Cerita Fiksi

Ketakutan Kiko Menjelang Hari Raya

Ketakutan Kiko Menjelang Hari Raya
Ilustrasi Ketakutan Kiko Menjelang Hari Raya (Nano Banana/Gemini AI)

Peternakan Udin Jaya di Malang mendadak ramai menjelang Iduladha. Pak Udin, sang pemilik, sibuk menyambut pengunjung yang datang mencari hewan kurban.

‎Di salah satu sudut kandang, Kiko si kambing jantan sedang santai mengunyah rumput. Dia merasa aman. Di peternakan itu, kambing yang boleh dikurbankan harus sudah poel (gigi depannya tanggal). Sementara gigi Kiko? Masih kuat dan belum ada tanda-tanda copot.

‎Berbeda dengan Abam, kambing gempal di sebelahnya. Tiga hari lalu gigi Abam copot saat makan, membuatnya ketakutan sejak saat itu.

‎"Duh, Kiko... aku takut sekali," bisik Abam saat melihat pengunjung datang.

‎"Sudah, tenang saja. Mereka cuma melihat-lihat," jawab Kiko santai.

‎Tak lama, Pak Udin datang bersama pengunjung. "Kalau yang gempal ini namanya Abam, sudah poel," jelas Pak Udin.

‎Pengunjung itu lalu menunjuk Kiko. "Kalau yang ini, Pak?"

‎Pak Udin tersenyum. "Oh, ini Kiko. Memang sekarang belum poel. Tapi minggu depan saat Iduladha, usianya genap satu tahun, jadi sudah memenuhi syarat."

‎Mendengar itu, Abam langsung menoleh panik. Namun Kiko tetap santai. Dalam hati ia berpikir, "Ah, Pak Udin pasti bercanda. Gigiku masih utuh. Aku aman." Lalu ia kembali mengunyah rumput seperti biasa.

‎Malam harinya, Abam masih gelisah.

‎"Kiko! Kenapa kamu masih santai? Pak Udin bilang kamu juga akan dikurbankan minggu depan!" kata Abam cemas.

‎Kiko tertawa kecil. "Mbeee~ kamu terlalu khawatir, Bam. Lagi pula, kata Pak Ko, syarat kurban itu harus poel. Gigiku belum copot, jadi aku aman tahun ini. Lebih baik kamu pikirkan dirimu dulu."

‎Abam hanya menggeleng pelan melihat sahabatnya itu. Dia tahu, Kiko belum sadar bahwa takdir besar sedang menunggunya di hari ulang tahunnya minggu depan.

‎Dua hari sebelum Hari Raya Iduladha tiba, Pak Udin punya kebiasaan khusus. Seminggu sekali, ia selalu melepas kambing-kambingnya ke padang rumput yang luas agar tidak stres menjelang hari penyembelihan. Pak Udin dan para pekerja memanfaatkan waktu ini untuk membersihkan kandang.

‎Di padang rumput, Kiko dan Abam sedang asyik mengunyah rumput hijau yang segar. Namun, sebuah kejadian tak terduga tiba-tiba terjadi. Saat Kiko merenggut seikat rumput yang besar, giginya tidak sengaja menggigit akar yang keras dan berbatu.

‎'Klak!'

‎Kiko tersentak. Sesuatu yang keras lepas dari mulutnya. Saat sadar itu adalah gigi depannya yang tanggal, mata Kiko langsung membelalak. Dia membeku.

‎Abam yang berada di sampingnya melihat kejadian itu. Bukannya mengejek, Abam malah menggeleng pelan.

‎"Apa kubilang, Kiko... waktumu juga akan tiba, kan?" bisik Abam dengan rasa kasihan.

‎Kiko yang panik tidak tahu harus berbuat apa. Pikirannya mendadak berputar ke masa lalu. Dia ingat pernah mendengar cerita dari teman-temannya yang mengantre giliran disembelih. Bayangan rasa sakit dan pisau tajam yang diceritakan mereka kini berputar-putar di kepalanya. Rasa takut perlahan menguasai seluruh pikirannya.

‎Saat itu, hanya ada satu kata yang terlintas di benak Kiko: kabur!

‎Tanpa pikir panjang, Kiko mengambil ancang-ancang lalu melompati pagar kayu rendah yang mengelilingi padang rumput itu.

‎"Mbee~ Kikooo! Kamu mau ke mana?!" teriak Abam kaget.

‎Namun, tekad Kiko sudah bulat. Dia tidak sanggup membayangkan harus menghadapi pisau lusa nanti. Kiko berlari sejauh mungkin meninggalkan Peternakan Udin Jaya, menerobos semak-semak tanpa memedulikan rasa lelah.

‎Sampai akhirnya, kaki Kiko terasa sangat letih. Napasnya terengah-engah. Dia memutuskan beristirahat di bawah pohon rindang. Sendirian di tempat asing, pertahanan Kiko runtuh.

‎"Huhu... bagaimana nasibku sekarang? Aku tidak mau mati..." tangis Kiko pecah.

‎Mendengar suara tangisan itu, seekor burung jalak hitam mendarat pelan di atas salah satu tanduk Kiko. Kiko langsung mengenalinya. Burung ini sering hinggap di tubuh kambing-kambing di peternakan untuk mencari kutu.

‎"Kamu Kiko, kan?" tanya burung itu dengan ramah.

‎Kiko mendongak, menghapus air matanya. "I-iya... kamu siapa?"

‎"Aku Elma. Masa lupa? Aku yang pernah menggaruk punggungmu dan Abam di padang rumput," jawab Elma sambil mengepakkan sayapnya pelan.

‎Mata Kiko perlahan melebar. "Oh... kamu burung penggaruk itu."

‎"Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Elma prihatin.

‎Kiko menghela napas panjang lalu menceritakan semuanya. "Aku takut sekali, Elma. Aku tidak siap dikurbankan. Aku terus membayangkan cerita-cerita menyeramkan dari teman-temanku. Aku tidak mau hidupku berakhir seperti itu..." katanya lirih.

‎Elma mendengarkan dengan sabar. Setelah itu, ia mengusap kepala Kiko dengan ujung sayapnya.

‎"Kamu tenang dulu, Kiko. Jangan menangis lagi. Ayo ikut aku. Aku akan mengantarmu bertemu Pak Ko. Dia kambing hutan tua yang bijak. Mungkin dia bisa membantu menghilangkan ketakutanmu," kata Elma lembut.

‎Kiko menghapus air matanya lalu mengangguk. Dipandu Elma, ia berjalan menuju perbukitan sunyi di tepi hutan hingga tiba di gua tempat Pak Ko tinggal.

‎Pak Ko adalah kambing hutan tua yang gagah, dengan bulu kelabu tebal dan tanduk melingkar.

‎"Eh, Elma? Dan... kamu Kiko, kan?" sapa Pak Ko ramah.

‎Kiko menunduk. "I-iya, Pak Ko. Saya kabur dari peternakan..."

‎Pak Ko tersenyum. "Kenapa kamu kabur?"

‎"Lusa Iduladha, Pak Ko. Gigi saya baru copot. Saya takut dikurbankan..." suara Kiko bergetar.

‎Pak Ko mendekat lalu berkata lembut, "Kiko, dulu saya juga takut seperti kamu. Saya memilih lari agar selamat. Tapi akhirnya saya hidup sendirian di sini, menua tanpa memberi manfaat bagi siapa pun."

‎Kiko terdiam mendengarkan.

‎Pak Ko melanjutkan, "Sedangkan kamu dan Abam punya takdir yang berbeda. Ada orang-orang yang jarang makan daging, ada anak-anak yang menunggu hari raya untuk merasakan kebahagiaan. Kehadiranmu bisa menjadi berkah bagi mereka."

‎Pak Ko menatap Kiko hangat. "Menjadi hewan kurban bukan sekadar kehilangan, tetapi juga memberi. Rasa sakitnya sesaat, namun kebaikan yang ditinggalkan bisa bertahan lama."

‎Kata-kata itu membuat hati Kiko perlahan tenang. Bayangan menakutkan di pikirannya mulai tergantikan oleh wajah orang-orang yang akan tersenyum karena kehadirannya.

‎"Jadi... saya tidak perlu takut?" tanya Kiko pelan.

‎Pak Ko mengangguk. "Jangan takut, Kiko. Hadapi dengan berani. Kamu membawa kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan."

‎Kiko menarik napas panjang. Kini tekadnya berubah. Ia menatap Elma lalu berkata, "Elma, antarkan aku pulang. Aku tidak mau bersembunyi lagi. Aku ingin menjalani takdirku bersama Abam."

‎Fajar di hari Iduladha pun menyingsing. Suasana di Peternakan Udin Jaya sangat sibuk. Pak Udin dan para pekerjanya tampak panik karena sejak dua hari lalu Kiko menghilang.

‎Di dalam kandang, Abam duduk termenung sendirian. "Kiko... kamu beruntung bisa kabur. Tapi aku sedih harus menghadapi semua ini sendirian," bisiknya pelan.

‎Tiba-tiba, terdengar suara dari arah pagar depan. "Pak Udin! Itu Kiko pulang sendiri!" teriak seorang pekerja.

‎Pak Udin langsung berlari keluar. Di sana, Kiko berjalan masuk dengan kepala tegak, ditemani Burung Elma yang terbang di atasnya. Wajahnya tak lagi menyimpan ketakutan.

‎"Alhamdulillah, kambing pintar!" seru Pak Udin lega sambil menuntun Kiko kembali ke kandang.

‎Abam membelalak. "Kiko?! Kamu kembali?"

‎Kiko tersenyum. "Aku sudah bertemu Pak Ko, Bam. Aku sadar takdir kita ini mulia. Mana mungkin aku membiarkan sahabatku menghadapinya sendirian? Kita sudah bersama sejak kecil, jadi kali ini pun kita hadapi bersama."

‎Mata Abam mulai berkaca-kaca. "Jadi... kita akan menjalaninya bersama?"

‎"Tentu, Bam," jawab Kiko mantap.

‎Tak lama kemudian, panitia kurban datang menjemput mereka. Saat berjalan berdampingan menuju halaman masjid, mereka melihat anak-anak tersenyum riang dan takbir berkumandang lembut.

‎Saat direbahkan di atas rerumputan, Kiko menatap Abam untuk terakhir kali.

‎"Sampai jumpa di langit, Bam."

‎"Sampai jumpa, Ko. Terima kasih sudah kembali."

‎Keduanya memejamkan mata dengan damai. Mereka tahu, tubuh mereka akan menjadi kebahagiaan dan rasa syukur bagi orang-orang yang membutuhkan. Persahabatan mereka pun abadi, meninggalkan kebaikan yang tak terlupakan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda