Angin malam Ramadan berembus pelan di beranda rumah kayu, suasana dingin tapi menenangkan. Lampu temaram menggantung di sudut, cahayanya kuning hangat. Di pangkuan langit, bulan separuh tersenyum malu-malu di samping hamburan bintang-bintang.
“Kek, benarkah ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan?” tanya seorang anak laki-laki kecil dengan nada penasaran menatap sang kakek.
Kakek tersenyum. Janggutnya yang memutih bergerak pelan ketika ia menghela napas panjang, seperti hendak membuka lembaran sejarah yang disimpan rapi dalam ingatannya.
“Namanya Lailatul Qadr, Nak,” katanya lembut.
“Malam yang tak terlihat oleh mata biasa, tapi terasa oleh hati yang mencari.”
Cucu laki-lakinya, Hasan, mendekat. Matanya berbinar, seperti menemukan harta karun dalam cerita.
“Kakek pernah bertemu malam itu?”
Kakek tertawa kecil, “Banyak orang mengejarnya. Tapi Lailatul Qadr bukan untuk dikejar dengan kaki. Ia datang pada hati yang siap.”
Hasan mengerutkan dahi. “Ceritakan, Kek. Dari awal.”
Kakek menatap langit, seakan memanggil sejarah turun ke beranda rumah mereka.
“Dulu sekali,” Kakek mulai,
“Di sebuah kota bernama Makkah, langit begitu gelap. Manusia menyembah berhala, hati mereka keras seperti batu. Lalu pada satu malam di bulan Ramadan, di sebuah gua sunyi bernama Hira, seorang lelaki sedang menyendiri.”
“Rasulullah?” Hasan menebak cepat.
Kakek mengangguk bangga.
“Ya. Di sanalah Malaikat Jibril turun membawa wahyu pertama. Malam itu bukan malam biasa. Malam itu langit terbuka. Kata-kata Tuhan turun menyentuh bumi.”
Kakek menutup mata sejenak, seakan mendengar gema ayat yang pertama kali turun.
“Malam itu,” lanjutnya,
“menjadi awal perubahan dunia. Dari kegelapan menuju cahaya. Dari kebingungan menuju petunjuk. Itulah Lailatul Qadr.”
“Kek, kenapa Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan?” tanya Hasan lagi
Kakek tersenyum. Tangannya yang penuh keriput mengusap kepala cucunya.
“Bukan sekadar keajaiban, San, itu adalah jawaban atas kegelisahan seorang Nabi.”
Hasan mengangkat wajahnya. “Nabi Muhammad?”
Kakek mengangguk.
“Dengarkan baik-baik. Ini bukan hanya cerita tentang satu malam. Ini cerita tentang kasih sayang Allah kepada umat yang usianya pendek, tapi ingin beramal panjang.”
“Dulu, Rasulullah pernah bercerita kepada para sahabat tentang seorang lelaki dari Bani Israil. Dalam beberapa riwayat, ia disebut sebagai Nabi Sam’un Ghozi. Ia beribadah dan berjihad di jalan Allah selama seribu bulan.”
Hasan membelalakkan mata. “Seribu bulan? Itu lama sekali!”
“Lebih dari delapan puluh tiga tahun,” jawab Kakek.
“Bayangkan, seumur hidup penuh hanya untuk taat. Bahkan para sahabat yang mendengar cerita itu merasa kagum tapi gelisah juga, hingga ada yang bertanya kepada Rasullullah, ‘Ya Rasulullah, umur kami tidak sepanjang umat terdahulu. Bagaimana kami bisa menyamai amal mereka?”
Hasan menunduk. “Iya juga ya, Kek. Umur kita kan tidak sampai ratusan tahun.”
Kakek tersenyum. “Itulah yang juga membuat Rasulullah gelisah. Beliau mencintai umatnya. Beliau ingin umatnya memiliki kesempatan yang sama, bahkan lebih.”
Suasana malam itu semakin dingin dan menenangkan, bahkan angin pun tak ada, hanya hening seperti alam semesta ikut mendengarkan kisah kakek dan hasan.
“Lalu, Allah menurunkan Surah Al-Qadr. Sebuah kabar yang membuat langit dan bumi seakan tersenyum.” Kakek melanjutkan cerita.
Hasan mendekat.
“Dalam surah itu disebutkan bahwa ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Bukan seribu hari, bukan seribu pekan. Seribu bulan.”
“Berarti Allah memberi umat Nabi Muhammad hadiah?” Hasan bertanya.
“Bukan hanya hadiah,” jawab Kakek. “Itu anugerah dan jawaban. Jawaban atas kekhawatiran Nabi tentang usia umatnya.”
Kakek lalu menggeser duduknya, suaranya berubah lebih dalam.
“Tapi Lailatul Qadar bukan hanya tentang angka. Malam itu pertama kali terjadi jauh sebelum para sahabat mendengar kisah Bani Israil tadi.”
“Di mana, Kek?”
“Di Gua Hira.”
Hasan tersenyum kecil. Ia tahu bagian ini.
“Pada malam Ramadan yang sunyi, Rasulullah sedang berkhalwat. Dunia saat itu gelap oleh kejahilan. Lalu Malaikat Jibril turun membawa wahyu pertama.”
“Iqra’…” bisik Hasan.
Kakek mengangguk bangga.
“Malam itu langit terbuka. Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Itulah Lailatul Qadar yang pertama. Malam kemuliaan. Malam ketika petunjuk turun ke bumi.”
Hasan terdiam, membayangkan gua kecil di atas bukit, Nabi yang gemetar menerima wahyu, dan malaikat yang memenuhi ruang.
“Jadi Lailatul Qadar itu keajaiban sekaligus janji?” tanyanya.
“Benar,” jawab Kakek. “Sejarah turunnya Al-Qur’an, dan janji bahwa umat ini diberi kesempatan mengejar pahala panjang meski umur pendek.”
Hasan mengangkat wajahnya lagi. “Kapan malam itu datang, Kek?”
Kakek tersenyum samar. “Allah merahasiakannya. Tapi Rasulullah memberi petunjuk dengan kita mencari dan memperbanyak amal baik di sepuluh malam terakhir Ramadan. Terutama malam-malam ganjil.”
“Dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, atau dua puluh sembilan?” Hasan menyebut cepat.
Kakek tertawa kecil. “Wah, cucu Kakek sudah pintar.”
“Tapi kenapa dirahasiakan?” tanya Hasan.
“Agar manusia tidak malas,” jawab Kakek lembut.
“Kalau diberi tahu pasti tanggalnya, mungkin orang hanya beribadah satu malam saja. Tapi karena dirahasiakan, kita belajar bersungguh-sungguh di banyak malam.”
Hasan mengangguk pelan, “Tapi kan, kek, apa kakek pernah merasakan tanda-tandanya?”
Kakek terdiam sejenak.
“Dalam banyak riwayat, malam itu digambarkan tenang. Tidak panas, tidak dingin. Pagi harinya matahari terbit dengan cahaya yang lembut, tidak menyilaukan. Seolah alam ikut tunduk dengan malam suci ini.”
“Serius, Kek?”
“Ya. Tapi ingat, tanda bukan tujuan. Yang utama adalah ibadahnya, meminta ridho Allah.”
Suasana rumah semakin hening dan angin terus menyusup masuk ke dalam ruangan di tempat kakek dan Hasan berbincang.
“Kek, apa yang terjadi di malam itu selain turunnya Al-Qur’an?”
Kakek menatap langit-langit rumah, seakan melihat sesuatu yang tak kasat mata.
“Di malam itu, malaikat-malaikat turun ke bumi. Termasuk Malaikat Jibril. Mereka membawa ketetapan Allah, mengatur urusan, dan menyebarkan salam serta ampunan.”
Hasan merinding kecil, “Berarti bumi penuh malaikat?”
“Penuh. Bahkan lebih banyak daripada kerikil di tanah. Mereka turun kepada hamba-hamba yang beribadah. Yang berdiri dalam salat. Yang menengadahkan tangan memohon ampun.”
Hasan menelan ludah. “Kalau aku hanya berdoa sebentar, apa tetap dihitung?”
Kakek tersenyum lembut.
“San, Allah tidak melihat panjang pendeknya doa saja. Allah melihat hati yang tulus. Satu doa yang jujur di malam itu bisa lebih berat dari puluhan tahun amal biasa.”
Hasan menunduk. “Aku sering merasa ibadahku sedikit.”
Kakek menggenggam tangannya.
“Itulah mengapa Lailatul Qadar ada. Agar orang yang amalnya sedikit punya kesempatan melipatgandakannya. Agar umat yang usianya pendek bisa menyamai umat yang hidup ratusan tahun.”
Hasan terdiam lama. Ia membayangkan Rasulullah yang khawatir pada umatnya. Membayangkan para sahabat yang ingin menyamai ibadah panjang umat terdahulu. Dan membayangkan Allah yang menjawab kegelisahan itu dengan satu malam penuh kemuliaan.
“Kek, berarti Lailatul Qadar itu bukti cinta Allah ya?”
Kakek tersenyum lebar.
“Ya. Bukti bahwa Allah tahu keterbatasan kita. Tahu umur kita singkat. Tahu kita mudah lelah. Tapi Dia tetap membuka pintu selebar-lebarnya.”
Hasan berdiri perlahan, “Malam ini ganjil, kan Kek?”
Kakek melihat kalender di dinding. Ia tersenyum, “Iya.”
Hasan mengambil peci kecilnya, “Ayo ke masjid, Kek.”
Kakek tertawa pelan. “Kenapa tiba-tiba semangat?”
Hasan menjawab dengan mata berbinar, “Kalau umat dulu bisa beribadah seribu bulan, aku ingin mencoba satu malam yang nilainya sama.”
Kakek bangkit perlahan. Lututnya berbunyi pelan, tapi hatinya terasa ringan. Di luar, langit bersih dengan pemandangan malam yang indah. Udara sejuk, tidak panas, tidak dingin. Malam terasa tenang. Kakek memandang cucunya berjalan lebih dulu menuju masjid kecil di ujung jalan.
Dalam hati ia berbisik, “Ya Allah, beginilah cara-Mu menjaga agama ini. Dari kisah Nabi, turun ke hati anak kecil.”
Dan mungkin, di salah satu malam ganjil itu, ketika seorang kakek dan cucunya berdiri dalam salat dengan hati penuh harap malaikat-malaikat benar-benar turun, membawa salam hingga terbit fajar.
Karena Lailatul Qadar bukan hanya tentang seribu bulan. Ia tentang harapan yang tidak pernah Allah biarkan padam dan bentuk kasih sang pencipta pada makhluk-Nya.