Bagaimana rasanya ketika perhatian orang tua yang selama ini hanya tertuju kepada kita tiba-tiba harus terbagi dengan anggota keluarga baru? Perasaan itulah yang menjadi pintu masuk cerita Mirai karya Mamoru Hosoda. Novel ini menghadirkan kisah sederhana tentang kecemburuan seorang anak, tetapi kemudian berkembang menjadi perjalanan penuh keajaiban yang mengajak pembaca melihat keluarga dari sudut pandang yang lebih luas.
Tokoh utama dalam cerita adalah Kun, bocah berusia empat tahun yang sebelumnya terbiasa menjadi pusat perhatian di rumah. Kehidupan Kun berubah setelah kelahiran adik perempuannya, Mirai. Kesibukan Ayah dan Ibu merawat bayi membuat Kun merasa dirinya tidak lagi menjadi prioritas. Perasaan tersebut kemudian muncul dalam bentuk tangisan, amukan, dan berbagai perilaku yang membuat suasana rumah menjadi lebih sulit.
Alih-alih menggambarkan Kun semata-mata sebagai anak yang sulit diatur, Hosoda membawa pembaca memahami alasan di balik perilakunya. Kecemburuan yang muncul sebenarnya berasal dari kegelisahan seorang anak yang takut kehilangan kasih sayang orang tuanya. Dari sini, cerita menjadi sangat dekat dengan pengalaman banyak anak sulung yang pernah merasa tersisihkan setelah memiliki adik.
Keunikan Mirai semakin terasa ketika Kun menemukan sebuah taman ajaib di sekitar pohon besar yang tumbuh di halaman rumahnya. Tempat tersebut menjadi pintu menuju berbagai peristiwa lintas waktu. Kun berkesempatan bertemu Mirai dalam wujud remaja dari masa depan. Ia juga melihat ibunya ketika masih kecil dan menyaksikan bahwa sang ibu ternyata pernah menjadi anak yang keras kepala serta kurang teratur. Dalam perjalanan lainnya, Kun bertemu kakeknya ketika masih muda dan mengetahui perjuangan ayahnya ketika harus merawat dirinya seorang diri saat ibunya mulai kembali bekerja.
Dengan ketebalan sekitar 272 halaman, menurut saya buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca. Premisnya terasa unik karena masalah kecemburuan kakak-adik dipadukan dengan unsur perjalanan waktu dan fantasi keluarga. Saya juga mengetahui bahwa Mirai memiliki adaptasi film, meskipun sampai sekarang saya belum sempat menontonnya.
Perjalanan Kun secara perlahan mengubah cara pandangnya. Ia mulai memahami bahwa kehadiran Mirai bukan berarti kasih sayang orang tuanya berkurang. Ia belajar menerima adiknya sekaligus mengenali peran barunya sebagai seorang kakak. Perubahan tersebut terasa penting karena proses tumbuh seorang anak tidak hanya terjadi melalui nasihat, tetapi juga melalui pengalaman.
Salah satu pesan yang paling menarik adalah bahwa orang tua juga memiliki cerita sebelum menjadi orang tua. Pertemuan Kun dengan anggota keluarganya dari masa lalu memperlihatkan bahwa mereka pernah menjadi anak-anak yang melakukan kesalahan, menghadapi kesulitan, dan memiliki pengalaman yang membentuk diri mereka. Dengan demikian, keluarga digambarkan sebagai sekumpulan manusia yang sama-sama masih belajar.
Novel ini juga memperlihatkan bahwa menjadi orang tua bukanlah pekerjaan yang memiliki panduan sempurna. Ayah dan Ibu Kun pun harus beradaptasi, belajar membagi peran, dan menghadapi kesalahan dalam mengasuh anak. Gambaran ayah yang mengurus rumah serta anak ketika ibu bekerja turut menunjukkan bahwa pekerjaan domestik membutuhkan tenaga dan tanggung jawab besar. Kehidupan keluarga akan berjalan lebih baik ketika kedua orang tua saling bekerja sama.
Pada akhirnya, Mirai membuat saya menyadari bahwa keluarga merupakan ruang pertama bagi seseorang untuk tumbuh dan belajar memahami orang lain. Walaupun di dalamnya terdapat ego, konflik kecil, dan kesalahpahaman, keluarga tetap menjadi tempat seseorang menemukan dukungan.
Melalui kisah Kun, pembaca diajak melihat bahwa rasa cemburu bukan selalu tanda kenakalan, melainkan perasaan yang membutuhkan pengertian. Ikatan keluarga, kasih sayang, dan pengalaman yang dilalui bersama pada akhirnya ikut membentuk siapa diri kita.
Identitas Buku
Judul: Mirai
Penulis: Mamoru Hosoda
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020652788
Baca Juga
-
Review Film Budi Pekerti: Ketika Satu Video Mengubah Segalanya
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
-
Kontradiksi Gaya Komunikasi Prabowo: Singa Domestik, Kucing Imut di Panggung Internasional?
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film: Ketika Cinta Nyata Tak Selalu Seindah Skenario
Artikel Terkait
Ulasan
-
Drama Honour, Antara Reputasi Profesional dan Masa Lalu yang Belum Usai
-
Masjid Lawang Songo, Jejak Arsitektur Jawa yang Tetap Terjaga di Lirboyo
-
Review Film Practical Magic: The Book Of Magic, Nostalgia Sihir yang Indah!
-
Review Film Budi Pekerti: Ketika Satu Video Mengubah Segalanya
-
Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan
Terkini
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
-
Kontroversi Uan Juicy Luicy: Mengapa Humor Misoginis Tak Boleh Dimaklumi
-
Memahami Privilege Blindness di Tengah Krisis dan Berita Buruk
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'