Sekar Anindyah Lamase | Agustian Pamungkas
Blossoms of Power. (Soompi)
Agustian Pamungkas

Blossoms of Power merupakan drama China bergenre historical romance dan politik kerajaan yang tayang perdana pada 9 Juli 2026 di WeTV. Drama ini memiliki 36 episode dan tamat pada 26 Juli 2026. Berlatar Dinasti Dayong yang fiktif, ceritanya memadukan kisah balas dendam, perebutan takhta, dan romansa di lingkungan istana.

Drama ini dibintangi oleh Meng Ziyi dan He Yu sebagai pemeran utama. Meng Ziyi memerankan Shen Xihe, sedangkan He Yu berperan sebagai putra mahkota bernama Xiao Huayong. Selain keduanya, drama ini juga diramaikan oleh Kong Xue'er, Chen Heyi, dan Jeremy Tsui (Xu Zhengxi).

Kisah Balas Dendam dan Perebutan Takhta di Istana

Blossoms of Power. (WeTV)

Cerita dimulai dari pembantaian keluarga besar Gu Qingzhi akibat konspirasi politik. Gu Qingzhi berhasil selamat, tetapi jiwanya kemudian terbangun dalam tubuh Shen Xihe, seorang putri dari wilayah Barat Laut. Dengan identitas baru, ia bertekad menuntut keadilan atas kematian klan lamanya.

Demi menjalankan rencananya, Shen Xihe pergi ke ibu kota kekaisaran dengan kedok aliansi pernikahan. Di sana, ia bertemu dengan Putra Mahkota Xiao Huayong yang diperankan oleh He Yu. Pertemuan ini kemudian membawa mereka ke dalam konflik politik istana.

Xiao Huayong dikenal sebagai pangeran yang lemah dan penyakitan akibat racun sejak kecil. Namun, kondisi tersebut ternyata menjadi kedok untuk menyembunyikan kecerdasan dan kemampuan politiknya.

Karena memiliki kepentingan yang sama, Shen Xihe dan Xiao Huayong sepakat bekerja sama. Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas aliansi untuk menghadapi musuh masing-masing. Namun, seiring waktu, tumbuh rasa percaya dan perhatian di antara keduanya.

Mereka mulai menyusun strategi untuk menghadapi lawan politik dan perebutan takhta. Kerja sama tersebut perlahan berkembang menjadi hubungan romantis. Keduanya pun saling mendukung di tengah berbagai konflik yang terjadi di istana.

Konflik semakin rumit ketika Xiao Huayong harus berpura-pura mati selama beberapa tahun demi menyembuhkan racun dalam tubuhnya sekaligus menyelesaikan rencana politiknya.

Setelah melewati berbagai peristiwa, Xiao Huayong akhirnya kembali menemui Shen Xihe yang telah berhasil mengamankan takhta. Keduanya pun kembali bersama dan menjalani kehidupan damai dengan putra mereka.

Review Drama Blossoms of Power

Blossoms of Power. (WeTV)

Setelah maraton menonton seluruh episodenya, jujur aku puas dengan kualitas yang dihadirkan oleh drama Blossoms of Power. Karakter Shen Xihe yang diperankan Meng Ziyi benar-benar jadi favoritku karena dia digambarkan sebagai pahlawan wanita yang mandiri, percaya diri, dan menolak dijadikan pion oleh siapa pun. Karakter seperti ini sangat mudah untuk diikuti di tengah drama kerajaan.

Akting He Yu sebagai Putra Mahkota Xiao Huayong juga luar biasa dan sukses mencuri perhatianku di setiap kemunculannya. Dia mampu memperlihatkan kontras yang apik antara pangeran yang tampak rapuh di depan publik dengan pria manipulatif yang sangat bucin di depan Shen Xihe. Hubungan emosional mereka berdua yang dibangun lewat proses slow-burn membuat ikatan cintanya terasa sangat dewasa.

Aku juga sangat menikmati plot politiknya yang ditulis dengan rapi, di mana setiap kemenangan membutuhkan strategi matang dan setiap kesalahan membawa konsekuensi. Ketegangan istana makin hidup berkat akting memukau dari para pemeran pendukung, terutama Jeremy Tsui sebagai Pangeran Kelima yang penampilannya selalu sukses memikat penonton dengan karismanya yang kuat.

Selain plot yang kuat, alunan lagu 'Bustling Mortal World' dari Zhou Shen sebagai lagu penutup menambah kedalaman emosi di setiap akhir episodenya. Lagu tersebut seolah menjadi pelengkap yang sempurna untuk menggambarkan suka duka perjalanan cinta dan perjuangan politik yang harus dilewati oleh kedua karakter utama kita di drama ini.

Satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah visual dan estetikanya yang benar-benar memanjakan mata. Penggunaan warna-warna elegan yang menyerupai lukisan Tiongkok klasik membuat drama ini terasa sangat mahal.

Meski secara keseluruhan sangat bagus, aku merasa penyuntingan di paruh awal terasa agak melompat-lompat, dan porsi taktik dupa wewangian agak berlebihan di beberapa episode awal. Selain itu, eksekusi plot pura-pura mati sang Putra Mahkota menjelang akhir cerita juga agak terburu-buru, alhasil menyisakan beberapa pertanyaan kecil bagi penonton yang tidak membaca novel aslinya.

Namun untungnya, kehadiran epilog yang manis dan bahagia di akhir episode tetap berhasil membayar tuntas semua rasa penasaran dan kelelahan emosional penonton.

Secara keseluruhan, bagi aku Blossoms of Power adalah salah satu drama historical tahun 2026 yang paling direkomendasikan karena sukses memberikan paket lengkap berupa intrik politik yang menegangkan, romansa dewasa, dan visual indah.