Cerita Fiksi

Ratapan dalam Bingkai Ramalan

Ratapan dalam Bingkai Ramalan
Ilustrasi yang menggambarkan lukisan Danu (gemini.google)

Nama pelukis itu Danu. Di kota yang sesak oleh polusi, ia tidak melukis di atas kanvas mahal, melainkan di atas kayu-kayu palet atau karton bekas yang ia temukan di tempat sampah. Baginya, melukis menjadi caranya bernapas di tengah udara yang kian mencekik. Namun, Danu bukan sekadar seniman biasa. Orang menyebutnya: Dia yang Melihat.

Orang-orang di pinggiran sungai percaya bahwa apa pun yang digambar Danu di pagi hari akan menjadi kenyataan di sore hari. Jika ia melukis seorang anak membawa bungkusan roti, maka sorenya akan ada dermawan yang membagikan makanan. Yakin.

Suatu hari, Danu duduk di tepi sungai yang airnya sewarna kopi susu pekat dan beraroma busuk. Ia memandangi permukaan air yang dipenuhi plastik dan bangkai eceng gondok. Dengan jemari yang kasar, ia mulai memulas warna biru cerah. Warna yang sudah puluhan tahun tidak pernah menyentuh permukaan sungai itu.

Ia melukis sungai yang jernih, hingga kerikil di dasarnya terlihat berkilau seperti permata. Di tepinya, ia menggambar ikan-ikan nilem yang menari, dan anak-anak yang melompat ke air dengan tawa yang lepas. Senang luar biasa.

"Kau sedang melukis mimpi, Danu?" tanya Pak Samad, seorang pemulung yang sedang mengikat botol plastik.

Danu tersenyum tipis. "Aku sedang melukis masa depan, Pak. Aku mendengar kabar bahwa besok akan ada inspeksi besar-besaran dari Kementerian Lingkungan. Mereka bilang pabrik-pabrik di hulu harus menutup saluran limbahnya."

Mendengar itu, harapan tumbuh di mata Pak Samad yang keruh. Kabar itu menyebar seperti api di alang-alang. Warga bantaran sungai yang biasanya apatis mulai membersihkan halaman mereka. Mereka percaya pada lukisan Danu. Mereka percaya bahwa esok, sungai itu akan kembali menjadi sumber kehidupan, bukan lagi parit kematian.

Namun, di balik tembok tinggi tak jauh dari sana, logika yang berbeda sedang bekerja. Di dalam kantor megah, seorang manajer operasional menatap layar monitor dengan cemas. Wajahnya terlihat sangat kebingungan. Panik.

Mereka baru saja mendapat bocoran tentang inspeksi mendadak tersebut. Mereka memiliki ribuan galon limbah kimia sisa produksi yang belum diolah karena mesin pengolah limbah mereka rusak dan biayanya terlalu mahal untuk diperbaiki secara instan.

"Buang semuanya malam ini," perintah sang manajer dengan suara dingin. "Manfaatkan hujan yang diprediksi turun tengah malam. Biar semuanya hanyut ke laut sebelum petugas datang besok pagi."

Malam itu, saat seluruh warga bantaran sungai tidur dengan mimpi tentang air jernih yang dilukis Danu, pipa raksasa di balik semak-semak hulu mulai bergetar. Cairan kental berwarna hitam pekat, berbusa, dan berbau logam yang menyengat menyembur keluar seperti darah dari luka yang menganga. Terlihat menyakitkan.

Danu terbangun tengah malam karena bau yang menusuk hidung, jauh lebih busuk dari biasanya. Ia berlari ke tepi sungai dengan pelita kecil. Cahayanya jatuh ke permukaan air. Ia langsung tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kaget.

Alih-alih warna biru cerah yang ia impikan, ia melihat cairan hitam berminyak yang berkilau jahat di bawah cahaya lampu. Ribuan ikan mulai dari nilem, mujair, hingga sapu-sapu, semuanya mengapung dengan perut putih menghadap langit. Mereka tidak menari seperti di lukisan Danu. Mereka mati dalam siksaan kimiawi. Tragis.

Pagi harinya, saat tim inspeksi datang dengan seragam rapi dan kamera, yang mereka temukan bukanlah sungai yang sedang dipulihkan, melainkan kuburan massal ekosistem. Mereka sekejap menganga kaget.

Danu berdiri di sana, memegang lukisan biru cerahnya yang kini terasa seperti ejekan yang kejam. Seorang wartawan mendekatinya, memotret lukisan itu, lalu memotret sungai yang hitam di belakangnya.

"Kontras yang bagus untuk judul berita," komentar si wartawan tanpa empati. "Ironi sang pelukis, mimpi biru di atas aliran hitam. Ini akan mendapat banyak klik di internet."

Siang itu, tim inspeksi pulang setelah mengambil sampel air yang hasilnya baru akan keluar berbulan-bulan kemudian, saat semuanya sudah terlambat. Pabrik itu tetap beroperasi, hanya dikenai denda administratif yang jumlahnya lebih kecil daripada biaya pengolahan limbah yang seharusnya mereka lakukan.

Danu kembali ke gubuknya. Ia mengambil lukisan sungai birunya yang indah itu. Tanpa ragu, ia mencelupkan kuasnya ke dalam lumpur hitam yang mengendap di pinggir sungai, lalu menyapukannya ke atas kanvas itu. Ia menghapus ikan-ikannya, menghapus anak-anak yang tertawa, dan menghapus warna biru langitnya.

Ia kini melukis sesuatu yang baru: potret tangan-tangan berdasi yang sedang memeras aliran sungai hingga mengeluarkan emas, sementara di bawah kaki mereka, jutaan orang tenggelam dalam cairan hitam.

"Kenapa kau merusaknya, Danu?" tanya Pak Samad dengan nada kecewa.

"Aku tidak merusaknya, Pak," jawab Danu dengan suara bergetar. "Aku hanya sedang melukis kenyataan. Ternyata, masa depan yang aku lihat kemarin hanyalah iklan yang mereka jual agar kita tetap diam saat mereka merampas hidup kita."

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda