Hayuning Ratri Hapsari | Athar Farha
Poster Film The Whisper Man (Netflix)
Athar Farha

Nama besar sering menjadi jalan tercepat untuk membuat sebuah film terlihat menarik. Apalagi kalau nama yang dikumpulkan adalah Robert De Niro dan Adam Scott. Keduanya datang dari generasi dan pengalaman yang berbeda, punya rekam jejak kuat, lalu dipertemukan dalam sebuah thriller kriminal yang seharusnya punya hubungan ayah-anak sebagai jantung emosionalnya. Sayangnya, setelah nonton Film The Whisper Man, anehnya dua aktor bagus ini begitu sulit menyatu. Lho, kok gitu?

The Whisper Man merupakan film thriller kriminal Netflix produksi AGBO, perusahaan milik Anthony dan Joe Russo. Film ini disutradarai James Ashcroft dengan skenario Ben Jacoby dan Chase Palmer, berdasarkan novel laris karya Alex North. Filmnya dibintangi Robert De Niro sebagai Peter Willis, Adam Scott sebagai Tom Kennedy, Michelle Monaghan sebagai Detective Amanda Beck, Hamish Linklater, Owen Teague sebagai Frank Carter Jr., Acston Luca Porto sebagai Jake Kennedy, serta Michael Keaton sebagai Frank Carter, The Whisper Man asli. Film ini tayang di Netflix pada 28 Agustus 2026 dengan durasi sekitar 111 menit.

Ceritanya mengikuti Tom Kennedy, penulis novel kriminal yang baru kehilangan istrinya. Bersama putranya yang berusia delapan tahun, Jake, Tom pindah ke Featherbank, kota yang pernah diteror pembunuh berantai bernama The Whisper Man. Kehidupan baru yang diharapkan membawa ketenangan malah berubah jadi mimpi buruk ketika Jake hilang.

Kasus tersebut semakin mengerikan karena cara penculikan Jake mengingatkan orang-orang pada kejahatan The Whisper Man yang sudah lama ditangkap. Sosok yang dahulu meneror anak-anak itu adalah Frank Carter, diperankan Michael Keaton, sementara orang yang berhasil menangkapnya adalah Peter Willis, mantan detektif yang kini sudah pensiun.

Masalahnya, Peter bukan sekadar mantan polisi yang mengetahui kasus lama tersebut. Dia adalah ayah Tom.

Hubungan keduanya sudah lama retak. Tom masih menyimpan luka karena merasa ayahnya terlalu tenggelam dalam pekerjaan sampai keluarga mereka ikut hancur. Kini, ketika cucunya diculik, Tom terpaksa meminta bantuan kepada ayah yang selama ini dia jauhi. Amanda Beck kemudian ikut menggali kembali kasus lama tersebut dan menemukan fakta mengejutkan. Penculikan Jake rupanya memiliki hubungan dengan warisan kejahatan The Whisper Man. 

Apa itu? Sobat Yoursay tonton langsung di Netflix agar kejutannya nggak mengganggu pengalaman nontonmu, ya!

Nama Besar Bukan Jaminan Chemistry

Aku sama sekali nggak meragukan kemampuan Robert De Niro dan Adam Scott sebagai aktor.

Robert De Niro punya pengalaman luar biasa panjang dalam memerankan karakter dengan luka, kemarahan, penyesalan, maupun sisi emosional yang rumit. Adam Scott juga sudah menunjukkan kemampuan dramatis yang kuat, terutama lewat karakter-karakter yang mampu memperlihatkan tekanan batin tanpa harus selalu berteriak atau menangis.

Karena itu, aku nonton Film The Whisper Man dengan ekspektasi tinggi, misalnya menikmati hubungan mereka sebagai ayah dan anak, yang akan menjadi sesuatu yang sangat kuat.

Sayangnya, ekspektasi itu nggak sepenuhnya terbayar. Gitu deh! Ketika Tom dan Peter berada dalam satu adegan, aku malah sering merasa sedang melihat dua aktor bagus yang kebetulan berdiri di depan kamera secara bersamaan. Aku melihat akting mereka, memahami dialognya, dan tahu hubungan mereka penting bagi cerita. Hanya saja, aku nggak merasakan titik emosionalnya. 

Ini persoalan yang menurutku lebih besar daripada sekadar chemistry antar pemain. Chemistry bisa muncul ketika naskah memberikan sejarah yang cukup kuat pada dua karakter untuk saling bereaksi. Tatapan bisa terasa berat karena penonton memahami apa yang pernah terjadi. Diam bisa terasa menyakitkan karena ada sesuatu yang belum selesai. Bahkan kalimat simpel saja, bisa punya bobot ketika hubungan kedua karakter sudah dibangun sejak awal.

Ya, Film The Whisper Man kayak nuntut diriku buat percaya Tom dan Peter punya luka keluarga yang sangat dalam, sementara filmnya sendiri belum cukup berhasil membuat luka tersebut senyata mungkin.

Peter seharusnya menjadi sosok ayah yang membawa rasa kecewa sekaligus rasa bersalah. Tom seharusnya jadi anak yang marah, kecewa, tapi masih membutuhkan ayahnya ketika keadaan paling buruk datang. Konflik seperti ini sebenarnya relevan banget. Sayangnya yang kudapatkan dari konflik batin mereka terlalu tipis, setipis kue lapis. Ups. 

Yang jelas, persoalannya kembali pada penulisan karakter. Adam Scott terlihat berusaha membawa beban Tom. Ada rasa panik sebagai seorang ayah, kemarahan terhadap Peter, dan ada keputusasaan karena anaknya menghilang. Robert De Niro juga ngasih pendekatan yang lebih tertahan sebagai Peter, mantan detektif yang sudah lama membawa beban masa lalu. Secara individu, keduanya bekerja. Ketika digabungkan? Hasilnya kurang menggigit. Duh!

Sampai di sini paham, ya? Aktor hebat tetap membutuhkan naskah yang memberi mereka hubungan yang layak untuk dimainkan. Bila Sobat Yoursay penasaran dan bisa mengesampingkan pendapatku perihal film ini, coba deh cek Netflix dan nonton langsung.