Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Khadam (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Khadam (2026) merupakan karya horor kolaborasi Malaysia–Indonesia yang digarap oleh sutradara Shamyl Othman dengan skenario Fariza Azlina Isahak. Produksi ini melibatkan Red Communications dan Komet Productions bersama Magma Entertainment serta VMS Studios.

Film berdurasi sekitar 118 menit ini dibintangi Aghniny Haque dalam peran utama sebagai Melor, didukung Datuk Remy Ishak sebagai Awang, Siti Khadijah Halim sebagai Manis, Zarra Zaff sebagai Puteh, Karl El sebagai Hitam, serta June Lojong sebagai Nek Mak.

Film ini resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 16 September 2026, didistribusikan oleh CBI Pictures. Sebelumnya, Khadam telah dirilis di Malaysia pada 11 Juni 2026 dan meraih respons positif serta pencapaian box office yang solid, kemudian dilanjutkan penayangan di Kamboja dan Singapura. Gala premiere di Jakarta digelar pada 14 September 2026 di CGV Grand Indonesia.

Kisah Mistik Entitas Gaib yang Mengerikan dan Penuh Teror

Tangkapan layar adegan di film Khadam (Instagram/khadamthemovie)

Latar cerita berada di Malaya era 1950-an, di sebuah rumah terisolasi di tengah hutan. Melor, seorang ibu tunawicara, tinggal bersama dua anaknya dan merawat sang nenek yang kondisinya semakin memburuk. Setelah kematian ibunya, Melor terpaksa mewarisi Khadam—entitas gaib atau saka turun-temurun yang dalam kepercayaan Melayu berfungsi sebagai pendamping untuk membantu pemiliknya.

Awalnya, setelah Melor menerima dan memberi makan entitas tersebut, kehidupan keluarga menjadi lebih mudah. Akan tetapi perlahan Khadam berubah agresif, menjelma sebagai versi Melor yang lebih sempurna, mempelajari gerak-geriknya, dan mulai mengambil alih peran sebagai ibu serta istri. Ketika anggota keluarga lain mencoba mengusirnya, ancaman semakin meningkat dan membahayakan seluruh rumah tangga.

Ulasan Film Khadam

Tangkapan layar adegan di film Khadam (Instagram/khadamthemovie)

Overall, Khadam bukan horor yang mengandalkan kejutan visual berulang atau penampakan berlebih. Shamyl memilih pendekatan slow-burn yang membangun ketegangan melalui atmosfer, kesunyian, desain suara, dan perkembangan karakter. Sinematografi memanfaatkan lokasi hutan yang gelap dan terpencil, menciptakan rasa terperangkap.

Musik dan sound design memperkuat perasaan sesak tanpa perlu banyak dialog. Kekuatan utama terletak pada penampilan Aghniny Haque. Sebagai Melor yang tidak berbicara sama sekali, ia menyampaikan emosi mendalam hanya melalui ekspresi wajah, gestur, dan bahasa tubuh. Perbedaannya dengan Khadam—yang juga digambarkan melalui tubuhnya—terasa jelas: Melor rapuh dan penuh tekanan, sementara entitas tersebut semakin mengganggu dan menguasai. Chemistry dengan para pemeran anak serta pendukung lainnya menambah kedalaman drama keluarga.

Tema yang diangkat melampaui sekadar teror gaib. Film ini menyentuh persoalan pengorbanan seorang ibu, ketergantungan, kehilangan kendali atas identitas diri, serta dinamika kuasa dalam rumah tangga, termasuk nuansa patriarki.

Khadam awalnya menjadi solusi bagi kesulitan hidup, akan tetapi kemudian berbalik menjadi ancaman yang mengikis keberadaan Melor. Konsep jangan sampai jadi tuan menjadi inti yang mengingatkan bahwa ketergantungan pada kekuatan di luar diri dapat mengorbankan yang lebih berharga.

Adegan yang paling menyeramkan cenderung bukan yang penuh efek visual mengejutkan, melainkan momen-momen ketika Khadam secara perlahan meniru dan menggantikan Melor. Kehadiran entitas yang diam-diam mengamati dari sudut gelap rumah, saat keluarga sedang melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan atau tidur di bawah kelambu, menciptakan ketidaknyamanan yang mendalam.

Agresi entitas saat keberadaannya diganggu—menyakiti anggota keluarga termasuk anak-anak dan Melor sendiri—juga membangun teror psikologis yang intens. Suasana sunyi yang tiba-tiba terganggu oleh kehadiran versi lain Melor memberikan rasa mencekam yang bertahan lama.

Adapun adegan yang paling kuingat setelah menonton film ini ada pada perjuangan emosional Melor dan konsekuensi pilihan yang dihadapinya. Momen-momen di mana ia harus melindungi anak-anaknya sambil perlahan kehilangan kendali atas hidupnya sendiri meninggalkan kesan kuat.

Penampilan Aghniny yang tanpa dialog, ditambah interaksi keluarga yang natural, membuat penonton merasakan kepedihan dan pengorbanan seorang ibu secara nyata. Film ini lebih banyak meninggalkan perasaan sesak dan refleksi tentang identitas serta harga yang harus dibayar untuk menjaga keluarga, ketimbang sekadar ketakutan sesaat.

Film ini sangat aku rekomendasikan untuk penikmat horor atmosferik dan drama psikologis yang mengutamakan kedalaman cerita serta akting solid. Temponya yang lambat mungkin tidak cocok bagi mereka yang mengharapkan kejutan cepat, tapi buat kamu yang menghargai pembangunan ketegangan secara bertahap dan eksplorasi tema budaya serta keluarga, film ini menawarkan pengalaman yang berkesan. Dengan kualitas produksi yang matang dan kolaborasi regional yang solid, Khadam menjadi salah satu tawaran horor Asia yang patut diperhatikan pada tahun 2026. Rating pribadi: 8.6/10.