Lintang Siltya Utami | Agustian Pamungkas
Tazza 4: The Song of Beelzebub. (IMDb)
Agustian Pamungkas

Film Tazza: The Song of Beelzebub (2026) hadir sebagai babak penutup dari seri kisah judi legendaris asal Korea Selatan. Di bawah arahan sutradara Choi Gook-hee, film ini tidak cuma fokus pada trik kartu biasa, melainkan menyajikan duel adu otak antar karakter yang bikin penonton ikut tegang sepanjang cerita.

Langkah untuk menyudahi rangkaian ceritanya pun terbilang nekat karena skala taruhannya kini dinaikkan ke jaringan internasional. Menariknya, suasana kelam dan penuh tipu daya yang menjadi ciri khas seri sebelumnya masih dijaga dengan sangat baik, sehingga kita diajak melihat bagaimana lembaran uang dan kartu poker bisa menjadi alat balas dendam yang jauh lebih kejam daripada senjata tajam.

Intrik Pengkhianatan dan Kehancuran Harta

Plot utama film ini berpusat pada kehidupan Jang Tae-young (Byun Yo-han), seorang pria genius yang sukses membangun bisnis kasino lewat internet sampai punya banyak uang. Berada di puncak kejayaan membuat Tae-young besar kepala dan merasa tidak ada yang bisa mengalahkannya. Keangkuhannya mulai goyah saat dia memutuskan untuk masuk ke dunia judi poker profesional.

Demi melancarkan bisnis barunya, Tae-young mengajak sahabat karibnya sejak masa SMA, Park Tae-young (Roh Jae-won), yang dikenal punya otak encer di meja judi. Sialnya, keputusan itu justru menjadi kesalahan paling fatal dalam hidup Jang Tae-young. Park Tae-young ternyata diam-diam memendam rasa iri dan menyimpan niat busuk untuk menghancurkan hidup sahabatnya sendiri.

Memanfaatkan kepercayaan penuh yang dia dapatkan, Park Tae-young melakukan aksi tusuk dari belakang yang sangat rapi. Hanya dalam sekejap, dia merebut seluruh perusahaan dan harta milik Jang Tae-young sampai sahabatnya itu jatuh miskin. Jang Tae-young terpaksa kehilangan semua miliknya dan harus memulai hidup lagi dari nol.

Beberapa waktu berlalu, takdir kembali mempertemukan kedua mantan sahabat ini di arena judi poker internasional yang sangat berbahaya. Dengan sisa kekuatan dan rasa dendam yang membara, Jang Tae-young kembali ke meja judi untuk merebut kembali haknya. Pertarungan mereka makin rumit karena ikut menyeret Kaneko (Ayaka Miyoshi), seorang wanita misterius yang dibantu oleh kelompok mafia Jepang.

Ulasan Film Tazza: The Song of Beelzebub

Pertama yang paling bikin aku kagum adalah cara sutradara Choi Gook-hee mengatur tempo ketegangan di meja judi. Jujur, aku pribadi paling merinding pas adegan pertarungan paruh tengah di kasino privat Macau, di mana kamera menyorot pelan keringat yang menetes saat pemain memegang kartu. Ketegangan dibangun lewat keheningan ruang judi, bukan adegan pukul-pukulan biasa, membuat penonton ikut menahan napas menebak siapa yang sedang menggertak lewat teknik tipuan wajah.

Penampilan Byun Yo-han sebagai Jang Tae-young benar-benar luar biasa dalam menggambarkan transformasi karakter dari pria sombong menjadi sosok dingin yang haus balas dendam. Di sisi lain, akting Roh Jae-won sebagai penjahat utama juga berhasil mengeksplorasi kegilaan seorang psikopat judi dengan sangat pas. Tatapan mata kosongnya saat mengkhianati sahabatnya sendiri sanggup membuat penonton merasa geram sekaligus merinding.

Kehadiran aktris Jepang Ayaka Miyoshi yang memerankan Kaneko juga memberi warna baru yang bikin ceritanya makin hidup. Karakternya tampil sangat tenang namun mematikan di tengah dominasi para pria. Adegan di mana Kaneko mengontrol jalannya taruhan dari balik meja kaca sambil bernegosiasi dengan para mafia Jepang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh karakter ini dalam memutarbalikkan nasib kedua tokoh utama.

Sinematografinya juga terlihat mahal dengan memanfaatkan pencahayaan remang-remang bernuansa emas dan merah tua di setiap arena kasino, memberikan kesan glamor namun korup. Musik latar yang dipakai juga sangat mendukung dalam membangun ketegangan di setiap momen pembagian kartu. Tim produksi berhasil membuktikan bahwa film tentang judi kartu pun bisa dikemas secara indah tanpa kehilangan vibe mendebarkannya.

Sebagai babak penutup dari seluruh seri film Tazza, bagian akhirnya ditutup dengan aksi nekat pertaruhan modal yang habis-habisan dan berdarah. Cerita film ini tidak memaksakan akhir yang bahagia bagi semua orang, melainkan menyajikan akhir yang nyata tentang akibat buruk dari sifat serakah. Bagi aku sih film ini sukses menjadi salam perpisahan yang pas dan memuaskan buat para penggemar setia.