What Happened to You? karya James Catchpole adalah buku bergambar yang mengajak anak memahami disabilitas dengan cara sederhana. Ceritanya mengikuti Joe, seorang anak yang memiliki perbedaan pada salah satu kakinya.
Buku ini mengangkat pertanyaan yang sering diterima anak penyandang disabilitas tanpa menghakimi siapa pun.
Joe sebenarnya hanya ingin bermain bersama anak-anak lain di taman bermain. Namun, setiap kali ia muncul, pertanyaan tentang kakinya kembali terdengar. Mereka penasaran dan terus menebak apa yang mungkin terjadi pada Joe.
Ada yang membayangkan hiu, pencuri, singa, bahkan kemungkinan yang terdengar konyol. Bagi anak-anak dalam cerita, semua tebakan itu mungkin terasa lucu dan menghibur.
Bagi Joe, perhatian tersebut justru membuatnya lelah karena dirinya terus dilihat dari kondisi tubuhnya.
Di sinilah kekuatan utama What Happened to You? terasa begitu jelas. Buku ini menunjukkan bahwa rasa ingin tahu anak adalah hal yang wajar. Namun, rasa ingin tahu tidak berarti seseorang wajib menjawab setiap pertanyaan.
Joe memiliki hak untuk memilih apakah ingin menceritakan tentang kakinya atau tidak. Ia juga berhak menentukan kapan, kepada siapa, dan dalam situasi apa ia ingin berbicara. Pesan ini penting karena membantu anak memahami batasan pribadi.
Cerita karya James Catchpole terasa kuat karena terinspirasi dari pengalaman masa kecil penulis sendiri. Pengalaman tersebut membuat emosi Joe terasa jujur, dekat, dan tidak dibuat-buat.
Pembaca dapat merasakan betapa melelahkannya ketika pertanyaan yang sama terus berulang.
Meski membawa tema serius, buku ini tidak terasa berat ketika dibaca. Humor hadir melalui pertanyaan-pertanyaan polos dan imajinasi anak-anak tentang penyebab kaki Joe.
Kelucuan tersebut membuat pembahasan tentang disabilitas terasa lebih ramah bagi pembaca muda.
Ilustrasi Karen George juga menjadi bagian penting dari daya tarik buku ini. Gambar-gambarnya hangat, ekspresif, dan membantu menjaga suasana cerita tetap ceria. Ruang putih dan ilustrasi yang lembut membuat pembaca lebih mudah mengikuti emosi Joe
Kelebihan lain buku ini adalah caranya menempatkan anak penyandang disabilitas sebagai tokoh utama. Joe tidak digambarkan sebagai sosok yang harus dikasihani atau selalu membutuhkan pertolongan.
Ia adalah anak yang ingin bermain, berimajinasi, bersenang-senang, dan memiliki pilihan sendiri.
Buku ini juga mengajarkan bahwa membantu seseorang harus dilakukan dengan menghormati pilihannya. Tawaran bantuan boleh diberikan ketika memang diperlukan. Namun, penolakan terhadap bantuan juga perlu diterima.
Pesan tentang kemandirian terasa penting untuk dikenalkan sejak dini. Anak-anak perlu belajar bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan dan batasan berbeda. Karena itu, tidak ada satu cara yang berlaku untuk semua penyandang disabilitas.
Menurut saya, kekuatan buku ini bukan hanya pada pesan edukasinya. Ceritanya tetap menyenangkan sebagai sebuah buku bergambar tentang anak-anak yang ingin bermain. Pesan tentang disabilitas hadir secara alami melalui pengalaman Joe di taman bermain.
Buku ini cocok dibaca bersama anak usia prasekolah hingga awal sekolah dasar. Edisi yang diterbitkan Hachette mencantumkan rentang usia empat sampai delapan tahun. Orang dewasa juga dapat memperoleh bahan refleksi dari cerita ini.
Salah satu pelajaran terpenting adalah bahwa seseorang tidak harus menjelaskan tubuhnya kepada orang lain. Kita boleh penasaran, tetapi kita juga perlu memahami kapan rasa penasaran harus berhenti.
Menghormati seseorang berarti melihat dirinya lebih luas daripada perbedaan yang tampak.
Secara keseluruhan, What Happened to You? adalah buku yang menawan, cerdas, dan penting. James Catchpole berhasil menyampaikan topik disabilitas melalui cerita yang ringan tanpa menghilangkan makna utamanya.
Buku ini layak menjadi pilihan untuk keluarga dan sekolah yang ingin menumbuhkan empati sejak kecil.
Jika mencari buku anak tentang disabilitas yang hangat dan mudah dipahami, buku ini patut dipertimbangkan. What Happened to You? bukan sekadar cerita tentang kaki Joe.
Ini adalah cerita tentang belajar mengenal seseorang tanpa menjadikan perbedaannya sebagai satu-satunya hal yang terlihat.
Baca Juga
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi
-
Bukan Kisah Menyeramkan, Ini Keunikan Persahabatan di Buku The Skeleton and the Cat
-
Fourteen Ways of Looking at Jellyfish: 14 Cara Melihat Keajaiban Ubur-Ubur
-
I Am Not Happy!: Cerita Quokka tentang Perasaan yang Sering Disalahpahami
-
Wombat Waiting: Kisah Anjing yang Tak Pernah Berhenti Menunggu
Artikel Terkait
Ulasan
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi
-
Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit
-
Drama Korea Would You Marry Me?: Pernikahan Palsu demi Rumah Mewah
Terkini
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan