Sekar Anindyah Lamase | Ryan Farizzal
Salah satu adegan di film Operasi Pesta Copet (IMDb)
Ryan Farizzal

Operasi Pesta Copet merupakan film komedi kriminal laga Indonesia yang disutradarai oleh Edy Khemod dalam debut penyutradaraan film panjangnya.

Film ini tayang perdana di bioskop Indonesia secara serentak pada 27 Agustus 2026. Diproduksi oleh Imajinari bersama Angin Segar dan Boss Creator, dengan produser Ernest Prakasa, Dipa Andika, Iqbaal Ramadhan, dan James Erlangga, film berdurasi 113 menit ini mendapat klasifikasi 13+.

Awalnya diperkenalkan dengan judul Operasi Pestapora, judul kemudian diganti menjadi Operasi Pesta Copet agar lebih langsung menyampaikan fokus cerita.

Strategi Pencopetan Massal di Konser Musik

Salah satu adegan di film Operasi Pesta Copet (IMDb)

Cerita berpusat pada Ijal (Iqbaal Ramadhan), seorang pemuda yang hidupnya berantakan setelah terkena PHK dan mengetahui ibunya terjerat utang.

Dibantu sahabatnya Adut (Kristo Immanuel), keduanya mencoba berbagai pekerjaan serabutan, termasuk menjadi badut jalanan, namun hasilnya tidak mencukupi.

Mereka kemudian bertemu Silet (Fauzan Lubis) yang mengajarkan teknik pencopetan. Ijal mengajak Tia (Zulfa Maharani) dan Melodi (Kawai Labiba), yang lebih memahami skena musik Indonesia, untuk merencanakan aksi pencopetan massal di festival musik Pestapora, salah satu festival lokal terbesar yang ramai dan meriah. Operasi tersebut dirancang secara terstruktur dengan tahapan seperti ngalih, mutus, nadah, dan ngambang.

Inspirasi film berasal dari pengalaman nyata Edy Khemod sebagai drummer Seringai, yang sering menyaksikan aksi pencopetan di konser-konser musik.

Alih-alih meromantisasi kejahatan, film ini menampilkan tekanan ekonomi urban sebagai pendorong utama tanpa menghakimi berlebihan.

Produksi dilakukan dengan skala ambisius: sebagian syuting berlangsung di tengah festival Pestapora yang sesungguhnya, melibatkan ratusan figuran, serta rekaman suasana kerumunan asli yang dipadukan dengan set studio. Hal ini memberikan autentisitas visual yang jarang dijumpai dalam film Indonesia bertema heist.

Ulasan Film Operasi Pesta Copet

Poster film Operasi Pesta Copet (IMDb)

Dari sisi akting, Iqbaal Ramadhan menampilkan transformasi fisik dan emosional yang meyakinkan sebagai Ijal yang terdesak.

Chemistry keempat pemeran utama terasa natural, didukung improvisasi dialog yang mengalir, khususnya dari Kristo Immanuel yang membawa humor spontan.

Zulfa Maharani dan Kawai Labiba memberikan nuansa segar, sementara Fauzan Lubis dalam debut layar lebarnya menambah kedalaman sebagai mentor yang lebih berpengalaman.

Humor muncul dari kekakuan karakter yang baru mengenal dunia konser rock dan metal—mulai dari reaksi terhadap moshing hingga wall of death—yang terasa organik, bukan lelucon yang dipaksakan.

Penyutradaraan Edy Khemod memanfaatkan pendekatan semi-dokumenter di bagian awal, dengan sekuens wawancara Ijal di kantor polisi yang diselingi flashback.

Format ini memberikan ritme segar sebelum beralih ke eksekusi rencana di lapangan. Editing yang mulus, disertai soundtrack dari sejumlah band lokal, memperkuat suasana festival.

Film berhasil memadukan komedi, ketegangan aksi, dan komentar sosial tentang kesulitan ekonomi kaum muda tanpa terjebak klise.

Adegan paling menegangkan terjadi selama eksekusi operasi di tengah kerumunan Pestapora. Keempat karakter bergerak di antara ribuan penonton sambil menjalankan tahapan pencopetan yang terkoordinasi.

Ketegangan memuncak saat risiko ketahuan meningkat, disertai aksi kejar-kejaran dan gangguan tak terduga yang mengancam rencana.

Suasana desak-desakan, suara musik yang menggelegar, serta tekanan waktu menciptakan intensitas yang membuatku ikut merasakan kecemasan para karakter.

Konflik internal di antara anggota kelompok, termasuk ketika Silet yang baru selesai menjalani masa tahanan ingin bergabung, menambah lapisan ketegangan emosional.

Adegan yang paling kukngat setelah menonton adalah momen pembelajaran para karakter tentang skena musik festival. Ijal, Adut, dan Tia yang awam harus memahami perilaku penonton konser, termasuk aksi moshing yang mereka anggap mirip tawuran.

Dialog-dialog improvisasi yang jenaka, ditambah penampilan kameo yang mengejutkan—seperti momen dengan Rhoma Irama—meninggalkan kesan mendalam.

Adegan-adegan tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga menggambarkan kesenjangan antara dunia jalanan dan komunitas musik dengan cara yang ringan namun tajam.

Secara keseluruhan, Operasi Pesta Copet menawarkan tontonan segar dalam genre heist lokal. Film ini berhasil mengangkat fenomena sosial nyata ke dalam kemasan hiburan yang autentik, dengan produksi yang berani dan penampilan para aktor yang solid.

Bagi penonton yang menyukai komedi kriminal dengan latar yang dekat dengan realitas, film ini layak disaksikan di bioskop. Kombinasi aksi, humor, dan pesan tentang tekanan hidup menjadikannya salah satu karya yang meninggalkan kesan setelah kredit penutup. Rating pribadi: 8.5/10.