Cerita Fiksi

Lelaki Tua di Bangku Stasiun

Lelaki Tua di Bangku Stasiun
Seorang lelaki tua duduk sendirian di bangku stasiun sambil memandangi rel kereta saat senja. (Pexels/Shovan Datta)

Setiap pukul enam sore, lelaki tua itu selalu datang ke Stasiun Kota. Pakainya rapi. Kemeja putih yang sudah sedikit menguning di bagian kerah, celana bahan hitam, dan sepatu kulit lama yang masih mengilap meski solnya mulai tipis. Rambutnya disisir rapi ke belakang, seolah ia sedang bersiap bertemu seseorang yang penting. Dan mungkin memang begitu. Ia selalu duduk di bangku nomor tiga dekat jalur kedatangan. Diam. Menunggu.

Awalnya orang-orang tidak terlalu memperhatikan. Stasiun itu terlalu sibuk untuk peduli pada satu lelaki tua yang duduk sendirian setiap hari. Tapi lama-lama, para pedagang, petugas kebersihan, bahkan satpam mulai hafal wajahnya. Karena ia selalu datang. Dan selalu pulang sendirian.

Namaku Raka. Aku pertama kali memperhatikan lelaki itu saat keretaku terlambat hampir satu jam. Karena bosan bermain ponsel, aku mulai memperhatikan sekitar. Saat itulah mataku tertuju pada lelaki tua di bangku nomor tiga. Ia duduk sangat tenang di tengah keramaian stasiun. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah lelah sepulang kerja. Anak kecil menangis. Pengumuman kereta bersahut-sahutan. Tapi lelaki itu tetap diam sambil sesekali melihat jam tangannya. Ada sesuatu dari caranya menunggu yang terasa, sedih.

“Dia nunggu siapa, Pak?” tanyaku pada penjual kopi dekat peron.

Penjual itu melirik sekilas. “Oh, bapak itu lagi.”

“Lagi?”

“Iya. Hampir tiap hari datang.”

“Anaknya belum datang-datang?”

Penjual kopi itu terdiam sebentar sebelum menjawab pelan. “Anaknya sudah meninggal. Tiga tahun lalu.”

Katanya, lelaki itu bernama Pak Harun. Dulu ia seorang guru matematika di kota kecil dekat sini. Istrinya meninggal lebih dulu, jadi ia membesarkan anak laki-lakinya sendirian. Semua hidupnya ia habiskan untuk anak itu. Lembur mengajar. Menghemat makan. Menjual motor satu-satunya demi biaya kuliah. Dan semua perjuangan itu berhasil. Anaknya diterima kerja di Jakarta.

Hari keberangkatan anaknya menjadi hari paling membanggakan dalam hidup Pak Harun. Sebelum naik kereta, anaknya sempat berkata: “Nanti kalau aku sudah sukses, Bapak nggak usah capek sendiri lagi.”

Kalimat sederhana yang mungkin diucapkan banyak anak kepada orangtuanya. Tapi bagi Pak Harun, itu jadi harapan yang dipegang erat bertahun-tahun.

Awalnya anaknya memang sering pulang. Sebulan sekali. Lalu dua bulan sekali. Lalu mulai sibuk. Telepon makin jarang. Pesan dibalas seperlunya. Sampai suatu hari, anaknya bilang tidak bisa pulang saat Lebaran karena pekerjaan. Pak Harun kecewa, tapi ia mengerti. Setidaknya ia berusaha mengerti.

Sampai kecelakaan itu terjadi. Mobil yang ditumpangi anaknya tertabrak truk saat perjalanan dinas luar kota. Meninggal di tempat. Dan anehnya, sejak hari itu Pak Harun mulai sering datang ke stasiun. Katanya, ia hanya ingin “menunggu sebentar”. Karena otaknya masih sulit menerima bahwa anaknya benar-benar tidak akan turun dari kereta lagi.

Aku tidak tahu kenapa cerita itu terus terngiang di kepalaku. Mungkin karena aku sendiri jarang pulang menemui orangtua. Telepon dari ibu sering kutolak dengan alasan sibuk. Pesan ayah kadang baru kubalas dua hari kemudian. Dan setiap kali ditanya kapan pulang, jawabanku selalu sama: “Nanti kalau kerjaan sudah agak longgar.” Padahal sebenarnya aku hanya terlalu nyaman hidup dengan ritme sendiri.

Hari-hari berikutnya aku mulai sering memperhatikan Pak Harun. Kadang ia membawa kantong berisi makanan kecil. Kadang membawa payung meski cuaca cerah. Seolah benar-benar sedang menjemput seseorang. Yang paling menyakitkan adalah cara matanya selalu berbinar setiap kereta datang. Lalu redup lagi ketika semua penumpang sudah keluar.

Suatu malam hujan turun deras sekali. Stasiun hampir kosong ketika aku melihat Pak Harun masih duduk di bangku nomor tiga sambil menggigil kecil. Aku memberanikan diri mendekat.

“Pak, belum pulang?”

Ia smiles ramah. “Sebentar lagi.”

“Bapak tiap hari nunggu di sini?”

Ia mengangguk pelan. Aku ragu bertanya, tapi akhirnya tetap keluar juga: “Bapak tahu, anak Bapak nggak akan datang lagi, kan?”

Untuk pertama kalinya, senyum lelaki tua itu terlihat rapuh. “Tahu.” Jawabannya pelan sekali.

“Lalu kenapa masih datang?”

Pak Harun menatap rel kereta yang basah karena hujan. Lama sekali sebelum akhirnya ia berkata: “Karena saya takut suatu hari dia benar-benar pulang, tapi saya tidak ada di sini buat nyambut dia.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Malam itu aku pulang lebih cepat dari biasanya. Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku menelepon ibuku tanpa alasan apa pun. Kami cuma ngobrol sebentar. Tentang makan malam. Tentang cuaca. Tentang hal-hal kecil yang biasanya terasa sepele. Tapi entah kenapa, malam itu suaranya terdengar sangat menenangkan.

Sebelum telepon ditutup, ibu tiba-tiba berkata: “Hati-hati ya di jalan.”

Kalimat sederhana. Kalimat yang mungkin sering kita dengar. Tapi mendadak terasa mahal. Karena aku sadar, tidak semua orang masih punya kesempatan mendengar itu.

Seminggu kemudian, bangku nomor tiga kosong. Pak Harun tidak datang lagi. Penjual kopi bilang beliau sakit dan dibawa saudara jauhnya ke kampung. Aku berdiri cukup lama di depan bangku kosong itu. Dan anehnya, stasiun mendadak terasa lebih sepi dari biasanya.

Sejak hari itu, aku mulai lebih sering pulang. Bukan karena hidup tiba-tiba lebih santai. Tapi karena akhirnya aku paham satu hal: Kadang orangtua tidak benar-benar menunggu uang kita. Mereka cuma menunggu kita pulang.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda