Sepulang kerja dan menyetel televisi, tanpa sengaja aku menjumpai film berjudul Giant Python yang tayang di saluran Moji TV. Karena tertarik dengan premis, jadilah kutonton sembari ngemil biskuit.
Melansir IMDb, Giant Python atau bisa disebut Python Island merupakan film bergenre adventure, sci-fi, dan thriller besutan sutradara Dicai Zhang. Film yang rilis pada 24 Februari 2022 ini ternyata nggak hanya menyuguhkan totalitas thriller dan sci-fi ala serial Anaconda, melainkan adat dan tradisi yang kental. Bukan sekadar film habis selesai, melainkan petuah-petuah Tiongkok yang relate dalam kehidupan. Btw, film berdurasi 77 menit ini bisa ditonton di Youku ya.
Ambisi dan Penjagaan Dunia
Film ini mengisahkan suatu desa yang hampir seluruh penduduknya bermata pencaharian sebagai pemburu ular. Mereka kerap berburu ular di Pulau Kanibal, di mana terdapat sisa-sisa peninggalan suku pemuja Dewi Ular. Namun, Lin Jiashu (Nariso Bai) memilih jalan lain. Dia justru menyelamatkan anakan ular piton emas atas permintaan terakhir ibunya.
Beberapa waktu kemudian, warga desa terjangkit wabah penyakit yang disinyalir sebagai kutukan karena membunuh ular-ular. Lin Jiashu yang bekerja di perusahaan farmasi pun berambisi untuk menyelamatkan warga desa. Dia lalu mencoba memecahkan kode prasasti dari Pulau Kanibal, dan menyadari ada obat mujarab yang bisa menyembuhkan wabah.
Bersama Boss Fiona (Tan Jimin), anaknya yaitu Lili (Mire Zai), Boss Zhao (Dongfeng Yue), dan beberapa warga desa, mereka berangkat ke Pulau Kanibal hanya untuk menemukan kengerian, simbiosis alam yang memukau, dan plot twist mengenai wabah penyakit warga desa. Ketika piton raksasa mengejar rombongan saintis tersebut, akankah mereka selamat? Atau menghilang sebagaimana suku pemuja Dewi Ular?
Premis Menarik Tentang Simbiosis Manusia dan Alam
Menarik dan aneh, itu yang kurasakan selepas tayangan habis. Kuakui, film ini memiliki vibes sebagaimana film-film serial Anaconda mengenai ular raksasa pemakan manusia. Konsepnya plek ketiplek lah. Baik pada sisi ambisius manusia dalam mendapatkan sesuatu, sampai tanaman langka yang diburu sedemikian rupa. Persis. Hanya dibedakan oleh bahasa dan pemeran.
Namun secara world building dan sistem simbiosis, film ini justru menyuguhkan premis majestic dan diselipi misteri. Ada esensi sejarah suatu peradaban lenyap, kepercayaan magis, dan sains yang dipadukan dengan kebudayaan Tiongkok terutama pada set pedesaan dan upacara sembahyang leluhur. Kendati beberapa perpindahan take dan scene terasa kurang smooth, tetapi sinematografi bertone dinginnya sukses menyuguhkan thriller misteri yang kece.
Akting Keren, Fantasi Beken, Tapi CGI Kasar Banget
Jujurly, premis dan ceritanya tuh keren. Dengan nuansa adventure berbumbu misteri, kemudian plot twist yang kian bikin emosi. Nariso Bai dan Mire Zai terasa natural dalam membawakan karakter. Di satu sisi akting Tan Jimin terasa kurang jahat dan ujug-ujug letoy begitu saja. Di sisi lain, akting Dongfeng Yue terasa berlebihan, tapi masih bisa diterima mengingat karakter Boss Zhao.
Film ini juga terasa lebih lengkap dan kaya petuah, mengenai simbiosis manusia dengan alam. Bahwasanya, menjaga alam jauh lebih mulia daripada uang dan harta benda. Asli, aku langsung mak jleb dan membatu melihat interaksi Lin Jianshu bersama Xiaohua, si piton emas. Berasa ketemu sahabat beda spesies.
Walau menyajikan world building yang kaya dan lanskap geografis yang asri, film ini masih menunjukkan CGI kasar dan parah. Terutama pada CGI ular raksasa dan tanaman karnivora. Kalau dibandingkan film Anaconda, CGI-nya kalah jauh. Pun pada poster film, hanya ada Mire Zai padahal main character adalah Nariso Bai. Entahlah.
Petuah yang Tak Lekang Oleh Zaman
Boleh dibilang, film ini membawa propaganda positif tentang pentingnya menjaga alam. Baik flora maupun faunanya. Tidak peduli jenis apa pun, selama tidak mengacau ya manusia tidak boleh mengganggu. Pun pada sisi moral, di mana ketamakan akan menuai karma buruk.
Semuanya terasa relate sih. Makin tamak, ya makin sengsara karena dikendalikan oleh ketamakan itu sendiri. Hukum tabur tuai nggak pernah meleset, walau perlu waktu bertahun-tahun.
Konsep petualangannya sendiri dieksekusi dengan apik, walau ada satu penampilan Mire Zai yang sedikit terbuka. Mungkin mencoba mengeksekusi penampilan ala Lara Croff, yang menjadikan film ini kurang bisa ditonton untuk segala usia. Yah, bisalah ditonton untuk usia 13 tahun ke atas.
Anyway, aku memberikan nilai 7,7/10 untuk film ini. Sekian.
Identitas Film
Judul: Python Island
Sutradara: Dicai Zhang
Genre: Adventure, Sci-Fi, mistery, thriller
Rilis: 24 Februari 2022
Platform: Youku
Negara Asal: China
Bahasa: Mandarin
Durasi: 77 menit
Sumber:
https://www.imdb.com/title/tt21097864/?ref_=ttfc_ov_bk
Baca Juga
-
Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam
-
Drama Perkara Busi: Jangan Suruh Orang Beli Suku Cadang Tanpa Catatan Spesifik!
-
Pesona Male Lead Tengil di Drama Undercover Affair, Sukses Bikin Penonton Salah Tingkah!
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari
Artikel Terkait
-
Review 'Lucky Strike': Saat Taktik Pura-Pura Mati Jadi Satu-Satunya Jalan Selamat dari Pasukan SS
-
Review 'Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?': Mengupas Pengorbanan Sunyi Seorang Ibu yang Bikin Dada Sesak
-
Visual Apik vs Plot Padat: Menimbang Film Thriller 'The Vvaan', Worth It Ditonton?
-
Mengupas Misteri 'Bisikan Desa Gringsing', Saat Karma dan Dosa Masa Lalu Menuntut Balas
-
Review Film The Love Hypothesis: Trik Pacaran Pura-Pura yang Bikin Baper
Ulasan
-
Review Heart of the Beast: Trauma Disorot tapi Nggak Sedalam Petualangannya
-
Review Drama The Early Spring, Hubungan Toxic Antara Bos Dan Bawahan
-
Ulasan Novel 'Partikel': Formula Hollywood di Balik Karya Dee Lestari
-
Sejarah Jawa Jilid II: Masyarakat, Agama, dan Tradisi dalam Catatan Raffles
-
Mengupas 'Emanon', Manga Sci-Fi Santai yang Bikin Overthinking Soal Makna Kehidupan
Terkini
-
Honor Magic9 Pro Max Resmi Meluncur, Bawa Kamera ARRI dan Snapdragon Generasi Baru
-
Unik! Festival Musik 'Padepopan: Sweet Escape' Siap Guncang Terminal Jatijajar Depok
-
Rakyat Dipuji Tangguh, Negara Lupa Membenahi yang Rapuh
-
TXT Umumkan Comeback November dengan Mini Album Baru, "PERFECT STORM"
-
Jalan Terjal Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026: Wajib Menang!