Senja yang Kutunggu di Bulan Ramadan

Lintang Siltya Utami | Eka Saputra
Senja yang Kutunggu di Bulan Ramadan
Foto Cahaya Senja (Wikimedia Commons/Munaqo)

Ramadan selalu punya aroma yang khas. Campuran wangi bawang goreng dari dapur, suara anak-anak mengaji di musala ujung gang, dan langit yang perlahan berubah jingga menjelang Magrib. Namun, ada satu Ramadan yang tak pernah bisa kulupakan—Ramadan ketika aku benar-benar belajar arti sabar.

Waktu itu, aku duduk di bangku SMP. Usia yang masih labil, mudah mengeluh, dan sering merasa hidup tidak adil. Ramadan datang bersamaan dengan kabar bahwa Ayah dirumahkan dari pekerjaannya. Kata “dirumahkan” terdengar halus, tetapi aku tahu artinya: penghasilan kami berhenti.

Sejak saat itu, suasana rumah berubah. Tidak ada lagi suara televisi menyala sepanjang sore. Ibu mulai lebih sering menghitung uang belanja dengan wajah serius. Ayah lebih banyak diam, duduk di teras sambil memandangi jalan.

Sahur pertama di bulan itu terasa berbeda. Meja makan hanya diisi nasi hangat, sayur bening, dan ikan asin. Tidak ada lauk istimewa seperti biasanya. Aku sempat merasa kecewa, tetapi ketika melihat Ibu tersenyum sambil berkata, “Yang penting kita masih bisa sahur bersama,” rasa kecewa itu berubah menjadi rasa bersalah.

Puasa hari pertama berjalan lambat. Tenggorokanku kering, perutku berbunyi, dan pikiranku dipenuhi bayangan es buah yang dijual di depan gang. Sore harinya, teman-temanku mengajakku membeli takjil di pasar Ramadan. Aku ikut berjalan bersama mereka, tetapi hanya bisa melihat-lihat. Uang sakuku harus dihemat.

Aku pulang dengan perasaan campur aduk. Di rumah, Ibu sedang menggoreng tempe. Aromanya sederhana, tapi hangat. Ayah duduk di ruang tamu, membaca Al-Qur’an pelan-pelan.

Menjelang Magrib, aku duduk di teras. Langit mulai berubah warna. Jingga, keemasan, lalu perlahan memudar. Entah kenapa, sore itu terasa lebih sunyi.

“Kamu menunggu azan atau menunggu senja?” tanya Ayah tiba-tiba.

“Menunggu berbuka, Yah,” jawabku jujur.

Ayah tersenyum tipis. “Coba lihat langitnya. Senja itu seperti janji. Setelah seharian menahan diri, Tuhan kasih kita hadiah kecil berupa warna yang indah.”

Aku terdiam. Baru kali itu aku benar-benar memperhatikan senja. Warnanya lembut, tidak mencolok, dan menenangkan. Seolah mengatakan bahwa tidak semua yang indah harus mewah.

Azan Magrib berkumandang. Kami berbuka dengan air putih dan tiga butir kurma pemberian tetangga. Rasanya manis sekali. Mungkin bukan karena kurmanya, tapi karena rasa syukur yang menyertainya.

Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama. Sederhana, kadang terasa berat. Aku mulai membantu Ibu berjualan gorengan kecil-kecilan setiap sore. Kami menatanya di meja kecil depan rumah. Tidak selalu habis terjual, tapi cukup untuk menambah uang belanja.

Suatu sore, hujan turun deras. Dagangan kami belum banyak laku. Aku kesal, merasa lelah, dan hampir menangis. “Kenapa sih harus sesulit ini?” gumamku.

Ayah mendengar keluhanku. Ia menghampiri, lalu berkata pelan, “Ramadan bukan cuma tentang menahan lapar. Ini tentang belajar kuat saat keadaan tidak seperti yang kita mau.”

Aku menunduk. Kata-kata itu sederhana, tapi menusuk. Aku sadar, selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri.

Beberapa hari kemudian, ketika senja kembali datang dengan warna yang cantik, Ayah pulang lebih cepat dari biasanya. Wajahnya berbeda—ada harapan di sana.

“Ayah dipanggil wawancara kerja,” katanya.

Aku dan Ibu saling berpandangan. Tidak ada pesta, tidak ada sorakan, hanya senyum kecil yang penuh doa.

Hari wawancara itu terasa lebih lama dari puasa seharian. Kami menunggu dengan cemas. Hingga akhirnya, menjelang Magrib, Ayah menerima telepon. Ia terdiam beberapa detik, lalu menatap kami dengan mata berkaca-kaca.

“Ayah diterima.”

Kalimat itu terasa seperti azan paling merdu yang pernah kudengar. Aku memeluk Ayah erat-erat. Ibu menangis sambil tersenyum. Senja hari itu terasa lebih hangat dari biasanya.

Ramadan terus berjalan hingga akhirnya tiba di penghujung bulan. Malam takbiran datang dengan suara gema yang mengguncang langit. Kami tidak membeli baju baru, tetapi hati kami terasa jauh lebih lapang.

Sejak saat itu, setiap Ramadan tiba, aku selalu teringat senja-senja sederhana di tahun itu. Tahun ketika aku belajar bahwa kebahagiaan bukan tentang meja makan yang penuh, melainkan tentang hati yang tetap utuh dalam keadaan sulit.

Kini, setiap kali menunggu azan magrib, aku tak lagi hanya menghitung menit menuju waktu berbuka. Aku menatap langit, mencari warna jingga yang pernah menjadi saksi perjuangan keluarga kecil kami.

Karena bagiku, senja di bulan Ramadan bukan hanya sekadar penanda waktu. Ia adalah simbol harapan. Bukti bahwa setelah pagi, siang, sore yang panjang dan melelahkan, selalu ada cahaya lembut yang datang membawa ketenangan.

Dan di setiap jingga yang perlahan menghilang itu, aku selalu menemukan satu pelajaran yang sama: sabar tidak pernah sia-sia. Sabar memang sering terasa berat dan sunyi, seolah tidak menghasilkan apa-apa. Namun justru dalam diam itulah ia menguatkan hati. Seperti senja yang datang tanpa tergesa, kesabaran mengajarkanku untuk percaya bahwa setiap proses punya waktunya sendiri.

Aku belajar bahwa sabar bukan berarti menyerah. Sabar adalah tetap berusaha meski pelan, tetap berdoa meski belum ada jawaban, dan tetap yakin meski keadaan belum berubah. Ramadan membuatku paham bahwa rasa lapar dan haus hanyalah bagian kecil dari latihan menjadi lebih kuat.

Jingga yang memudar selalu mengingatkanku bahwa tidak ada kesulitan yang abadi. Setelah hari yang panjang, azan magrib tetap datang. Setelah masa sulit, selalu ada jalan yang terbuka. Harapan mungkin redup sesaat, tetapi tidak pernah benar-benar padam.

Kini, setiap menatap senja di bulan Ramadan, aku tidak hanya menunggu waktu berbuka. Aku menunggu ketenangan yang datang bersama warna langit itu. Di sana ada doa, perjuangan, dan keyakinan yang tumbuh pelan-pelan.

Dan aku tahu, selama masih ada senja yang bisa kutunggu, selama itu pula aku akan terus belajar bahwa kesabaran selalu membawa makna.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak