Buku tipis terkadang menyimpan cerita yang cukup panjang untuk dibicarakan. Itulah kesan saya usai mengkhatamkan Matinya Tukang Dongeng karya Soni Farid Maulana.
Saya menemukan buku kumpulan cerpen ini melalui iPusnas. Dengan ketebalan sekitar 90-an halaman, buku ini menawarkan 13 cerita pendek yang sebagian besar berkaitan dengan kematian, gosip, mitos, kekuasaan, dan keyakinan manusia terhadap sesuatu yang dianggap benar.
Soni Farid Maulana dikenal sebagai penyair. Karena itu, saya cukup penasaran membaca karya prosanya. Ternyata, kebiasaan menulis puisi tersebut terasa dalam cara ia merangkai kalimat. Cerita-ceritanya tidak selalu panjang, tetapi beberapa bagian menyimpan ungkapan puitis yang membuat pembaca berhenti sejenak untuk memikirkan maknanya.
Saya bisa membaca buku ini tanpa harus menyediakan waktu khusus berjam-jam. Sambil menunggu bus datang atau menunggu nasi matang, beberapa cerpen sudah bisa dituntaskan. Namun, kesederhanaan bentuknya tidak berarti semua ceritanya selesai begitu saja ketika halaman terakhir dibaca.
Tiga Belas Cerita, Kematian yang Berbeda-Beda
Benang merah buku ini cukup jelas, yakni kematian. Tokoh-tokohnya meninggal melalui berbagai sebab, mulai dari tuduhan yang tidak terbukti, gosip tetangga, kejadian misterius, hingga persoalan politik. Dalam beberapa cerita, kematian terasa tragis. Dalam cerita lainnya, justru muncul ironi yang membuat saya tersenyum getir.
Cerpen Soal Ki Ihin, misalnya, meninggalkan kesedihan tersendiri bagi saya. Ki Ihin dituduh mencuri kambing, padahal kambing tersebut berkaitan dengan upah hasil pekerjaannya sebagai pembantu seorang pencerita. Ia tidak melakukan pencurian seperti yang dituduhkan kepadanya. Namun, prasangka dan gosip orang-orang di sekitarnya berujung pada nasib yang menyedihkan.
Saya membaca bagian ini dengan perasaan tidak nyaman. Betapa mudahnya seseorang dijatuhi hukuman sosial hanya karena kabar yang beredar dari mulut ke mulut. Orang-orang merasa sudah mengetahui kebenaran, padahal belum tentu mereka memahami duduk persoalannya.
Cerita tersebut terasa dekat dengan kehidupan sekarang. Di media sosial, seseorang bisa dihakimi hanya berdasarkan potongan video, unggahan singkat, atau kabar yang belum terverifikasi. Sekali sebuah tuduhan menyebar, klarifikasi sering kali datang terlambat. Nama baik seseorang bisa telanjur rusak, bahkan ketika tuduhan itu tidak terbukti.
Sementara itu, Sukirin menghadirkan ironi melalui tokoh yang meninggal mendadak ketika sedang membicarakan orang lain dengan nada miring. Kisah ini terasa menggelitik sekaligus menyentil kebiasaan manusia yang begitu mudah mengurusi kekurangan orang lain, tetapi kerap lupa memeriksa dirinya sendiri.
Ketika Tukang Dongeng Dianggap Menyebarkan Hoaks
Cerpen Matinya Tukang Dongeng menjadi salah satu bagian penting yang memberi gambaran mengenai kritik sosial dalam buku ini. Seorang dalang diceritakan meninggal setelah dianggap menyebarkan hoaks tentang negara. Padahal, ia sedang berkisah mengenai sebuah negeri antah berantah yang kebetulan memiliki persoalan serupa dengan kenyataan, yaitu narkoba dan korupsi.
Di sinilah cerita terasa menarik. Negeri antah berantah seharusnya menjadi ruang imajinasi yang memberi kebebasan kepada seorang pencerita. Namun, ketika kisah tersebut dianggap sebagai ancaman, dongeng berubah menjadi perkara serius.
Saya menangkap cerita ini sebagai sindiran terhadap keadaan ketika kritik dipandang sebagai serangan, sementara orang yang menyampaikan kegelisahan justru dicurigai. Cerita fiksi yang semestinya mengajak orang berpikir malah diperlakukan seolah-olah merupakan ancaman terhadap kekuasaan.
Relevansinya bagi generasi muda cukup kuat. Anak muda sekarang hidup di tengah arus informasi yang deras. Mereka bisa menyampaikan pendapat melalui berbagai platform, tetapi juga perlu memahami bahwa kebebasan berekspresi memiliki tanggung jawab.
Di sisi lain, masyarakat dan pemegang kekuasaan semestinya mampu membedakan kritik yang disampaikan untuk memperbaiki keadaan dengan informasi bohong yang memang bertujuan menyesatkan.
Bagi saya, dongeng dalam cerita ini bukan sekadar kisah pengantar tidur. Ia menjadi cara untuk membicarakan kenyataan tanpa harus selalu menyebutnya secara langsung. Persoalannya, tidak semua orang bersedia menerima kenyataan yang disampaikan melalui cerita.
Sangkuriang dan Dayang Sumbi: Ketika Dongeng Lama Ditafsirkan Ulang
Bagian lain yang menarik perhatian saya adalah tiga cerpen yang bersinggungan dengan kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi, yakni Romantik Agoni, Tafsir Merah Marun, dan Sangkuriang Dini Hari.
Saya sempat berharap ketiganya akan membongkar dongeng yang sudah akrab di telinga masyarakat, kemudian menawarkan penafsiran baru yang membuat saya memandang kisah lama itu dengan cara berbeda. Apalagi, cerita Sangkuriang memang menyimpan persoalan rumit mengenai hubungan keluarga, identitas, cinta, dan batas-batas moral.
Pada sebuah penggalan dalam buku ini, Sangkuriang melontarkan pertanyaan getir, “Jika benar ayahku seekor anjing, atau dikutuk jadi seekor anjing; dosa macam apakah yang tengah ditanggung oleh ayahku? Wahai Dayang Sumbi, ibuku yang malang, kau tak pernah bisa menjawab pertanyaanku semacam ini. Karena itu, aku tidak percaya bahwa kau ibuku! Aku juga tidak percaya bahwa ayahku seekor anjing!”
Kutipan tersebut menggambarkan pergulatan seorang tokoh yang mempertanyakan kebenaran cerita yang selama ini dipercayainya. Ia tidak sekadar menerima warisan dongeng, tetapi mencoba menggugat logika dan moralitas di balik kisah tersebut.
Meski demikian, setelah membaca tiga cerpen tadi, saya justru menangkap nada yang kurang lebih mengarah pada kebebasan mencintai dan mengejar cinta. Penafsiran itu tentu merupakan kesan pribadi saya sebagai pembaca, bukan berarti itulah satu-satunya pesan yang ingin disampaikan pengarang.
Terus terang, bagian ini tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan saya. Saya menginginkan eksplorasi yang lebih jauh terhadap persoalan moral dan makna cerita Sangkuriang. Namun, pengalaman tersebut juga mengingatkan saya bahwa membaca bukan kegiatan mencari satu jawaban yang pasti. Pembaca dan penulis bisa saja bertemu dengan pemahaman yang berbeda.
Koak Gagak dan Gagak Sial: Doa, Ikhtiar, dan Kepercayaan
Di antara seluruh cerita dalam buku ini, bagian yang menyentuh mistik dan keyakinan Islam justru terasa paling ringan bagi saya. Dua cerpen yang menonjol ialah Koak Gagak dan Gagak Sial.
Dalam Koak Gagak, pembaca diperkenalkan kepada seorang ibu yang mengalami sakit keras dan diduga terkena santet. Ihin, anaknya, meminta bantuan Kiai Hanafi. Sang kiai kemudian berdoa bersama 40 santrinya dan menghatamkan Al-Qur'an, dengan air di dalam baskom sebagai bagian dari peristiwa yang digambarkan dalam cerita.
Air tersebut dikisahkan berputar-putar dan mendidih sebelum berubah menjadi lumpur. Peristiwa itu menjadi bagian dari suasana mistis yang dibangun pengarang. Ihin sempat ingin membalas orang yang dianggap telah menyakiti ibunya, tetapi Kiai Hanafi justru mengarahkannya untuk tidak larut dalam dendam.
“Perkara mati itu perkara Allah Swt, bukan perkara tukang santet.” (hlm. 14).
Penggalan ini mengingatkan saya pada persoalan yang sering muncul ketika seseorang merasa dizalimi, apakah penderitaan harus dibalas dengan penderitaan lain, atau dihadapi dengan kesabaran dan ikhtiar?
Dalam cerita ini, Kiai Hanafi mengajak Ihin melihat penderitaan dari sudut pandang spiritual. Ia tidak mendorong pembalasan, melainkan mengingatkan bahwa urusan hidup dan mati berada dalam kuasa Allah Swt.
Saya menikmati bagian tersebut karena pesan keagamaannya disampaikan melalui percakapan tokoh, bukan sekadar uraian panjang yang terasa menggurui. Walaupun demikian, kisah ini tetap perlu dibaca sebagai karya fiksi yang menggunakan unsur mistik dan kepercayaan religius. Dalam kehidupan nyata, orang yang sakit tetap membutuhkan pemeriksaan medis dan penanganan yang tepat.
Bagi generasi muda, cerita seperti ini bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan kesabaran, pengendalian diri, dan bahaya dendam. Keyakinan seharusnya membantu seseorang menghadapi persoalan dengan lebih bijak, bukan menjadi alasan untuk menyakiti orang lain.
Kematian, Politik, dan Kehidupan yang Ditinggalkan
Selain cerita-cerita tersebut, Api Berkobar di Tubuhku dan Matinya Tukang Dongeng juga menyentuh sejarah Indonesia serta represi politik. Kematian dalam buku ini tidak hanya hadir sebagai peristiwa biologis, tetapi juga sebagai akibat dari relasi sosial yang timpang, tuduhan, ketakutan, dan konflik manusia.
Saya melihat kematian menjadi semacam pintu untuk memperlihatkan bagaimana orang-orang yang masih hidup bereaksi terhadap kehilangan. Ada yang merasa bersalah, ada yang menyimpan prasangka, dan ada pula yang terus mempertahankan keyakinannya meskipun kenyataan di sekitarnya mulai meragukan keyakin tersebut.
Tema ini membuat judul buku terasa lebih luas daripada sekadar kisah tentang seorang pencerita yang meninggal. Tukang dongeng bisa dibaca sebagai lambang suara yang berusaha menyampaikan sesuatu, sedangkan kematiannya menjadi gambaran tentang harga yang harus dibayar ketika sebuah cerita bertemu dengan kepentingan tertentu.
Meski tidak semua cerpen memberikan jawaban yang memuaskan, pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru menjadi bagian dari pengalaman membaca. Saya beberapa kali merasa geregetan karena ingin mengetahui lebih jauh siapa yang bertanggung jawab, apa motif di balik sebuah kejadian, atau mengapa nasib tokoh harus berakhir demikian.
Namun, rasa penasaran itu juga menunjukkan bahwa cerita-cerita Soni Farid Maulana tidak selalu berhenti di halaman terakhir. Sebagian persoalannya tetap mengikuti pembaca setelah buku ditutup.
Ringan Dibaca, tetapi Tidak Selalu Sederhana Maknanya
Di antara kelebihan buku ini adalah bahasanya yang relatif mudah dicerna. Dengan jumlah halaman yang tidak terlalu banyak, pembaca bisa menikmati 13 cerpen tanpa merasa terbebani. Gaya puitis Soni Farid Maulana turut memberi warna tersendiri, terutama ketika ia menyelipkan ungkapan yang terasa seperti sajak di tengah cerita.
Saya juga menyukai keberanian penulis dalam mengolah kembali kisah yang sudah dikenal, memadukan unsur mistik dengan religiositas, serta menyisipkan kritik sosial melalui tokoh-tokoh yang mengalami nasib tragis.
Kendati begitu, ada beberapa hal yang tidak sepenuhnya sesuai dengan selera saya. Pesan moral dalam sebagian cerita terasa cukup lugas. Saat ini, saya sedang menyukai karya yang menyembunyikan makna sedalam mungkin, sehingga pembaca perlu berpikir berulang kali untuk menemukan lapisan pesan di balik cerita.
Namun, saya tidak menganggap perbedaan selera tersebut sebagai alasan untuk mengabaikan buku ini. Justru dari pengalaman membaca Matinya Tukang Dongeng, saya menyadari bahwa karya yang baik tidak harus selalu memenuhi seluruh harapan pembacanya. Kadang-kadang, ketidakpuasan itu sendiri menjadi bahan untuk berdiskusi.
Layak Dibaca Generasi Muda
Bagi generasi muda yang ingin mulai membaca sastra Indonesia, Matinya Tukang Dongeng bisa menjadi pilihan yang cukup ramah. Ceritanya relatif singkat, bahasanya tidak terlalu rumit, dan persoalan yang dibicarakan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Anak muda dapat menemukan bahan refleksi tentang bahaya menyebarkan kabar tanpa memeriksa kebenarannya, pentingnya menghormati orang lain, serta keberanian mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap lumrah. Cerita-ceritanya juga membuka kesempatan untuk membicarakan hubungan antara tradisi, keyakinan, moralitas, dan kekuasaan.
Tentu, tidak semua gagasan di dalamnya harus diterima begitu saja. Pembaca justru perlu membangun penafsiran sendiri, menguji pesan yang ditangkap, dan membandingkannya dengan nilai-nilai yang diyakini. Dengan cara itu, membaca menjadi kegiatan yang lebih hidup daripada sekadar mencari amanat cerita.
Identitas Buku
- Judul: Matinya Tukang Dongeng
- Penulis: Soni Farid Maulana
- Editor: Tia Setiadi
- Penerbit: BASABASI, Yogyakarta
- Cetakan: I, 2020
- Tebal: 88 Halaman
- ISBN: 978-623-7290-62-9
- Kategori: Fiksi/Cerpen
Baca Juga
-
Bukan Tablet Biasa, Honor WIN Pad Punya Kipas Pendingin dan Layar OLED 240 Hz
-
Review Novel Cinta Lama Karya Puthut EA: Tak Semua Kenangan Ingin Kembali
-
Indonesia dan Tiga Krisis: BBM, Air Bersih, dan Integritas
-
Nubia REDMAGIC 12 Pro+ Menggoda Gamer, Layar Tanpa Notch dan Kipas 25.500 RPM
-
Belajar Atur Waktu Layar Anak Lewat Buku Cerita Gara-Gara Game Online
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Verity: Misteri Rumah Terpencil yang Penuh Manipulasi
-
Lupin Part 2: Trik Cerdik Membongkar Kejahatan Korupsi Hubert Pellegrini
-
Buku Billy and the Hole, sebuah Lubang Misterius dan Pelajaran Batasan Diri
-
Menjadi Guru yang Berakhlak dalam Buku Adab di Atas Ilmu 5
-
Ulasan Buku Yamihara: Teror Psikologis di Balik Interaksi Manusia
Terkini
-
Kim Geonwoo ALPHA DRIVE ONE Gugat WAKEONE, Status Kontrak Jadi Sorotan
-
Bahasa Daerah Vs Slang Internet: Apakah Identitas Lokal Gen Z Mulai Punah?
-
Dampak Bahaya Tone Deaf, saat Ucapan Merusak Empati dan Pertemanan
-
The Blue Road Rilis Teaser, Son Suk Ku dan Eita Nagayama Siap Buru Pembunuh
-
Muka Glowing tapi Rekening Kering: Saatnya Sadar Pentingnya Dana Darurat