Ada masjid di Kabupaten Kediri yang dari luar mungkin terlihat seperti bangunan tempat ibadah pada umumnya. Namun, jika kita mau berhenti sebentar dan memperhatikan setiap sudutnya, ada cerita panjang yang tersimpan di balik dinding, tiang, pintu hingga mimbar bangunan.
Masjid Baiturrahman yang berada di Desa Tambakrejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri menjadi salah satu bangunan yang menyimpan jejak sejarah Islam di Kediri yang cukup panjang. Masjid tersebut diperkirakan berdiri sejak sekitar tahun 1830-an, sebuah masa ketika suasana di Pulau Jawa masih berada dalam bayang-bayang penjajahan Belanda.
Menariknya, berdirinya masjid tersebut tidak bisa dilepaskan dari perjalanan seorang prajurit yang pernah mengikuti perjuangan Pangeran Diponegoro.
Bermula dari Jawa Tengah Mengikuti Jejak Perjuangan
Kisah Masjid Baiturrahman bermula dari sosok Kyai Abdurrahman. Konon pada masa Perang Jawa, ia disebut menjadi salah satu prajurit yang berada dalam barisan Pangeran Diponegoro. Ketika Pangeran Diponegoro akhirnya ditangkap oleh Belanda, Kyai Abdurrahman memilih meninggalkan Jawa Tengah. Bersama para pengikutnya, ia bergerak menuju wilayah timur hingga akhirnya sampai di Kediri.
Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Kyai Abdurrahman kemudian membangun kehidupan baru dengan mendirikan pondok pesantren sekaligus masjid. Para santrinya pun tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar. Sebagian merupakan orang-orang dari Jawa Tengah yang ikut berpindah dan kemudian menetap di kawasan Kediri.
Dari tempat sederhana itulah aktivitas keagamaan berkembang. Masjid Baiturrahman kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang dakwah yang terus bertahan melewati pergantian zaman.
Pernah Dipugar, Tapi Wajah Lama Tetap Dijaga
Sekitar tahun 1925, Masjid Baiturrahman disebut mengalami renovasi. Bangunannya diperbesar agar mampu menampung lebih banyak jamaah. Meski sudah berusia sangat tua, bentuk utama masjid yang diwariskan sejak masa para pendahulunya masih berusaha dipertahankan.
Renovasi yang dilakukan pada masa-masa berikutnya pun tidak mengubah keseluruhan karakter bangunan. Perubahan lebih banyak menyentuh bagian tertentu saja, bagi sebagian orang, perubahan seperti itu mungkin terlihat sederhana. Namun justru dari situlah wajah lama masjid masih bisa dikenali.
Bangunan tua biasanya menghadapi pilihan yang tidak mudah. Mengikuti perkembangan zaman atau mempertahankan bentuk aslinya. Masjid Baiturrahman seperti memilih jalan tengah, tetap digunakan sebagaimana mestinya tanpa menghilangkan terlalu banyak jejak masa lalu.
Tulisan "Lillah" Ada di Banyak Sudut Masjid
Salah satu hal yang menurut saya membuat Masjid Baiturrahman berbeda adalah ornamen tulisan "lillah" yang dapat ditemukan di berbagai bagian bangunan. Tulisan tersebut bukan sekadar hiasan. Ada pesan sederhana yang ingin disampaikan kepada siapa pun yang datang untuk beribadah. Beberapa literatur yang saya kumpulkan menyebutkan bahwa 'Lillah' mengingatkan seseorang datang ke masjid hendaknya memiliki niat karena Allah, bukan karena kepentingan lain.
Pesan tersebut terasa semakin menarik karena tidak hanya ditempatkan di satu bagian. Tulisan itu dapat dijumpai pada tembok, tiang hingga pintu masjid. Seolah-olah setiap jamaah yang masuk kembali diingatkan tentang tujuan awalnya datang. Bukan sekadar memasuki sebuah bangunan, melainkan datang untuk beribadah dengan niat yang tulus. Keunikan lain terlihat pada bagian mimbar. Model mimbar yang digunakan masih mempertahankan desain lama dan berada di belakang posisi imam.
Sejauh pengamatan saya, sejumlah masjid yang telah berusia hampir dua abad, keberadaan mimbar dengan bentuk lama tentu menjadi bagian yang menarik untuk diperhatikan. Apalagi ketika banyak bangunan lama mengalami perubahan besar agar mengikuti desain masa kini. Di bagian depan masjid Baiturrahman dua menara yang tetap dipertahankan menjadi salah satu ciri khas bangunan ini hingga saat ini.
Melihat Masjid Baiturrahman hari ini membuat saya mengerti arti sebuah perjalanan waktu yang tidak mengenal tempat manapun. Kadang sejarah justru masih berdiri di tengah kampung, digunakan untuk salat setiap hari, dilalui jamaah, dan diam-diam menyimpan cerita tentang orang-orang yang hidup hampir dua abad lalu. Lebih dari itu, ada cerita dan nilai yang ikut dijaga lewat bangunannya agar tidak hilang ditelan zaman.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Masjid Riyadhus Sholihin Jember, Jejak Dakwah yang Tak Pernah Sepi Peziarah
-
Aroma Rokok Kretek Membekas di Ingatan Maarten Paes Saat Pertama Tiba di Jakarta
-
Bendera Bulan Bintang Berkibar di Aceh, Akademisi Soroti Rekonsiliasi yang Belum Tuntas
-
Wajib Tahu! Contoh Susunan Acara Maulid Nabi di Masjid yang Tertib dan Khidmat
-
Masjid Agung An-Nur Pare, Bangunan Modern yang Kental dengan Arsitektur Jawa
Ulasan
-
Kritik Manis PAW Patrol: The Dino Movie: Kenapa Anak-anak Harus Selalu Terlihat Berguna?
-
The Magician's Nephew: Menelusuri Penciptaan dan Asal Mula Dunia Narnia
-
Review Serial Reacher Season 2: Drama Kriminal Penuh Adrenalin dan Taktik!
-
Drakor Our Beloved Summer: Kisah Mantan Kekasih yang Bikin Gagal Move On
-
Bukit Premium Pasuruan: Negeri di Atas Awan Dekat Bromo yang Bikin Betah
Terkini
-
Resep Rahasia di Ujung Musim Dingin
-
Gabung Grup Maut AVC Women's 2026, Begini Peluang Timnas Voli Putri Indonesia
-
Jangan Bolak-balik Servis, Ini 5 Tanda Sudah Waktunya Kamu Ganti Laptop Baru
-
Yel-yel Regu Tulip di Jamnas 2026 Viral, Ghea Indrawari Nyanyikan Live!
-
Paradoks Jajanan SD versus MBG: Mengapa Proyek Besar Justru Rawan Keracunan?