Cerita Fiksi

Suatu Pagi di Kampung Benteng

Suatu Pagi di Kampung Benteng
Ilustrasi perseteruan warga (Gemini AI/Nano Banana)

"Bakar tenggiri di atas bara. Belum matang udeh diangkat. Kalo berani, maju semua. Berani nantang kagak bakalan selamat!"

"Tenggiri sambal terasi. Maju sendiri, saya juga berani!"

"Pasang bubu di tengah kali. Dapat sepat dimasak pindang. Eh, ente yang berani ganggu Wak Haji punye makam. Sekali gue sikat, kagak bakal bisa pulang!"

Anwar kecut. Matanya awas menatap lelaki berbadan tinggi besar di depannya yang sudah memasang kuda-kuda. Di belakangnya, Ipul dan Mamat memanas-manasi.

"Ayo balas, Pak. Jangan diam aja."

"Iya, Pak. Balas pantunnya Syahroni."

"Kalau berbalas pantun terus kapan selesainya, Mat? Urusan saya masih banyak."

Anwar kembali berbalik menghadap Syahroni. Kedua anak buah lelaki berkumis lele itu saling berbisik di belakangnya.

"Paling si Bapak bisanya cuma pantun dua baris."

"Mungkin nggak paham pantun laga jadi bingung balasnya."

"Atau memang nggak punya nyali berhadapan sama Bang Syahroni."

"Sok tahu!"

Anwar mendadak menoleh ke belakang, memelototi anak buahnya, membuat kedua orang tersebut langsung bungkam. Anwar kembali berbalik menghadap Syahroni. Tangannya yang tadi masih berkacak pinggang diturunkan pelan-pelan. Lelaki berkaus putih bercelana pangsi macam jagoan silat di depannya, yang berdiri dalam posisi kuda-kuda, masih memasang wajah angker.

"Pak Syahroni, saya datang ke sini mau bicara baik-baik. Kalau kita malah berkelahi, bisa-bisa masalah ini tidak akan pernah selesai."

Syahroni—melihat lawan di depannya tak lagi bersikap menantang, tak lagi mengepalkan tangan dalam posisi bertinju yang asal-asalan—menarik kakinya dari posisi kuda-kuda.

Padahal semula jika lelaki berbadan setipis tripleks ini nekat, Syahroni sudah siap memamerkan jurus kibas luar, tangkep dalem, maupun baduk kebo. Cukup mengeluarkan seperempat tenaganya, ia yakin bisa mengalahkan ketiga orang di depannya.

Namun, Syahroni teringat kata-kata Babe Sabeni, gurunya saat ia memperdalam Beksi. Bela diri itu selain untuk olahraga, menyehatkan badan, juga untuk melestarikan budaya Betawi yang mulai hilang. Jangan dipakai hanya untuk dijadikan ajang pamer, cari perhatian perempuan, menindas kaum lemah, atau bahkan untuk menghajar orang yang jelas tidak akan menang. Kalau masih bisa menggunakan otak, sebaiknya tidak perlu memakai jurus.

"Masuk ke rumah!"

Syahroni mendahului ketiga orang lelaki yang berdiri canggung di halaman rumahnya yang luas. Ia mengangguk pada sang istri yang berdiri di teras rumah. Anggukan itu semacam kode bahwa semua baik-baik saja, buatkan saja kopi untuk para tamu.

Perempuan berjilbab ungu muda, yang semula was-was melihat suaminya seakan-akan siap menghabisi para tamunya, tersenyum kaku sebelum berbalik menuju dapur.

Saat ketiga orang tadi datang, Syahroni tanpa ba-bi-bu segera menyambut mereka di pekarangan. Ia menunggu sampai tamu-tamu tak diundangnya itu turun dari mobil, lalu terjadilah percakapan singkat yang menyatakan maksud tujuan para tamu tersebut, yang sebenarnya sudah diketahui Syahroni.

Perdebatan lalu memuncak karena aksi menantang dari ketiga orang tamu tersebut, membuat Syahroni berpantun seraya memasang kuda-kuda, sebagai tanda untuk memulai perkelahian.

Berita tentang pemakaman Kampung Benteng yang akan digusur untuk dijadikan sirkuit balap mobil, memang sudah membuat Syahroni murka. Namun, dalam pertemuan di balai desa semalam, para tetua sudah menyabar-nyabarkan lelaki empat puluh tiga tahun itu agar jangan bertindak gegabah.

"Di pemakaman itu ade makam Wak Haji Kebek. Orang yang kite semua hormati karena beliau pejuang di masa penjajahan. Aye masih ingat kisah tentang Wak Haji.

“Beliau adalah satu-satunye orang yang menentang saat rakyat dipaksa Nippon menanam padi, karet, dan kina. Beliau justru menanam bunga matahari."

Syahroni berucap takzim. Di sampingnya, Abah Soleh, salah seorang tetua kampung, mengangguk-angguk mendengarkan lalu turut menyambung perkataan Syahroni.

"Iya, gue juga masih ingat cerita dari Abah gue tentang kecerdikan Wak Haji, Ron. Waktu beliau diinterogasi oleh seorang Jenderal dari angkatan darat kekaisaran Jepang, karena dituduh menentang aturan, Wak Haji pinter banget ngeles. Dia bilang, menanam bunga matahari adalah cara beliau menghormati Saudara Muda, Nippon, yang dikenal sebagai Negeri Matahari Terbit.

"Jenderal itu pada akhirnya merasa bangga karena dihormati sampai sedemikian rupa dan lalu mewajibkan setiap orang untuk menanam bunga matahari. Padahal itu cuman akal-akalan Wak Haji, karena minyak saat itu langka dan biji bunga matahari bisa diolah menjadi minyak untuk kebutuhan rakyat."

Warga yang hadir dalam pertemuan semalam turut menyimak cerita Abah Soleh. Lalu satu per satu mereka ikut menyebutkan segala kebaikan yang telah dilakukan Wak Haji Kebek.

"Banyak sekali jasa Wak Haji, mulai dari membuka lahan sampai membuat perkampungan ini, yang lalu dinamakan Kampung Benteng."

"Ya. Beliau pada masanya juga mengajarkan cara bercocok tanam, pengairan, bela diri, bahkan beliau juga memperhatikan pendidikan."

"Karena itu, Abah Soleh dan Bapak-Bapak sekalian, aye kagak setuju relokasi makam. Kagak baek mengganggu mereka yang udeh tenang di alam sono. Terlebih lagi jika itu adalah makam Wak Haji, leluhur yang sangat kite hormati." Syahroni kembali mengutarakan keresahannya.

"Bagaimana kalau Pak Sanusi, pemilik lahan itu datang? Diam-diam dia sudah mendekati warga melalui anak-anak buahnya, agar bersedia makam para kerabatnya dipindahkan." Seorang lelaki berambut klimis berbicara dari pojok ruangan.

"Kabar dari Marzuki, orang kampung sebelah yang istrinya bekerja di rumah Bos Cakra Buana itu juga bilang, majikan istrinya tersebut memiliki sertifikat kepemilikan tanah makam. Setahu saya pemakaman di kampung kita berasal dari tanah wakaf Haji Entong,” sambung lelaki berperut buncit yang duduk di barisan tengah.

"Sertifikat bisa dipalsuin. Tapi, Abah dan Bapak-Bapak sekalian tenang aje. Aye yang bakal maju lebih dulu kalo sampe tuh orang berani dateng."

Itulah yang dilakukan Syahroni kemudian, maju menghadapi lawan yang kini mengikutinya ke dalam rumah. Syahroni lebih dulu masuk ke ruang tamu, lalu menjatuhkan tubuhnya ke salah satu kursi. Ia meletakkan kedua tangan di kiri-kanan sandaran kursi, sambil mengawasi Anwar dan kedua orang anak buahnya dengan mata nyalang, saat mereka ikut menghempaskan bokong kurus mereka ke atas kursi.

Mariam, istri Syahroni, muncul dari balik pintu. Empat gelas kopi dan sekaleng rengginang dalam wadah biskuit segera diletakkan di atas meja, sebelum perempuan berbadan montok itu kembali masuk ke dalam rumah.

"Langsung saja ya, Bang Syahroni. Seperti yang sudah saya sampaikan saat baru sampai tadi. Saya perwakilan dari perusahaan Cakra Buana yang akan membangun sirkuit balap mobil di sekitar daerah pemakaman. Kami sudah melakukan pembebasan lahan dan memberikan uang kompensasi yang layak untuk tiga kampung lainnya.

“Tanah pemakaman Kampung Benteng juga masuk ke dalam pembangunan sirkuit tersebut. Sembilan puluh hektare sudah siap untuk segera dimulai pembangunannya, tapi terkendala dengan adanya lahan pemakaman Kampung Benteng, yang makam-makamnya belum memperoleh izin untuk dipindahkan."

Anwar berdehem sebelum meneruskan. Melihat Syahroni yang terus menatapnya dengan tajam, timbul rasa jeri dalam diri lelaki tiga puluhan tahun tersebut.

"Kami sudah melakukan pematokan tanah Kebon Jahe di Dusun Sriti. Rencananya lahan tersebut yang akan dijadikan lokasi makam baru. Jangan khawatir, pemindahan jenazah juga akan kami lakukan sesuai prosedur."

"Iya, Bang. Pokoknya nggak akan ada hak-hak jenazah yang dicurangi." Ipul memotong ucapan bosnya membuat Anwar melotot kesal. Baru saja ia akan kembali membuka mulut, Syahroni menggebrak meja di depannya membuat gelas-gelas kopi bergetar sampai menumpahkan sebagian isinya. Ketiga tamu Syahroni mendadak pias.

"Kalian boleh ngomong ape aje, tapi gue dan semua warga kagak bakal mengubah keputusan. Di pemakaman itu ade makam Wak Haji Kebek, leluhur kampung ini. Beliau hidup dan wafat di sini. Kagak ade satu hal pun yang boleh membuat Wak Haji terusir dari kampung yang beliau bangun sendiri!"

Kata-kata Syahroni tak lagi bisa ditawar, meskipun Anwar kembali berkeras, menyebut-nyebut sertifikat kepemilikan dan mengerahkan segala macam cara. Ketiga orang itu berhasil diusir pergi tanpa sempat mencicipi kopi mereka.

***

Sebulan kemudian, para penggali makam bersama Anwar dan antek-anteknya yang kali ini lebih banyak, bersiap di depan pemakaman Kampung Benteng. Relokasi makam tetap akan dilakukan karena kepemilikan sertifikat atas nama Sanusi Idris, direktur Cakra Buana, telah menguntungkan pihak perusahaan.

Syahroni bersama murid-murid bela diri Beksi asuhannya dan para warga yang tak setuju dengan pemindahan paksa makam tersebut, juga telah bersiap. Syahroni maju ke hadapan lawan. Suaranya lantang menciutkan nyali orang-orang yang berseberangan dengannya.

"Kembang seroja di ujung kail. Kailnye dilempar kena ikan terbang. Elu semua yang bawa bedil. Sekali gue gampar, nyawa melayang."

Tak ada yang berani menjawab pantun Syahroni karena itu berarti pertempuran akan dimulai. Di kubu lawan terdengar bisik-bisik tertahan. Syahroni memberi tanda pada murid-muridnya yang segera menyebar membentuk lingkaran diikuti para warga. Pihak lawan terjepit di tengah-tengah arena. Tak berkutik. Keringat berjatuhan di wajah pias mereka.

Anwar memegang erat map biru berisi fotokopi sertifikat yang akan ia tunjukkan pada Syahroni. Namun, niat tersebut tak pernah jadi kenyataan, saat teriakan lantang Syahroni kembali memecah pagi yang tak lagi setengah matang.

"Seraaanggg …!"

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda