Cerita Fiksi
Ancaman Sayang Berujung Tajam
Konon, kesetiaan adalah hal mutlak bagi pasangan, sekaligus tombak utama dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Dengan kesetiaan, kita akan menjadi kuat menghadapi segala rintangan. Namun, bagaimana kalau ikrar kesetiaan itu justru dilontarkan lewat jokes ancaman?
Kisah ini kudengar dari pasangan suami istri yang sudah bersama selama puluhan tahun. Dan tentunya, mereka sudah melewati beragam asam, manis, pahit, pedas, hingga senyelekit cabai rawit.
“Dikuncir saja, jangan ditekuk,” kata Marudi kepada Arifah, istrinya. “Kamu cantik.”
Arifah tampak malu-malu menatap suaminya, kemudian mulai mengikat rambut dengan pita. “Nanti belikan mie ayam, ya.”
Marudi mengangguk. “Siap.”
Mereka berboncengan sepeda menuju lapangan desa, di mana pentas wayang kulit dan campursari digelar. Sepanjang jalan, Marudi mesam-mesem saat merasakan lengan Arifah melingkar di perutnya. Hahaha, namanya juga pengantin baru.
Maklum saja, mereka baru sebulan resmi menjadi suami istri. Itu pun lewat ajang perjodohan, alias tidak melewati masa pacaran sama sekali.
Marudi sendiri belum pernah berpacaran. Hidupnya hanya berputar di sekitar kerjaan dan rutinitas menjahili Pakdhe Banteng bersama Bahri dan Santoso alias Gepeng. Hingga suatu hari, dia tiba-tiba ingin menikah. Marudi lantas mengutarakan keinginannya kepada Pakdhe Banteng, yang kemudian menjadi jembatan pertemuannya dengan Arifah. Tentunya, proses itu berada di bawah pengawasan ketat dan beragam interogasi dari ayah pihak perempuan.
“Mau beli mie ayam dulu atau jalan-jalan dulu?” tanya Marudi saat mereka sampai di lokasi.
“Jalan-jalan dulu bagaimana? Kita pacaran dulu.”
Jantung Marudi berdentam tak karuan. Ayolah, dia tahu mereka sudah menikah, tetapi tetap saja rasa geli menggelitik hatinya. Dia terbawa perasaan.
“Oke. Pegang tanganku, ya. Nanti aku hilang di tengah gelap malam,” pungkas Marudi.
Arifah tertawa, sedangkan Marudi menggeleng pelan.
Mau bagaimana lagi? Mereka berdua memiliki perbedaan fisik yang mencolok. Marudi berkulit sawo matang cenderung gelap, sedangkan Arifah berkulit kuning langsat cenderung putih. Arifah cantik, dan Marudi… biasa-biasa saja.
“Oh, Marudi, ya? Siapa yang ada di sebelahmu?”
Langkah mereka berdua terhenti oleh kehadiran seorang pemuda bertubuh kurus. Matanya memerah dan bibirnya bergerak-gerak tanpa kendali. Sepertinya dia sedang sakau.
“Ini istriku, Arifah,” kata Marudi santai. “Dik, ini temanku. Namanya Purnomo.”
Arifah mengangguk kecil. Aslinya, dia ketakutan melihat gerak-gerik Purnomo yang mirip orang kecanduan obat.
“Betulan istrimu? Bukan ‘teman’?” tanya Purnomo memastikan.
“Betulan. Aku baru nikah bulan lalu.”
Pandangan Purnomo beralih pada Arifah. “Mbak betulan istrinya Marudi?”
Arifah mengangguk takut. Dia semakin menempelkan tubuhnya pada Marudi. “Betulan, Mas.”
“Ini istriku. Kamu lihat dan perhatikan. Jangan sampai kamu macam-macam dengannya,” tutur Marudi tiba-tiba, nadanya berubah serius. “Jangan main-main dengannya.”
Purnomo menatap Marudi lamat-lamat, lalu mengangguk mantap. “Baiklah. Aku tidak akan macam-macam dengan istrimu.”
Setelahnya, Purnomo berlalu pergi. Langkahnya sempoyongan, sesekali ia tampak meneguk entah apa dari botol berbungkus plastik hitam. Meninggalkan Arifah yang masih didera ngeri.
“Namanya Purnomo, dulu teman sekolahku. Orangnya jadi kacau setelah bercerai dengan istrinya,” ucap Marudi sambil menyodorkan es teh yang baru dibelinya. “Dulu dia merantau ke Sumatera, kemudian menikah dengan perempuan sana. Tapi sewaktu pulang ke Jawa, ayahnya tidak setuju dan memaksa mereka bercerai. Dia jadi edan begitu.”
“Kok dipaksa bercerai?” tanya Arifah tidak mengerti.
“Tidak tahulah isi pikiran ayahnya. Padahal mereka rukun dan sudah punya anak.”
Sekelebat rasa iba muncul di hati Arifah, terefleksi jelas ke dalam sorot matanya. Dia memandangi punggung Purnomo yang mulai lenyap ditelan malam.
“Kamu juga jangan macam-macam. Kalau sampai kamu melirik lelaki lain, kuhancurkan alat kelaminmu,” ancam Marudi tiba-tiba.
Arifah malah terkekeh. “Mana mungkin.”
Mereka kemudian berhenti di kedai mie ayam, tepat sebelum larut dalam keriuhan pembukaan acara campursari. Ada kalanya mereka melipir lagi ke kedai jajanan, membeli makanan, lalu berjalan-jalan mengitari lapangan. Banyak orang berlalu-lalang silih berganti. Lapangan semakin ramai dan padat.
“Kamu juga jangan macam-macam. Baru lihat perempuan cantik sedikit saja sudah melirik. Mau kukebiri burungmu?”
Marudi menelan ludah payah saat mendengar nada ancaman Arifah. Terlebih istrinya itu mengucapkannya sambil tersenyum manis. “Siapa yang melirik?”
“Barusan kamu melirik perempuan itu. Yang pakai rok mini. Tertawa sok asyik lagi. Senang, kan, dia melambaikan tangan?!”
Marudi tergelak puas. Jantungnya kian berdentam-dentam. Bukan hanya karena adrenalin mendengar ancaman serius istrinya, melainkan karena ia merasa sudah menemukan partner yang sepadan.
Beberapa hari kemudian, Marudi baru saja kembali dari luar kota. Maklum, dia adalah driver ekspedisi antarkabupaten, bahkan antarprovinsi. Kadang baru seminggu, dua minggu, atau bahkan sebulan dia baru bisa pulang ke rumah. Kembali pada Arifah.
Namun, baru sedetik disambut senyuman manis istrinya, detik berikutnya Arifah sudah memelototkan mata. Kok bisa?!
“Kamu melirik perempuan lain lagi, ya? Ingat, kamu itu sudah punya istri. Tujuanmu bekerja itu untuk menghidupi kita, kan? Bukan untuk mencari pandangan lain?!”
“Kamu itu terlalu overthinking. Namanya di jalanan, ya ketemu banyak orang. Orang kan macam-macam, ada yang secantik kamu, ada yang biasa sepertiku.”
Arifah berkacak pinggang. “Aku juga tahu soal itu. Maksudku, kamu pasti punya pikiran mesum, kan?!”
“Kamu terlalu overthinking,” tukas Marudi sambil berdecak.
“Aku punya firasat dari mimpi. Nyata atau tidaknya, cuma kamu dan Tuhan yang tahu!”
Marudi lagi-lagi menelan ludahnya payah. Dia buru-buru menenangkan istrinya yang tampak berapi-api. Dikeluarkannya seribu satu rayuan, hingga akhirnya dia berhasil mengajak Arifah berbelanja ke pasar dan membeli mie ayam.
Namun, batin Marudi mendesah ngeri. Bagaimana ceritanya Arifah bisa tahu kalau dia memang sempat memiliki pikiran macam-macam tempo hari? Padahal itu murni hanya ada di dalam kepalanya, tidak dia utarakan kepada siapa pun.
Sepulangnya mereka dari berbelanja, Arifah tampak bahagia sembari menata barang di dapur. Meninggalkan Marudi yang terpekur sendirian di teras rumah.
“Kok dia bisa tahu kalau aku punya pikiran aneh, ya?” bisiknya pelan pada diri sendiri. “Padahal aku cuma membatin betapa seksinya perempuan berambut merah di kabupaten B waktu itu—”
“Nah, kan! Firasatku betulan, kan?!” Tiba-tiba Arifah muncul dari balik pintu, wajahnya berapi-api sembari menodongkan sebilah pisau dapur yang tajam ke arah Marudi. “Kupotong burungmu!”
Mungkin, kesetiaan tanpa dasar terdengar naif dan konyol. Namun bagi Marudi dan Arifah, kesetiaan memiliki landasan yang sangat nyata dan sepadan: insting tajam seorang istri, dan sebilah pisau yang siap menagih janji.