M. Reza Sulaiman | Ken Hitana
Sampul The Metamorphosis (goodreads)
Ken Hitana

Siapa yang tak kenal Metamorfosis-nya Franz Kafka? Karya sastra klasik berbahasa Jerman ini sangat populer di berbagai belahan dunia. Dengan premis cerita yang tak biasa, The Metamorphosis berkisah tentang Gregor Samsa yang tiba-tiba berubah menjadi seekor serangga raksasa di tempat tidurnya. Perubahan fisiknya ini ternyata bukan satu-satunya yang jadi poin menarik dalam novela ini. Gregor Samsa mulai merasa terasingkan seiring perannya sebagai tulang punggung keluarganya hilang.

Hanya terdiri dari 70-an halaman, nyatanya buku ini bukan bacaan yang mudah untuk semua orang. Latar dan alurnya yang kelam membuat Metamorfosis terasa cukup berat, apalagi Kafka tidak memberikan penjelasan secara gamblang mengenai perubahan Gregor. Pembaca justru dibiarkan menafsirkan sendiri apa yang sebenarnya ingin disampaikan melalui metamorfosis tersebut. 

Sinopsis Metamorfosis

Ilustrasi Buku (unsplash/Annie Spratt)

Metamorfosis bercerita tentang Gregor Samsa, seorang sales keliling yang menjadi tulang punggung keluarganya. Suatu pagi, ia terbangun dan mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa. Perubahan tersebut membuat Gregor Samsa tidak lagi mampu bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya seperti sebelumnya.

Karena fisiknya yang terlalu besar, ia kesulitan bergerak bahkan untuk keluar dari kamarnya sendiri. Seiring waktu, Gregor semakin dikurung dan jauh dari keluarganya. Hubungannya dengan anggota keluarga, terutama adiknya, Grete, juga perlahan berubah. Sosok yang sebelumnya menjadi tumpuan keluarga justru mulai dianggap sebagai beban. Perubahan inilah yang kemudian membawa Gregor pada keterasingan yang semakin dalam.

Dari Tulang Punggung Jadi Beban

Ilustrasi Bekerja (unsplash/Kiefer Likens)

Sebelum insiden itu, Gregor Samsa adalah tulang punggung keluarga yang menafkahi sekaligus membayar hutang ayahnya. Hanya ia yang mencari uang sehingga Gregor menjadi tumpuan ekonomi keluarganya. Setelah kejadian pagi itu, tentu saja ia tidak bisa melakukan apa-apa. Bangun dari tempat tidur saja ia tak bisa karena tubuhnya membesar lalu tangan dan kakinya mengecil seperti serangga. Gregor pun harus selalu bergantung pada ibu dan adiknya untuk melakukan semua aktivitas, yang mana itu jkebalikan dari biasanya. 

Seiring berjalannya waktu, perlakuan anggota keluarga kepadanya pun perlahan ikut berubah. Mereka menganggap Gregor kini tak lagi bisa diandalkan dan malah membebani mereka. Melalui perubahan tersebut, Kafka seolah menunjukkan bagaimana hubungan manusia dapat dipengaruhi oleh fungsi dan peran seseorang. Selama Gregor mampu bekerja, keberadaannya begitu penting bagi keluarga. Sebaliknya, ketika ia tak berkontribusi apapun, ia akan langsung dianggap beban.

Kamar Gregor Menjadi Simbol Keterasingan

Ilustrasi Kamar Tidur (unsplash/Peter Herrmann)

Setelah 'berubah', Gregor menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam kamar. Awalnya, ia merasa kamar tidurnya adalah ruang yang aman untuknya karena ketika ia baru saja 'berubah', ia ingin menyembunyikan kondisi fisiknya yang mengerikan dari orang-orang. Setelah keluarganya tahu pun ia tak banyak beranjak dari sana karena mobilitasnya sebagai serangga raksasa yang sedikit merepotkan.

Lama kelamaan, ia mulai merasa terasingkan berada di kamar sendirian. Atas ide Grete, barang-barang yang ada di dalamnya pun dikeluarkan untuk memberi ruang pada Gregor untuk leluasa bergerak. Padahal, hal ini malah menjadi simbol terkikisnya identitas Gregor Samsa dan berkurangnya harapan untuk Gregor kembali jadi manusia.

Proses Gregor Samsa 'Menghilang' dari Dunia

Ilustrasi Orang Berdiri Sendirian (unsplash/Gabriel)

Gregor akhirnya mati dengan wujud serangganya. Tetapi prosesnya 'menghilang' sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum itu. Ia kehilangan pekerjaan, kemampuan berkomunikasi, hubungan dengan keluarga, ruang pribadinya, hingga identitasnya sebagai manusia. Bahkan setelah kematiannya, keluarganya justru mulai melihat masa depan dan membicarakan kehidupan yang lebih baik. Ironi, Gregor yang selama ini mengorbankan dirinya untuk keluarga justru perlahan kehilangan tempat di dalam keluarga ketika ia tidak lagi mampu menjalankan perannya.

Kekuatan Metamorfosis terletak pada cara Kafka menggunakan premis yang absurd untuk membicarakan persoalan yang sangat realistis. Di balik kisah manusia yang berubah menjadi serangga, ada pembahasan tentang alienasi dan keterasingan diri dari kehidupan sosial. Dengan penggambaran Kafkaesque dan tanpa penjelasan pasti, pembaca diajak untuk menebak apa arti metamorfosis yang sedang terjadi dalam diri Gregor.