Belajar Tinggal

Sekar Anindyah Lamase | Davina Aulia
Belajar Tinggal
Ilustrasi seorang pria dan wanita sedang melihat matahari terbit (Unsplash/Rafael Garcin)

Aku selalu pandai pergi, tetapi tidak pandai untuk tinggal. Begitulah yang aku pikirkan soal diriku. Mataku masih tak teralih dari deru ombak yang menyapu bibir pantai. Langit mulai tampak berwarna, tanda matahari mulai percaya diri menampakkan dirinya. Menyambut dunia. 

Padahal, banyak yang mengeluh panas. Banyak yang menghindarinya dibalik bayang pohon dan bangunan. Tetapi ia tetap kukuh di sana, tak lelah membawa penerangan. Aku melenguh.

Berbeda denganku. Jelas berbeda. Satu kali sesuatu menghantamku, aku menyusun seribu cara untuk lari. Demikianlah aku berakhir di sini. Yogyakarta. Jauh dari tanah kelahiranku, keluargaku, dan orang-orang yang aku kenal.

Tak sadar sebulir air mata luruh dari sudut mataku. Kerinduan mengalir deras di dadaku, tetapi kegelisahanku tak kunjung padam. Aku mengabaikan sepuluh pesan telepon dari Ibuku yang berkali-kali memintaku untuk pulang.

Takut, khawatir, tak nyaman. Hanya itu yang terbersit dalam kepalaku saat diminta pulang. Bagiku pulang bukan hanya melepas rindu, tetapi jadi momen mengulang luka. Dan aku, sama sekali tidak terlatih untuk itu.

Kilas balik masa sekolah kerap menghantui isi kepalaku. Tangisanku dan kecemasan yang tak kunjung usai meski aku menutup mata di jam sepuluh malam. Meski aku berkali-kali meyakinkan diriku bahwa aku tak pernah kesulitan meski sendirian.

“Pemandangan matahari terbit di sini adalah yang terbaik.”

Lamunanku pecah seketika. Aku melepas genggaman tanganku yang entah bagaimana telah penuh oleh pasir pantai. Sebuah permen tangkai ada di depan mataku, tepatnya disodorkan oleh seseorang ke arahku.

Aku mendongak. Seorang laki-laki, tampaknya seusia denganku, memakai kaos hitam dan celana pendek selutut. Rambutnya sedikit panjang dan ikal, tampak pas dengan wajahnya yang tegas. Ia menatapku dan menggerakkan tangannya seolah memberi isyarat agar aku menerima permen tersebut.

Aku mengibas pasir di telapak tanganku, dan entah tersihir bagaimana aku mengambil permen tersebut. Tidak menjawab apa pun, sampai laki-laki itu akhirnya duduk di sebelahku. Melenguhkan napas panjang sesaat dan tersenyum tipis.

“Sering ke sini?” tanyanya, matanya masih menghadap laut.

Aku menggeleng pelan. “Cuma kalau lagi ingin sendirian.”

Ia tertawa kecil, bukan tawa yang mengejek. Lebih seperti orang yang menemukan dirinya sendiri dalam kalimat orang lain.

“Berarti kita sama,” katanya. “Saya juga ke sini kalau lagi ingin menjauh.”

Aku menoleh sekilas. “Menjauh dari apa?”

Ia terdiam beberapa detik, lalu menjawab ringan, seolah bukan hal penting. “Dari rumah. Dari orang-orang yang berharap saya jadi versi yang sudah tidak ada.”

Aku menelan ludah. “Apa maksudmu?”

Ia memutar permen di tangannya. “Pulang itu aneh,” katanya. “Kita datang sebagai orang baru, tapi mereka menyambut kita sebagai orang lama.”

Kalimat itu menggantung di antara kami.

Aku menunduk, menatap pasir yang masih menempel di kakiku. “Kalau begitu, kenapa tetap pulang?” tanyaku pelan.

Ia mengangkat bahu. “Entahlah. Mungkin karena capek terus pergi.”

Ia menoleh padaku, kali ini menatap lebih lama. “Atau mungkin karena luka yang tidak dihadapi, tetap ikut ke mana pun kita lari.”

Aku tercekat.

Ia tersenyum kecil, lalu berdiri. “Permennya dimakan saja. Rasanya asam, tapi habis itu manis.”

Laki-laki itu pergi begitu saja, meninggalkan jejak kaki yang segera disapu ombak.

***

Seminggu telah berlalu sejak perjumpaan kami di pantai. Begitulah akhirnya, aku tiba di Bandara tanah kelahiranku. Mebawa satu tas ransel, satu koper, dan sekantung oleh-oleh untuk keluargaku. Aku tidak sempat mengetahui nama laki-laki itu, tetapi semenjak hari itu aku mengolah ketakutanku dan mencari jawabannya.

Aku tak menemukannya. Kalimat yang laki-laki itu sampaikan terus berputar di kepalaku. Mungkin benar, luka yang tak dihadapi, tetap ikut ke mana pun kita lari.

Langkah kakiku terasa asing saat menapaki lantai bandara ini. Padahal aku tumbuh di kota ini, mengenal jalan-jalannya, hafal arah pulangnya. Namun kini semuanya terasa seperti tempat yang pernah kutinggali, bukan rumah yang benar-benar menungguku. Suara pengumuman terdengar jelas, tetapi kepalaku dipenuhi gema yang lain, suara-suara lama yang dulu kupendam rapat.

Ponselku kembali bergetar. Nama Ibu muncul di layar. Kali ini aku tidak mengalihkannya. Jariku gemetar saat menerima panggilan itu.

“Sudah sampai?” suaranya terdengar seperti biasa, lembut namun berhati-hati, seolah takut aku akan kembali menghilang.

“Iya,” jawabku singkat. Suaraku terdengar lebih tenang dari yang kurasakan.

Ia tidak banyak bertanya. Tidak menuntut. Hanya menghela napas panjang, lalu berkata, “Hati-hati di jalan.”

Kalimat itu sederhana. Tidak ada pelukan. Tidak ada tuntutan untuk segera pulang seperti dulu. Tapi entah mengapa dadaku terasa sesak. Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa selama ini aku selalu menafsirkan jarak sebagai penolakan, padahal mungkin itu adalah cara orang lain menungguku tanpa memaksaku.

Aku melangkah keluar. Udara kota ini menyambutku dengan aroma yang lama tak kuhirup. Ada rasa asing, tetapi juga sesuatu yang akrab. Luka-luka lama bergerak pelan di dadaku, tidak lagi menghantam, hanya mengingatkan bahwa mereka masih ada.

Aku tahu, kepulanganku kali ini tidak akan serta-merta menyembuhkan apa pun. Aku mungkin masih akan ingin pergi lagi. Masih akan merasa canggung, rapuh, dan mudah mundur. Tetapi kali ini aku tidak menyangkal ketakutanku.

Aku berhenti sejenak di pintu keluar bandara, menarik napas panjang. Di kejauhan, kulihat sosok Ibu berdiri, melambaikan tangan. Aku tidak langsung berlari menghampirinya. Aku hanya berdiri, menatap, membiarkan diriku merasa takut tanpa harus kabur.

Mungkin inilah yang disebut tinggal.

Bukan menetap tanpa luka, melainkan berani tidak pergi meski luka itu masih ada.

Aku melangkah.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak