Menjadi anak kelas 12 ternyata bukan soal menunggu kelulusan. Ada nilai yang harus dikejar, harapan orang tua yang harus dipenuhi, hingga pertanyaan tentang masa depan yang tidak selalu mudah dijawab. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, setiap orang tentu memiliki cara berbeda untuk menghadapinya.
Hal inilah yang diangkat Ary Nilandari dalam novel Take My Hand. Lewat tiga tokoh remaja dengan persoalan masing-masing, pembaca diajak melihat bahwa di balik kehidupan sekolah yang terlihat menyenangkan, ada banyak hal yang diam-diam sedang diperjuangkan.
Tokoh pertama adalah Ren. Setelah ayahnya meninggal, Ren harus menjadi lebih dewasa dari usianya. Ia membantu keuangan keluarga sekaligus mendampingi adiknya yang mengalami kesulitan membaca. Kondisi tersebut membuat Ren tidak punya banyak kesempatan untuk menikmati masa remajanya.
Kemudian ada Wening, siswi pintar yang selalu berusaha tampil sempurna. Ia memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah ke Universitas Tokyo. Namun, keinginannya tersebut ternyata bukan hanya tentang pendidikan. Wening berharap bisa menyatukan kembali keluarganya yang mulai renggang.
Tokoh terakhir adalah Arvind. Ia dikenal suka memberontak dan sering terlihat menyebalkan. Namun, semakin cerita berjalan, pembaca dapat memahami bahwa sikap tersebut muncul karena ia merasa lelah dengan berbagai tuntutan orang tuanya.
Ketiga tokoh ini kemudian dipertemukan dalam sebuah persahabatan. Dari sinilah cerita mulai menunjukkan bahwa setiap orang memiliki persoalan yang tidak selalu terlihat dari luar. Pertemuan mereka juga membuat masing-masing tokoh perlahan belajar memahami bahwa apa yang terlihat dari sikap seseorang belum tentu menggambarkan apa yang sedang ia rasakan.
Salah satu hal menarik dari Take My Hand adalah cara penulis mengenalkan persoalan kesulitan membaca pada anak melalui adik Ren, sekaligus menunjukkan pentingnya penanganan yang tepat. Selain itu, ada pesan bahwa menghadapi persoalan tidak harus dilakukan sendirian. Kejujuran dalam menyampaikan perasaan dan keberanian untuk terbuka menjadi salah satu jalan keluar yang ditawarkan.
Persahabatan Ren, Wening, dan Arvind juga memperlihatkan bahwa dukungan sederhana dari orang lain bisa sangat berarti. Kadang, seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang. Mereka hanya membutuhkan orang yang mau mendengarkan. Dari sini, pembaca dapat melihat bahwa menjadi teman bukan selalu tentang memberikan solusi, tetapi juga tentang hadir dan memahami ketika seseorang sedang berada dalam masa sulit. Hal tersebut membuat hubungan ketiganya terasa lebih hidup dan tidak sekadar menjadi bagian dari alur cerita.
Pada Akhirnya, Siapa yang Membutuhkan Uluran Tangan?
Menurut saya, kekuatan novel ini justru terletak pada pesan sederhananya: seseorang tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Ren, Wening, dan Arvind sama-sama memiliki persoalan yang berbeda. Mereka tidak selalu tahu harus berbuat apa, tetapi pertemanan membuat mereka belajar untuk saling memahami. Hubungan ini menunjukkan bahwa proses menjadi dewasa tidak selalu harus dilalui dengan kekuatan sendiri. Ada kalanya seseorang membutuhkan orang lain untuk sekadar mendengarkan, memberi semangat, atau menemani melewati masa sulit.
Novel Take My Hand sendiri seperti gambaran dari hubungan mereka. Mengulurkan tangan bukan berarti menyelesaikan masalah orang lain, melainkan bersedia berjalan bersama ketika perjalanan terasa berat.
Karena itu, novel karya Ary Nilandari cocok bagi pembaca yang sedang berada di kelas 12, merasa tertekan dengan tuntutan sekolah, bingung menentukan masa depan, atau sekadar ingin membaca cerita remaja yang realistis tanpa drama romansa berlebihan. Novel ini mungkin tidak menawarkan kehidupan remaja yang sempurna, tetapi justru dari situlah ceritanya terasa mengena.
Identitas Buku
Judul Buku: Take My Hand
Penulis: Ary Nilandari
Penerbit: Republika Penerbit (PT. Pustaka Abdi Bangsa)
Tahun Terbit: 2022
Tebal Buku: x + 242 halaman
Ukuran Buku: 13,5 × 20,5 cm
ISBN: 978-623-279-156-5 (Cetak)
978-623-279-157-2 (PDF)
Baca Juga
-
Pasti Ada Jalan Keluar: Mengubah Cara Pandang dalam Menghadapi Masalah
-
Hamzah bin Abdul Muthalib: Keteguhan Prinsip di Balik Sosok Sang Pemberani
-
Ulasan Buku Modal Ngeblog Bisa Sampai Yurop: Meraih Peluang Lewat Tulisan
-
Panduan Anak Muda Raih Sukses Tanpa Tumbang Mental Karya Iqro' Firdaus
-
Misteri Lawang Putih: Jejak Gaib Masa Lalu
Artikel Terkait
Ulasan
-
Belajar Agama Lewat Layar Ponsel, Buku Gus Nadir Ingatkan Pentingnya Sanad Keilmuan
-
Ajo Kawir Ingin Terlihat Jantan atau Malah Terjebak Toxic Masculinity?
-
Sense and Sensibility: Kenapa Perempuan Abad 19 Cuma Fokus pada Pernikahan?
-
Review Film The Last Sunrise: Nikmatnya Jatuh Cinta di Detik-Detik Terakhir
-
Novel Melodi Senin: Di Balik Kebiasaan Bolos, Ada Mimpi yang Dikejar
Terkini
-
Alami Kecelakaan, Lee Chung Ah Berencana Mundur dari The Obedient Killer
-
Bawa Teror dari Indonesia Timur ke Layar Lebar, Ini Review Jujur Film Suanggi: Ilmu Kutukan
-
Kalau Semua Harus Ditanggung Sendiri, Lalu Pajak Kita untuk Apa?
-
Gen Z, Overthinking, dan Keranjang Belanja yang Tak Pernah Kosong: Habit?
-
Raphinha Mesin Gol Baru FC Barcelona: 12 Gol dan Jadi Top Scorer La Liga