Cerita Fiksi
Senja, Luka, dan Sebuah Cerita
Senja itu turun perlahan, menyelinap seperti doa yang dilantunkan tanpa suara. Langit merona jingga keemasan, seakan memeluk bumi dengan hangat. Ia tidak menggenggam dengan erat, hanya menemani.
Empat perempuan berdiri berdampingan menghadap ke satu arah yang sama, cakrawala, namun masing-masing membawa beban cerita yang berbeda.
“Cantik, ya…,” lirih Qia pelan, matanya menyipit menantang sisa cahaya.
“Iya, tapi sebentar lagi juga hilang,” sahut Wafiq di sebelahnya.
Prita tersenyum tipis, merapatkan kardigannya. “Semua yang indah memang begitu bentuknya… datang, lalu pergi.”
Selma, yang berdiri di ujung, menatap bentangan langit itu lebih lama dari yang lain. “Bukan hilang,” katanya lembut, menengahi. “Hanya berpindah. Digantikan oleh malam… dan nanti, Allah akan ganti lagi dengan pagi.”
Hening. Namun, bukan jenis hening yang kosong.
Angin sore berembus pelan, menerbangkan ujung-ujung hijab mereka, seolah membawa potongan perasaan yang tak pernah benar-benar selesai dieja.
“Dilema itu ternyata… jauh lebih melelahkan daripada kehilangan,” gumam Wafiq tiba-tiba, memecah kesunyian.
“Dilema tentang apa, Fiq?” tanya Qia sambil menoleh pelan.
Wafiq memaksakan sebuah senyum tipis, tetapi matanya tidak setenang biasanya. Ada badai kecil di sana. “Antara pilihan orang tuaku… dan laki-laki yang hatiku pilih.”
Tidak ada yang langsung menjawab. Ketiga sahabatnya tahu, itu adalah jurang yang terlalu curam untuk dikomentari sembarangan.
“Aku takut salah langkah,” lanjut Wafiq, menunduk menatap rerumputan. “Takut menyesal nanti, tapi di sisi lain, aku sangat takut mengecewakan salah satu dari mereka.”
Prita menarik napas pelan, menyentuh lengan Wafiq. “Kamu sudah coba istikharah?”
Wafiq mengangguk lemah. “Sudah… bahkan tahajud juga tidak putus. Tapi mungkin di dalam sini, aku masih memiliki terlalu banyak keinginan pribadi… jadi aku belum bisa benar-benar mendengar jawaban-Nya dengan jernih.”
Selma menoleh, suaranya mengalun tenang seperti air danau. “Kadang jawabannya tidak datang cepat, Fiq. Ia baru akan datang saat hati kita sudah benar-benar siap menerima… apa pun hasil akhirnya. Karena sejatinya, yang kita tunggu di atas sajadah bukan hanya sekadar jawaban, melainkan kesiapan batin untuk berdamai dengan kemungkinan terberat.”
Hening kembali mengambil alih. Langit mulai mencampurkan warna ungu di batas jingga.
Kali ini, giliran Qia yang berbicara pelan. “Aku juga sedang berjuang… tapi bukan hanya perihal hati.”
Mendengar nada suara itu, ketiga sahabatnya serentak menoleh. Qia tersenyum kecil, senyum yang sarat akan lelah.
“Tubuhku akhir-akhir ini sedang tidak sepenuhnya bersahabat denganku,” Qia memulai pengakuannya. “Kadang, sistem kekebalan tubuhku ini justru menyerang tubuhku sendiri. Jadi, tiap hari rasanya selalu berbeda. Bangun pagi saja kadang tubuh sudah terasa habis terkuras, sendi-sendi terasa nyeri… tapi dari luar, aku terlihat baik-baik saja dan sehat.”
Qia menelan ludah, menahan getar di suaranya. “Padahal di dalam sini, aku sedang berjuang menenangkan rasa sakit yang tidak semua orang bisa lihat.”
“Qia…” bisik Prita. Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca. “Kamu selama ini menyimpan semua kesakitan itu sendirian? Kenapa tidak pernah cerita pada kami?”
“Aku tidak apa-apa,” jawab Qia menenangkan, meski suaranya sedikit bergetar. “Aku hanya sedang belajar menerima… bahwa ritme hidupku kelak tidak akan selalu sama seperti orang lain.”
Selma menatapnya dengan tatapan yang sangat hangat. “Kamu luar biasa kuat, Qi. Bahkan saat kamu merasa berada di titik terlemah… kamu tetap memilih untuk bertahan. Dan itu bukan hal kecil. Butuh keberanian yang tidak dimiliki semua orang untuk tetap berdiri tegak setiap hari, di saat tubuhmu sendiri terasa melawanmu dari dalam.”
Wafiq ikut mengangguk, meremas lembut bahu Qia. “Dan perjuanganmu itu sangat nyata, Qi, walaupun tidak semua orang bisa melihatnya. Apa yang kamu rasakan itu bukan hal sepele. Kami mungkin tidak akan bisa sepenuhnya mengerti rasa sakitnya, tapi kami melihat usahamu bertahan setiap hari. Kamu tidak sendiri, dan kamu sangat hebat.”
Angin kembali berembus, membawa hawa dingin senja yang mulai menyusup ke pori-pori.
“Aku juga sedang belajar ikhlas,” kata Prita tiba-tiba, menunduk memainkan ujung bajunya. “Ikhlas dengan masa lalu… yang kadang masih datang mengetuk pikiran tanpa permisi. Kadang ia hadir hanya lewat kenangan-kenangan kecil, tapi rasanya sudah cukup untuk mengaduk kembali luka yang kukira sudah sembuh.”
Mendengar itu, Selma tersenyum penuh pemahaman. “Aku juga. Ternyata proses berdamai dengan masa lalu itu tidak cukup dilakukan sekali. Kadang, ia harus diulang-ulang. Berkali-kali.”
Prita mendongak menatap Selma. “Apa kalian pernah merasa… kenangan yang sudah berlalu jauh itu masih terasa menyakitkan hari ini?”
Selma mengangguk pelan, tanpa ragu. “Sering. Bahkan saat aku pikir aku sudah merelakan semuanya, ternyata lukanya masih diam-diam berdenyut. Ada hal-hal yang tidak benar-benar hilang, Ta. Mereka hanya belajar bersembunyi lebih rapi di balik senyuman kita.”
Wafiq menatap ketiga sahabatnya itu satu per satu, menyadari benang merah dari pertemuan mereka sore ini.
“Kita semua ternyata sedang berjuang… dengan cara dan medan perang yang berbeda-beda,” simpul Wafiq pelan. “Ada yang terlihat kuat, ada yang memilih untuk memendamnya dalam diam, tapi sebenarnya kita sama-sama sedang berusaha bertahan di tengah perasaan yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh kata-kata.”
Qia tersenyum lega. “Iya. Dan hebatnya, meski begitu, kita semua tetap bisa berdiri tegak di sini sekarang.”
Senja mulai memudar seutuhnya. Warna jingga perlahan larut termakan gelap, meninggalkan hamparan langit yang semakin tenang dan menua.
“Senja itu mengajarkan banyak hal, ya…” gumam Prita.
“Mengajarkan apa?” tanya Qia.
“Bahwa tidak semua hal yang indah di dunia ini harus kita miliki.”
Selma menimpali dengan anggukan kecil. “Dan tidak semua yang pergi meninggalkan kita, harus kita sesali tangisi.”
Wafiq menengadah, menatap hamparan langit yang kini nyaris hitam legam. “Satu hal lagi,” ucapnya mantap. “Tidak semua jawaban di hidup ini bisa dipecahkan dengan logika… kadang, ia memang harus ditanyakan langsung kepada Sang Pemilik Skenario. Karena hati yang berserah, akan jauh lebih peka menangkap petunjuk ketimbang pikiran yang terlalu bising oleh hawa nafsu dan keinginan.”
Wafiq terdiam sejenak, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam hatinya sendiri. “Mungkin… salat istikharah dan tahajud bukan sekadar ritual untuk mendesak meminta jawaban. Tapi, ia adalah proses menenangkan hati agar siap menerima ketetapan-Nya. Karena yang kita butuhkan rupanya bukan sekadar kepastian, melainkan keikhlasan untuk rida pada apa pun yang Allah tetapkan kelak.”
Hening.
Namun kali ini, keheningan itu terasa sangat utuh dan penuh. Empat perempuan itu merapatkan barisan, berdiri lebih dekat, bahu saling bersentuhan, membagi kehangatan.
“Pada akhirnya… yang terbaik itu bukanlah yang paling kita inginkan, tetapi yang Allah pilihkan,” tutup Selma memecah sepi. “Allah jauh lebih tahu mana yang akan menjaga kita, dan mana yang diam-diam akan menghancurkan kita.”
Matahari benar-benar telah tenggelam.
Langit boleh saja menggelap total, tetapi hati keempat perempuan itu perlahan benderang. Mereka tidak langsung beranjak pergi. Bukan karena sedang menunggu sesuatu datang di ujung jalan, melainkan karena mereka sedang belajar meresapi sebuah keyakinan: bahwa setiap luka ada maknanya, setiap dilema ada jalan keluarnya, dan setiap doa tidak akan pernah sia-sia menguap ke udara.
Dan di tengah senja yang telah undur diri itu, mereka memahami satu hal yang pasti.
Selama masih ada Allah di dalam dada, mereka tidak akan pernah benar-benar kehilangan arah.