Bagaimana jika reruntuhan candi tidak hanya menyimpan jejak peradaban masa lalu, tetapi juga rahasia yang sengaja dikubur bersama sejarah? Pertanyaan semacam itulah yang mengiringi perjalanan Manjali dan Cakrabirawa, novel Ayu Utami yang membawa pembaca menyusuri reruntuhan candi, mitos kuno, hingga bayang-bayang tragedi politik 1965. Di tangan Ayu Utami, masa lalu bukan sekadar sesuatu yang telah selesai, melainkan jejak yang terus mengusik kehidupan orang-orang di masa kini.
Sebagai bagian dari dunia Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa kembali mempertemukan pembaca dengan Marja, Sandi Yuda, dan Parang Jati. Namun, kali ini perjalanan mereka membawa pembaca lebih jauh, dari hubungan antarmanusia menuju jejak-jejak masa lalu yang tersembunyi di balik candi dan peninggalan kuno. Ayu Utami merangkai petualangan, misteri, dan sejarah dalam satu cerita yang perlahan membuka hubungan antara mitos masa lampau dengan pergolakan Indonesia pada masa yang lebih dekat.
Ketika Sandi Yuda harus pergi meninggalkan Marja, ia menitipkan kekasihnya kepada sahabatnya sendiri, Parang Jati. Dari keputusan sederhana itulah petualangan mereka bermula. Bersama Jati, Marja menyusuri pelosok Jawa Timur dan menemukan jejak-jejak masa lalu melalui candi, prasasti, serta kisah yang selama ini bertahan sebagai legenda. Namun, perjalanan tersebut perlahan membawa mereka pada pertanyaan yang lebih besar: apakah yang mereka temukan benar-benar sekadar peninggalan sejarah, atau ada rahasia yang sengaja disembunyikan di baliknya?
Penelusuran itu membawa Marja dan Parang Jati hingga ke situs candi di kaki Gunung Lawu yang diyakini berkaitan dengan kisah Calwanarang. Dari sana, misteri cerita berkembang semakin luas. Di balik reruntuhan dan peninggalan kuno, tersimpan jejak kepercayaan, mitos, serta pergulatan manusia dengan masa lalu yang belum benar-benar selesai. Sementara Marja dan Jati semakin dekat dengan rahasia tersebut, Yuda justru terseret ke jalur berbeda melalui pertemuannya dengan Musa Wanara. Keterlibatan itu kemudian membuka bayang-bayang Cakrabirawa dan tragedi politik 1965 yang membuat petualangan mereka tidak lagi sekadar perjalanan menelusuri situs bersejarah.
Kekuatan novel ini terletak pada cara Ayu Utami mempertemukan sejarah, mitologi, dan persoalan manusia tanpa membuat salah satunya berdiri sendiri. Parang Jati tampil sebagai sosok tenang dengan pengetahuan luas tentang kebudayaan dan peninggalan masa lalu, sedangkan Yuda hadir dengan karakter keras yang perlahan berubah ketika bersentuhan dengan dunia militer. Di antara keduanya, Marja mengalami perubahan paling menarik. Perjalanannya membuat ia tidak lagi sekadar menjadi perempuan metropolitan yang memandang masa lalu dari kejauhan, tetapi mulai peka terhadap cerita, luka, dan jejak sejarah yang selama ini tersembunyi di sekelilingnya.
Meski menawarkan perpaduan cerita yang kaya, novel ini bukan tanpa kekurangan. Kepadatan referensi sejarah, mitologi, dan filsafat pada beberapa bagian dapat membuat alur terasa lebih berat, terutama bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan pembahasan semacam itu. Beberapa dialog juga kadang terasa seperti uraian esai sehingga percakapan antartokoh kurang mengalir secara alami. Selain itu, keberanian Ayu Utami dalam menggambarkan relasi dan hasrat antarmanusia mungkin tidak cocok bagi semua pembaca. Namun, unsur tersebut tetap menjadi bagian dari cara pengarang menghadirkan tokoh sebagai manusia yang memiliki keinginan, konflik, dan kerentanan.
Yang membuat Manjali dan Cakrabirawa menarik adalah cara Ayu Utami menjadikan masa lalu sebagai sesuatu yang terus berhadapan dengan kehidupan manusia di masa kini. Candi, mitos, dan tragedi sejarah bukan sekadar latar petualangan, melainkan pintu untuk memahami rasa ingin tahu, cinta, ketakutan, dan luka yang dibawa para tokohnya. Melalui perjalanan Marja, Parang Jati, dan Yuda, pembaca diajak menyadari bahwa sejarah tidak selalu berhenti sebagai catatan yang telah usai. Ada jejaknya yang tetap tinggal, memengaruhi manusia, dan sesekali muncul kembali melalui cerita yang selama ini dianggap telah terkubur.
Baca Juga
-
Majalah Trubus dan Cara Uniknya Membawa Agrikultur ke Meja Pembaca
-
Demi Meninggalkan Jalanan, Ia Menukar Namanya dengan Sebuah Petualangan
-
Karhutla Membara, Saham Sawit Melonjak: Kebetulan atau Pertanda?
-
Estetika Prosa Liris dan Hegemoni Masa Lalu dalam Kumpulan Prosa Madre
-
Luntang-Lantung Si Gadis Taat: Saat Iman Diuji Realitas Sosial
Artikel Terkait
-
One Hundred Years of Solitude: Part 2, Akhir Tragis Generasi Kaum Buendia
-
Siapa Profesor Solehah Yaacob? Dipecat UIAM Malaysia Buntut Kontroversi Sejarah Melayu
-
Profesor IIUM Malaysia Dipecat Buntut Klaim Sejarah Orang Melayu Kuno Bisa Terbang
-
The Library in the Woods, Ketika Buku Menjadi Jalan untuk Memahami Sejarah
-
Menyusuri Jejak Prajurit Diponegoro di Masjid Baiturrahman Kediri
Ulasan
-
Review Anime Yama no Susume, Saat Hobi Naik Gunung Jadi Dokumenter
-
Majalah Trubus dan Cara Uniknya Membawa Agrikultur ke Meja Pembaca
-
Ulasan Killing Season: Saat Dendam Masa Lalu Berujung Perang Gerilya yang 'Lanang Tenan'
-
Tanggal Tayang Rilis, Ini 5 Momen Penting dalam Novel Laut Bercerita
-
One Hundred Years of Solitude: Part 2, Akhir Tragis Generasi Kaum Buendia
Terkini
-
Rilis Trailer, The Remarried Empress Akan Tayang Perdana Mulai 4 November
-
Bukan Cuma Visual dan Komedinya, Ini 5 Hal Menarik dari 'My Bias, My Boss'
-
Bayar Tinggal Scan, Cashless Jadi Kebiasaan yang Sulit Ditinggalkan Gen Z
-
Dari Paylater ke Mindful Spending: Saat Gen Z Lebih Bijak Kelola Keuangan
-
Gelar Sarjana Bukan Tiket Emas: Kenapa Lulusan Baru Susah Dapat Kerja?