Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Relung yang Patah (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Buku ini terasa seperti menemukan catatan seseorang yang selama ini diam-diam menyimpan terlalu banyak hal di dalam kepala. Tidak ada halaman pembuka, tidak ada identitas penulis, penerbit, tahun terbit, bahkan daftar isi yang biasanya menjadi bagian wajib sebuah buku. Begitu dibuka, pembaca langsung disambut kalimat-kalimat reflektif tentang cinta, kehilangan, luka, dan perjalanan berdamai dengan masa lalu.

Relung yang Patah karya Arin ini punya keunikan yang justru menjadi daya tarik tersendiri. Buku ini diterbitkan secara self-publishing, sehingga format dan penyajiannya terasa lebih personal. Tidak terlalu terikat pada pakem buku konvensional, penulis seperti ingin langsung berkomunikasi dengan pembaca melalui potongan-potongan perasaan yang dituliskan apa adanya. Sampul birunya yang sederhana tetapi cantik, ditambah format hard cover, memberikan kesan eksklusif sekaligus tenang.

Isi Buku

Buku ini mengangkat tema yang sangat dekat dengan pengalaman banyak orang. Pernah mencintai seseorang, kehilangan, gagal mempertahankan hubungan, lalu perlahan belajar melepaskan. Namun, buku ini tidak berhenti pada kisah patah hati. Ada perjalanan menuju penerimaan diri yang terasa cukup kuat.

Salah satu gagasan yang terus muncul adalah bahwa hidup tidak pernah benar-benar berhenti hanya karena seseorang pergi. Ada kalanya kita ingin tetap tinggal di masa lalu karena di sanalah kenangan terbaik berada. Kita tahu harus melangkah, tetapi kaki terasa berat. Kita mengatakan sudah siap melepaskan, tetapi tangan masih menggenggam terlalu erat.

Kalimat semacam ini terasa sederhana, tetapi justru mudah mengena karena menggambarkan konflik batin yang sering sulit dijelaskan. Kita tidak selalu gagal move on karena masih mencintai seseorang. Kadang kita hanya belum siap menerima bahwa sebuah hubungan memang sudah selesai.

Menariknya, buku ini juga tidak menggambarkan melepaskan sebagai sebuah kemenangan besar. Melepaskan justru digambarkan sebagai proses yang berlangsung perlahan, bahkan hampir tanpa disadari. Ada masa ketika seseorang berulang kali mencoba melupakan, memaksa diri untuk pergi, dan meyakinkan hati bahwa semuanya sudah selesai. Namun, semakin dipaksakan, semakin terasa bahwa kenangan masih berada di tempatnya.

Sampai suatu hari, tanpa seremoni apa pun, kita sadar bahwa ternyata sudah tidak lagi menunggu. Di titik tersebut, melepaskan bukan berarti berhenti menyayangi. Melepaskan adalah kesediaan menerima kenyataan bahwa seseorang tidak bisa dipaksa untuk tinggal. Sebesar apa pun cinta yang diberikan, hubungan tetap membutuhkan dua orang yang sama-sama memilih untuk hadir.

Kelebihan dan Kekurangan

Pesan tentang keberhargaan diri juga menjadi bagian penting. Buku ini mengingatkan bahwa seseorang tidak seharusnya terus menerima hubungan yang setengah-setengah hanya karena takut kehilangan. Ada perbedaan antara mempertahankan seseorang dan mempertahankan sesuatu yang memang masih layak diperjuangkan.

Terkadang, seseorang yang kita cintai bisa saja memiliki hampir semua kualitas yang kita cari. Ia mungkin baik, menyenangkan, cerdas, dan begitu berarti. Tetapi jika ia tidak mampu memilih kita sepenuhnya atau tidak hadir ketika kita membutuhkannya, cinta saja tidak selalu cukup.

Gagasan tersebut membuat buku ini terasa lebih dari sekadar kumpulan tulisan patah hati. Ada semacam ajakan untuk belajar mengenali batas, memahami kebutuhan emosional, dan berhenti menganggap kehilangan sebagai bukti bahwa diri kita tidak cukup baik.

Bahasanya pun cenderung sederhana dan langsung. Tidak terasa seperti sedang membaca tulisan yang berusaha terlalu keras menjadi puitis. Justru karena menggunakan kalimat-kalimat reflektif yang dekat dengan percakapan batin, buku ini cocok dibaca perlahan. Beberapa bagian mungkin terasa seperti sedang membaca isi jurnal seseorang, sementara bagian lainnya seperti surat yang tidak pernah benar-benar dikirim kepada orang yang pernah dicintai.

Pada akhirnya, buku ini berbicara tentang satu hal yang sebenarnya sederhana tetapi sulit dilakukan: menerima bahwa tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk tinggal.

Kenangan tidak harus dihapus. Masa lalu tidak perlu dibenci. Cinta yang pernah diberikan juga tidak harus dianggap sia-sia. Tetapi semuanya perlu ditempatkan pada tempatnya. Sebab kehidupan tetap berjalan, dan masa depan tidak pernah meminta kita terus-menerus menoleh ke belakang.

Mungkin, inti buku ini memang bukan tentang bagaimana melupakan seseorang. Melainkan bagaimana akhirnya mampu berkata kepada diri sendiri: aku pernah mencintaimu dengan sungguh-sungguh, tetapi sekarang aku memilih untuk mencintai hidupku juga.

Identitas Buku

  • Judul: Relung Yang Patah
  • Penulis: Arin
  • Penerbit: Self Publishing
  • Tahun Terbit: 2025
  • Kategori: Prosa, Puisi, Diary