Sekar Anindyah Lamase | Rie Kusuma
Cover Novel Menuju Titik Nol (Dok. Ipusnas)
Rie Kusuma

Membaca novel karya Agatha Christie kali ini, tak ada Hercule Poirot. Tak pula Miss Jane Marple. Dalam Menuju Titik Nol (Towards Zero), Agatha Christie justru menghadirkan Superintendent Battle (Inspektur Battle) sebagai tokoh utama yang memimpin penyelidikan.

Inspektur Battle adalah seorang tokoh detektif Scotland Yard yang tampil dalam lima novel karya Agatha Christie. Ia dikenal sebagai polisi yang tenang, teliti, dan berwajah tanpa ekspresi.

Menuju Titik Nol (Towards Zero) merupakan salah satu novel Agatha Christie yang paling berbeda dibandingkan karya-karyanya yang lain. Jika dalam kebanyakan karyanya pembaca biasanya langsung dihadapkan pada pembunuhan, di sini Christie justru membangun pertanyaan yang lebih mendasar: Bagaimana sebuah pembunuhan bisa terjadi?

Dalam novel ini, Agatha Christie membalik pola pikir para pembaca. Ia mengajak pembaca memerhatikan mengapa setiap tokoh tampak memiliki alasan untuk melakukan pembunuhan atau kejahatan.

Ia menyiapkan dan menggarap sisi psikologis karakter para tokoh, membangun ketegangan, dan meletakkan landasan bagi terjadinya kejahatan tersebut. Pembaca terus-menerus diliputi rasa tegang, bertanya-tanya kapan kejahatan akan terjadi dan siapa yang akan menjadi korbannya.

Ketika pembunuhan akhirnya terjadi, pembaca akhirnya tersadar bahwa dalam novel ini, pembunuhan bukanlah titik awal melainkan titik akhir, saat kejahatan yang telah direncanakan matang itu bergerak ‘Menuju Titik Nol’ (Towards Zero).

Saya suka cerita detektif yang bagus. Tetapi, mereka selalu mulai di tempat yang salah! Mereka mulai dengan pembunuhannya. Padahal pembunuhan itu merupakan akhirnya. Cerita itu dimulai jauh sebelumnya—kadang-kadang bertahun-tahun sebelumnya—dengan segala macam sebab dan peristiwa yang membawa orang-orang tertentu, pada suatu tempat tertentu, di suatu waktu tertentu, di hari tertentu. (Mr. Treves, hal. 15)

Menggunakan latar tempat sebuah rumah tepi pantai bernama Gull’s Point, di sini semua tokoh cerita dengan hubungan yang rumit dipertemukan. Ada Neville Strange, seorang pemain tenis ternama; Audrey Strange, mantan istrinya; Kay Strange, istri barunya; teman dekat sang istri, Ted Latimer.

Ada pula Lady Camilla Tresillian sang tuan rumah beserta pendampingnya, Mary Aldin. Lalu ada sahabat lama, Mr. Treves, kerabat jauh, Thomas Royde, dan di antara mereka ada orang-orang yang menyimpan dendam serta luka masa lalu. Mereka merupakan kelompok yang beragam dan kompleks, dan masing-masing memberikan warna tersendiri bagi novel ini.

Pembunuhan sadis yang menimpa Lady Tresillian menimbulkan ketegangan di antara mereka. Namun, ketegangan itu tidak dibangun melalui aksi, melainkan lewat percakapan, gestur, tatapan, dan konflik psikologis di antara mereka yang terus-menerus berkembang.

Saat penyelidikan dari pihak kepolisian dimulai, fokus psikologis kemudian beralih ke pemeriksaan prosedural terhadap para tersangka dan pengumpulan bukti, yang mengubah struktur cerita menjadi kisah detektif. Di sini Inspektur Battle berperan aktif, berbeda dari novel-novel Battle sebelumnya.

Berbekal pengalaman, keahlian, dan pengetahuannya tentang psikologi, Battle berhasil menangkap seorang dalang kriminal yang, meskipun hanya satu kejahatan yang dapat dibuktikan, diduga kuat telah melakukan dua kejahatan lainnya.

Alur cerita rumit. Banyaknya tokoh dan latar belakang mereka yang kompleks membuat saya, selaku pembaca, sama sekali tidak bisa menebak siapa pelakunya, sehingga ketika identitas pelaku terungkap menjadi sebuah kejutan bagi saya.

Karakteristik para tokohnya beragam. Lady Tresillian yang aristokratis, menjunjung tinggi tradisi, dan keras kepala. Neville Strange yang mudah memikat orang dan pribadi yang sangat percaya diri, dan tak ingin egonya dilukai.

Kay Strange, sang istri cantik yang pencemburu, muda, ekspresif, dan emosional. Audrey Strange, sang mantan istri yang tenang, tertutup, sekaligus rapuh di balik pribadinya yang mengesankan.

Thomas Royde, pendiam dan lebih senang mengamati daripada berbicara. Kemudian ada Mr. Treves, pengacara tua yang karena ingatannya pada sebuah pembunuhan di masa lalu, membuatnya jadi incaran salah seorang tamu di Gull’s Point.

Kelebihan novel Menuju Titik Nol (Towards Zero) ada pada atmosfer yang kuat. Rumah tepi pantai yang terisolir menjadikan suasana benar-benar penuh ketegangan dan mencekam.

Pendalaman karakter para tokohnya juga amat kuat, hampir semua tokoh memiliki luka, ambisi, dendam, kecemburuan, dan penyesalan yang membuat novel Menuju Titik Nol (Towards Zero) begitu rumit sekaligus menarik secara psikologis.

Foreshadowing yang rapi juga merupakan salah satu kelebihan novel ini yang tak bisa diabaikan. Banyak petunjuk yang sebenarnya sudah disebar di sana-sini, tapi sama sekali tak terkesan memaksakan.

Lalu tentu saja plot twist yang memuaskan, meskipun penyelesaiannya agak sedikit mengejutkan dengan kemunculan tokoh baru yang sebenarnya sudah disebutkan di awal-awal cerita.

Kekurangan novel ini ada pada tempo cerita yang cukup lambat. Kurangnya aksi dan terlalu banyak tokoh yang membuat saya harus mengulang membaca beberapa kali untuk ‘mengenali’ para tokohnya.

Namun, harus saya akui, Menuju Titik Nol (Towards Zero) merupakan karya terakhir dari Inspektur Battle yang mengesankan dan sangat layak untuk direkomendasikan kepada semua Sobat Yoursay. Jadi, selamat membaca!