Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Luntang-Luntung Si Gadis Taat. (Dok. Pribai/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Apa jadinya jika seseorang yang sepanjang hidupnya taat kepada agama tiba-tiba kehilangan keyakinan yang selama ini mengatur hidupnya? Pertanyaan itu menjadi pintu masuk untuk membaca Luntang-Lantung Si Gadis Taat, novel awal George Orwell yang jauh lebih jarang dibicarakan dibandingkan 1984 dan Animal Farm. Padahal, melalui cerita Dorothy Hare, Orwell sudah memperlihatkan ketertarikannya pada persoalan agama, kemiskinan, kelas sosial, dan kehidupan masyarakat Inggris. Novel ini memang tidak seterkenal dua karya tersebut, tetapi berbagai gagasan di dalamnya menunjukkan ciri khas Orwell yang kemudian berkembang dalam karya-karyanya yang lebih terkenal.

Dorothy Hare adalah anak perempuan seorang pendeta di Knype Hill. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengurus rumah, membantu pekerjaan ayahnya, dan menjalankan berbagai kegiatan gereja. Ia bangun pagi, menyiapkan makanan, mengurus kebutuhan jemaat, serta menyelesaikan pekerjaan rumah yang tidak pernah habis. Dorothy juga berusaha menjalankan kehidupan keagamaannya dengan sungguh-sungguh. Masalahnya, kehidupan tersebut lebih banyak berisi kewajiban daripada pilihan. Ia melakukan semuanya karena merasa memang itulah yang harus dilakukan. Sejak awal, Orwell memperlihatkan bahwa kehidupan Dorothy yang tampak saleh tidak selalu membuatnya bebas menentukan jalan hidupnya sendiri.

Kehidupan itu berubah setelah Dorothy kehilangan ingatan dan terbangun di London tanpa mengetahui siapa dirinya. Ia tidak dapat langsung kembali ke rumah ayahnya karena tidak mengetahui identitasnya sendiri. Dorothy kemudian menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda. Ia bekerja sebagai pemetik hop, berpindah bersama para pekerja miskin, dan mengalami kerasnya kehidupan di jalanan. Di London, ia bahkan harus mengemis untuk mendapatkan makanan. George Orwell membawa Dorothy ke jalanan untuk mempertemukannya dengan kemiskinan dan kehidupan orang-orang di luar dunia religius yang selama ini membentuk hidupnya. Perubahan tersebut membuat Dorothy melihat masyarakat dari posisi yang sebelumnya tidak pernah ia alami.

Bagian tentang kemiskinan menjadi salah satu bagian yang paling menarik. Orwell tidak menggambarkan orang miskin sebagai tokoh yang selalu baik dan pantas dikasihani. Ia menunjukkan kehidupan mereka apa adanya, termasuk kebiasaan buruk, kejahatan kecil, pertengkaran, dan usaha mencari uang dengan berbagai cara. Dorothy sendiri akhirnya berhadapan dengan hukum setelah terlibat dalam pencurian kecil. Dari sini terlihat bahwa kemiskinan dapat membuat seseorang kehilangan banyak pilihan. Ketika kebutuhan dasar saja sulit dipenuhi, pekerjaan apa pun menjadi penting, meskipun upahnya kecil dan kondisinya buruk. Kehidupan Dorothy di tengah masyarakat miskin juga memperlihatkan betapa mudahnya seseorang kehilangan martabat ketika tidak memiliki uang dan tempat untuk bergantung.

Setelah berbagai pengalaman tersebut, Dorothy mendapatkan pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah swasta yang dikelola dengan buruk. Bagian ini memperluas kritik Orwell terhadap masyarakat. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak-anak mendapatkan pendidikan justru lebih sibuk mempertahankan keberadaannya sendiri.

Kondisi murid tidak menjadi perhatian utama, sementara kualitas pengajaran juga jauh dari baik. Dorothy berada dalam posisi sulit karena harus mengajar dengan fasilitas terbatas dan menghadapi pengelola sekolah yang lebih memikirkan uang. Melalui pengalaman tersebut, Orwell menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan guru atau murid, tetapi juga dengan sistem yang membuat pendidikan dapat berubah menjadi urusan bisnis.

Namun, persoalan agama tetap menjadi bagian paling kuat dari novel ini. Dorothy sejak awal digambarkan sebagai perempuan yang sangat taat. Ia menghabiskan waktunya untuk gereja dan berusaha menjalankan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Ironisnya, setelah kehilangan ingatan dan menjalani kehidupan di luar lingkungan lamanya, pandangannya terhadap agama berubah.

Ketika ingatannya pulih, Dorothy pulang ke Knype Hill dan kembali tinggal bersama ayahnya. Ia kembali mengerjakan pekerjaan rumah dan membantu urusan gereja seperti sebelumnya. Bedanya, ia tidak lagi memiliki keyakinan agama yang dahulu menjadi dasar kehidupannya. Perubahan ini membuat akhir novel terasa menarik karena kehidupan Dorothy dari luar tampak kembali normal, sementara cara pandangnya terhadap kehidupan telah berubah. Orwell pun meninggalkan pertanyaan: apakah seseorang masih dapat menjalankan kehidupan beragama setelah ia tidak lagi percaya?

Sayangnya, novel ini memiliki ritme yang cukup lambat. Beberapa bagian terasa terlalu panjang dan tidak selalu memberikan perkembangan cerita dengan cepat. Konflik yang muncul juga cukup banyak sehingga pada beberapa bagian arah cerita terasa melebar. Namun, setelah melihat keseluruhan perjalanan Dorothy, pola tersebut mulai dapat dipahami.

Orwell memang tidak membuat cerita yang hanya berpusat pada satu persoalan. Ia menggunakan perjalanan Dorothy untuk memperlihatkan berbagai masalah dalam masyarakat Inggris pada masa itu. Agama, kemiskinan, pendidikan, kelas sosial, dan pekerjaan muncul melalui pengalaman sehari-hari Dorothy, sehingga kritik sosialnya tidak disampaikan seperti sebuah ceramah. Justru kehidupan yang tampak sederhana itulah yang membuat persoalan-persoalan tersebut perlahan terlihat.

Sebagai salah satu novel Orwell yang kurang populer, Luntang-Lantung Si Gadis Taat memang tidak menawarkan ketegangan seperti 1984 atau satire yang mudah dikenali seperti Animal Farm. Namun, novel ini tetap menarik karena memperlihatkan Orwell pada masa awal kepenulisannya.

Dorothy bukan hanya perempuan yang kehilangan ingatan, tetapi tokoh yang dipaksa menjalani kehidupan di luar lingkungan yang selama ini membentuk dirinya. Dari gereja, ia sampai ke jalanan; dari kehidupan yang teratur, ia berhadapan dengan kemiskinan; dan setelah kembali ke rumah, ia tidak lagi memiliki iman yang sama. Perjalanan itulah yang membuat novel ini layak dibaca, terutama bagi pembaca yang ingin melihat bagaimana George Orwell mulai mengembangkan kritiknya terhadap masyarakat melalui kisah seorang gadis yang kehilangan pegangan hidupnya.