Bagaimana kalau ternyata Nusantara di masa lalu bukan sekadar pusat perdagangan rempah, tetapi pernah memiliki teknologi yang jauh melampaui zaman modern? Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu daya tarik The Atala karya Lyraemoon atau Ghian Zannuba Azzahira. Novel fantasi ini memadukan sejarah, teori konspirasi, perjalanan waktu, misteri, dan sedikit bumbu konflik antarkarakter yang membuat ceritanya terasa berbeda. Diterbitkan oleh Fantasious pada 2024, The Atala memiliki tebal 300 halaman.
Sinopsis Novel
Seraeris Agartha, atau Sera, seorang siswi SMA Megalitha yang sangat menyukai sejarah. Ia bahkan sering membagikan tulisan tentang sejarah dan teori konspirasi melalui akun media sosialnya. Kegemaran Sera terhadap sejarah kemudian membawanya pada sebuah penemuan aneh.
Di perpustakaan sekolah, ia menemukan sebuah buku yang disembunyikan. Judulnya The Atala. Sebagai seseorang yang memang penasaran terhadap hal-hal berbau sejarah, Sera tentu tidak melewatkan kesempatan untuk membaca dan membawa buku tersebut pulang.
Isi buku itu justru membuat Sera semakin bingung. The Atala menceritakan sebuah negara maju yang dipercaya pernah ada sekitar 12.000 tahun lalu. Negara tersebut mempunyai teknologi yang sangat canggih, termasuk alat transportasi dan berbagai teknologi yang bahkan terasa lebih maju dibandingkan teknologi manusia modern. Buku itu juga dilengkapi gambar serta peta yang membantu pembaca membayangkan seperti apa negara Atala. Masalahnya, bagaimana seseorang bisa mengetahui semua itu?
Atala sudah lama sekali menghilang. Bahkan keberadaannya terdengar seperti sesuatu yang mustahil. Dari mana penulis buku tersebut mendapatkan informasi, menyusun teori, bahkan memperoleh gambaran teknologi yang seharusnya sudah tidak tersisa? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian membawa Sera semakin jauh.
Penjelasan mengenai Atala juga cukup detail. Peta yang disertakan menjadi nilai tambah karena pembaca tidak hanya diberi penjelasan melalui teks, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai wilayah yang menjadi pusat cerita. Konsep tentang Nusantara sebagai pusat teknologi, industri, dan perkembangan peradaban juga membuat premis novel ini terasa menarik untuk diikuti.
Kelebihan dan Kekurangan
Salah satu hal yang paling saya sukai dari novel ini adalah tema yang diangkat. Perpaduan sejarah dan perjalanan waktu membuat saya teringat pada seri Bumi karya Tere Liye, terutama ketika membayangkan bagaimana rasanya melihat langsung dunia masa lalu yang selama ini hanya dikenal melalui buku.
Namun, ada sedikit perbedaan antara ekspektasi saya dan isi cerita. Dari blurb-nya, saya awalnya mengira petualangan Sera di Atala akan menjadi bagian paling dominan. Saya membayangkan eksplorasi dunia masa lalu, teknologi kuno, berbagai tempat baru, dan lebih banyak adegan aksi. Ternyata, porsi pembahasan teori justru terasa lebih besar dibandingkan petualangan langsung Sera di Atala.
Meski begitu, alurnya sejak awal cukup tertata dan mudah diikuti. Beberapa pertanyaan memang belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dan terdapat sejumlah plot hole yang terasa mengganjal. Namun, anehnya, justru bagian yang belum terjawab itu membuat saya semakin penasaran.
Konflik dalam novel juga terasa cukup tegang dan intens. Ketika Sera mulai terlibat lebih jauh dalam upaya mengungkap sejarah yang selama ini tersembunyi, persoalannya tidak lagi berhenti pada rasa penasaran pribadi. Informasi yang ia bagikan dapat menimbulkan pro dan kontra, bahkan menyeretnya ke dalam konflik yang lebih besar.
Sera sendiri menjadi tokoh yang cukup menarik sekaligus membuat gemas. Novel menggunakan sudut pandangnya sehingga pembaca bisa mengikuti cara berpikir dan reaksinya secara dekat. Namun, Sera juga digambarkan egois, keras kepala, dan sering bertindak tanpa berpikir panjang. Sifat tersebut memang kadang membuat kesal, tetapi di sisi lain juga membuat karakternya terasa punya warna.
Ada pula Liam yang menurut saya mempunyai chemistry menarik dengan Sera. Hubungan mereka bahkan membuat saya berharap keduanya bisa berkembang menjadi pasangan dengan trope rival to lovers. Interaksi mereka terasa punya potensi yang sayang jika tidak dikembangkan lebih jauh. Sayangnya, beberapa karakter lain justru belum mendapatkan eksplorasi yang cukup. Padahal, mereka sebenarnya mempunyai potensi untuk membuat dunia The Atala menjadi lebih hidup. Ending-nya juga terasa cukup menggantung.
Namun, karena cerita membawa konsep perjalanan waktu, akhir semacam ini masih bisa diterima dan justru membuka ruang untuk kelanjutan cerita. The Atala merupakan novel dengan konsep yang menarik, terutama bagi pembaca yang menyukai sejarah, teori konspirasi, fantasi, dan time travel. Meski petualangan di Atala terasa terlalu singkat dibandingkan ekspektasi saya.
Identitas Buku
- Judul: The Atala
- Penulis: Lyraemoon (Ghian Zannuba Azzahira)
- Penyunting: Dana Sudartoyo
- Penerbit: Fantasious
- Tahun Terbit: 2024
- Tebal: 300 halaman
- ISBN: 978-623-310-229-2
- Kategori: Fiksi, Novel Fantasi
Baca Juga
-
Meneladani Spirit Pemimpi di Negeri Orang dalam Buku Lost in the USA
-
Indonesia Tak Cukup Mencetak Insinyur, Kita Harus Membangun Industrinya
-
Ancaman Krisis Pangan 2027, tapi MBG Berisiko Membuang Jutaan Ton Makanan?
-
PPN Pembalut Bukan Aturan Baru, Lantas Mengapa Baru Ramai Dipersoalkan?
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
-
Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita
-
Review Buku Hidden Figures: Saat Kecerdasan Tidak Mengenal Ras dan Gender
Terkini
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!
-
5 HP Android dengan Kamera Bagus untuk Kamu yang Mau Mulai Ngonten
-
Anime IruMafia Edition Tayang Januari 2027, Kisah Iruma di Kehidupan Mafia
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Ruang Publik Bebas Rokok Adalah Hak Kita Semua