironi yang sering kali menggelitik kaum pembaca: datang dengan niat berburu, tetapi pulang dengan status CLBK (Cuma Lihat Beli Kagak).

Bukan tanpa alasan finansial yang logis. Setelah diamati, sebagian besar buku best seller keluaran Gramedia yang dipajang sudah habis saya lahap isinya. Sementara untuk judul-judul lain yang belum sempat dibaca, pikiran rasional langsung berbisik: "Bukankah perpustakaan umum gratis selalu siap sedia menyelamatkan dompet di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu ini?" Ya, in this economy, menjadi pembaca yang selektif sekaligus hemat adalah sebuah bentuk kepiawaian bertahan hidup yang mutlak. Kita cukup menikmati aromanya, meraba sampulnya, lalu membiarkan orang lain yang memborongnya.

Menepi ke Sayap Kiri: Menikmati Sunyi di Balik Pameran Lukisan

Puas berputar-putar di tengah riuhnya stan buku dan menahan diri dari godaan impulsif berbelanja, langkah kaki saya bawa bergeser ke halaman sayap kiri bangunan perpustakaan. Suasana mendadak kontras. Jika di area buku kita dihadapkan pada hiruk-pikuk perdagangan ide, di sini kita diajak merenung dalam keheningan estetika.

Puluhan lukisan karya seniman lokal Purworejo berjejer rapi memanjakan mata. Keberagaman aliran yang disajikan benar-benar luar biasa—mulai dari lukisan lanskap alam yang menenteramkan, figur fauna yang hidup, hingga karya-karya abstrak penuh teka-teki yang merefleksikan identitas kultural Purworejo. Bagi para kolektor seni atau sekadar penikmat visual, karya-karya ini dihargai secara layak, dibanderol mulai dari kisaran Rp1 jutaan hingga menyentuh angka Rp7,5 juta. Ruang pameran ini menjadi pengingat bahwa literasi bukan sekadar teks hitam-putih di atas kertas, tetapi juga cara pandang membaca realitas lewat sapuan kuas dan warna.

Aroma Kuliner dan Denyut Ekonomi Kerakyatan

Sebuah perayaan publik di Indonesia tentu tidak akan sah tanpa kehadiran denyut ekonomi kerakyatan. Dan panitia Festival Literasi tahun ini sangat memahami rumus tersebut. Di sekeliling kompleks perpustakaan hingga membentang sepanjang jalan di sekitar SMP Negeri 3 Purworejo, berbaris rapi puluhan lapak UMKM lokal.

Bau harum masakan dan jajanan berpadu dengan udara sore. Mulai dari jajanan segar seharga Rp5.000-an seperti es teler yang menggoda, alpukat kocok yang kental, hingga siomay dan bakso hangat siap menyambut para pengunjung yang kelelahan setelah lelah berjalan kaki mengelilingi area festival. Festival literasi ini pada akhirnya bertransformasi menjadi ruang rekreasi komplit: nutrisi untuk akal didapat dari buku, sementara nutrisi untuk raga dipenuhi oleh kuliner lokal yang merakyat.

Lebih dari sekadar pameran buku, seni, dan stan makanan, rangkaian acara ini juga diperkaya dengan berbagai agenda substansial seperti seminar pendidikan, aneka lomba kreatif, sesi bedah buku yang bernas, workshop literasi interaktif, hingga pentas seni yang menampilkan bakat-bakat lokal.

Menghabiskan waktu di Festival Literasi Kabupaten Purworejo 2026 memberikan satu catatan optimis di kepala saya. Acara ini berhasil mendobrak mitos lama bahwa literasi adalah kegiatan yang kaku, elitis, dan membosankan. Melalui kolaborasi apik antara pemerintah, pegiat seni, pelaku UMKM, dan masyarakat luas, literasi dihadirkan sebagai sebuah perayaan kebudayaan yang hidup.

Kehadiran tokoh-tokoh daerah seperti Sekretaris Kecamatan Purworejo yang turun langsung membersamai warga memberikan sinyal positif bahwa penguatan budaya baca mendapat tempat serius dalam agenda pembangunan daerah. Sebab, pada akhirnya, kualitas sumber daya manusia sebuah kabupaten tidak diukur dari seberapa megah infrastrukturnya, melainkan dari seberapa tajam nalar warganya, seberapa luas wawasan mereka, dan seberapa kreatif mereka beradaptasi dengan perubahan zaman. Dan semuanya itu, selalu bermula dari lembar-lembar halaman yang kita buka hari ini.