Sabtu Bersama Bapak merupakan novel karya Adhitya Mulya yang diterbitkan GagasMedia pada 2014. Novel setebal sekitar 278 halaman ini mengangkat cerita tentang keluarga, cinta, serta hubungan antara orang tua dan anak.
Cerita berfokus pada kehidupan Satya dan Cakra setelah mereka beranjak dewasa. Dengan bahasa yang ringan dan diselingi humor, Adhitya Mulya menghadirkan berbagai persoalan keluarga, mulai dari kehidupan rumah tangga hingga hubungan dengan orang tua.
Kehidupan Satya dan Cakra
Cerita berawal dari keluarga Gunawan Garnida dan Itje yang memiliki dua anak, Satya dan Cakra. Saat keduanya masih kecil, Gunawan mengetahui bahwa penyakit yang dideritanya membuat hidupnya tidak akan lama. Ia kemudian membuat sejumlah rekaman berisi pesan untuk anak-anaknya agar tetap bisa mendampingi mereka meskipun sudah tidak ada.
Setelah Gunawan meninggal, Itje membesarkan Satya dan Cakra sendiri. Setiap Sabtu, keduanya menonton rekaman yang dibuat bapaknya. Waktu berlalu dan Satya serta Cakra tumbuh dewasa dengan kehidupan masing-masing. Satya menikah dengan Rissa dan memiliki anak, sedangkan Cakra sudah sukses dalam pekerjaan tetapi masih belum menemukan pasangan.
Kehidupan Satya tidak selalu berjalan mulus. Kesibukan pekerjaan dan persoalan rumah tangga membuat hubungannya dengan Rissa mengalami masalah. Sementara itu, Cakra mulai dekat dengan Ayu setelah terus didorong Itje untuk mencari pasangan. Hubungan mereka juga tidak langsung berjalan lancar karena Cakra masih harus belajar soal komitmen.
Di tengah masalah yang mereka hadapi, Satya dan Cakra kembali mengingat pesan-pesan Gunawan. Mereka mulai memahami bahwa nasihat yang dulu terdengar biasa saat masih kecil ternyata berkaitan dengan kehidupan yang sedang mereka jalani. Satya berusaha memperbaiki hubungannya dengan Rissa dan keluarganya, sementara Cakra akhirnya menemukan keyakinan untuk melanjutkan hubungannya dengan Ayu.
Menjelang akhir cerita, keadaan keluarga mereka mulai membaik. Satya kembali memperbaiki hubungan dengan Rissa dan anak-anaknya, sedangkan Cakra dan Ayu bersiap menikah. Itje yang sempat menyimpan sakitnya sendiri akhirnya bisa melihat kebahagiaan anak-anaknya. Sebelum pernikahan Cakra, Itje memberikan rekaman terakhir dari Gunawan yang selama ini disimpannya. Pesan terakhir Gunawan menjadi penutup yang mengharukan karena ia kembali hadir di salah satu momen penting dalam kehidupan Satya dan Cakra.
Setelah baca novel ini, aku paling suka bahasanya yang ringan. Beberapa ceritanya berhasil bikin hati nyesek . Sosok Pak Gunawan jadi yang paling bikin terharu. Cara dia mempersiapkan banyak hal untuk keluarganya sebelum meninggal terasa begitu tulus. Bukan cuma soal uang atau kebutuhan keluarga, tapi juga bagaimana anak-anaknya tetap bisa merasakan kehadiran seorang bapak meskipun dirinya sudah tidak ada.
Tokoh-tokoh yang ada di dalamnya punya masalah masing-masing. Satya terus belajar menjadi suami dan ayah yang lebih baik meskipun beberapa kali melakukan kesalahan. Saka masih ragu soal hubungan dan belum siap berkomitmen. Sedangkan Ibu Itje memilih menyimpan sakitnya sendiri agar tidak membuat anak-anaknya khawatir. Kisah mereka membuat masalah dalam novel ini terasa relate dengan kehidupan sehari-hari.
Hal lain yang aku suka, pesan Gunawan tidak berhenti sebagai nasihat saja. Maknanya baru terasa saat Satya dan Cakra mulai menghadapi masalah dalam hidup mereka. Pesan tentang menjadi orang tua, pasangan, sampai mengambil keputusan perlahan muncul lewat pengalaman mereka. Jadi, pembaca bisa melihat sendiri bagaimana pesan dari seorang bapak bisa menjadi bekal ketika anak-anaknya sudah dewasa.
Cerita di dalam novel Sabtu Bersama Bapak juga tidak terus-terusan bikin sedih karena ada humor dan romance yang bikin ceritanya tidak terlalu berat. Selain soal keluarga, novel ini juga membawa pesan tentang cinta, kesabaran, kasih sayang, parenting, dan berbagai hal dalam kehidupan yang masih bisa dipikirkan setelah bukunya selesai dibaca.
Baca Juga
-
Jadwal dan Prediksi Liga Champions: Misi Bangkit Barcelona hingga Manchester United
-
Menguliti Sisi Gelap Dunia Kerja di Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi
-
Sisi Gelap 'Magang': Kerja Profesional, Kenapa Dihargai Upah Sukarela?
-
Ironi Women Empowerment: Standar Ganda di Balik Slogan Kesetaraan
-
Review Dead-End Job: Horor Korea yang Menyindir Kejamnya Dunia Kerja
Artikel Terkait
-
Mengungkap Wajah Kelam Kemiskinan dan Ketidakadilan di Buku Oliver Twist
-
Novel Salt to the Sea: Mengenang Tragedi Maritim Terbesar dalam Sejarah
-
The Devotion of Suspect X: Bukti Pengorbanan Ekstrem demi Wanita Pujaan
-
Potret Diskriminasi Perempuan Korea Selatan di Novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982
-
Novel The Newcomer, saat Kebohongan Kecil Menyembunyikan Sebuah Kebenaran
Ulasan
-
Ulasan Love in Contract: Menguji Arti Komitmen Lewat Bisnis Nikah Kontrak
-
Menguliti Sisi Gelap Dunia Kerja di Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi
-
Mengungkap Wajah Kelam Kemiskinan dan Ketidakadilan di Buku Oliver Twist
-
Membaca Pikiran Orang Seperti Membaca Buku: Memahami Bahasa Tubuh Manusia
-
Novel Salt to the Sea: Mengenang Tragedi Maritim Terbesar dalam Sejarah
Terkini
-
Tren Renting Generation: Mengapa Anak Muda Pilih Sewa Dibanding Setor KPR?
-
Sinopsis Akka, Series Kriminal India Terbaru Radhika Apte di Netflix
-
Jadwal dan Prediksi Liga Champions: Misi Bangkit Barcelona hingga Manchester United
-
Soroti Aksi 28 Oktober, LBH Yogyakarta Ungkap 32 Korban dan Dugaan Kekerasan
-
Sisi Gelap 'Magang': Kerja Profesional, Kenapa Dihargai Upah Sukarela?