Nyanyian Pesisir di Bawah Atap Langit

M. Reza Sulaiman | Habibah Husain
Nyanyian Pesisir di Bawah Atap Langit
Ilustrasi Nyanyian Pesisir di Bawah Atap Langit (Gemini AI)

Aku selalu menyukai aroma garam yang beradu dengan wangi kayu manis dari dapur-dapur di pinggir dermaga ini. Di kampung nelayan ini, senja bukan sekadar tanda berakhirnya hari, melainkan awal kehidupan yang sesungguhnya. Aku bisa melihat semuanya dari ketinggian, melayang di antara celah awan, memperhatikan lampu-lampu minyak yang mulai dinyalakan di teras rumah panggung kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia.

Penduduk di sini tak punya banyak harta, tapi mereka punya tawa yang sanggup mengalahkan gemuruh ombak. Jika kalian jeli memperhatikan bersamaku, kalian akan melihat betapa mereka saling menjaga. Tak ada pintu yang benar-benar terkunci rapat sebelum larut malam. Mereka membiarkan angin laut masuk, membawa kabar dari tetangga sebelah.

Lihatlah di ujung dermaga itu. Ada seorang anak lelaki kecil bernama Aris. Ia sedang duduk menekuk lutut, menatap kosong ke arah horizon yang mulai menggelap. Di tangannya ada sebuah kaleng bekas biskuit yang sudah berkarat.

"Aris, kenapa belum pulang? Ibumu sudah menyiapkan ikan bakar, lho," tegur Pak Bari, seorang nelayan tua yang sedang menambatkan perahunya.

Aris hanya menggeleng pelan. "Aku sedang menunggu Ayah, Pak. Kata Ibu, Ayah pergi mencari mutiara di balik matahari terbenam. Tapi sudah tiga kali bulan purnama, Ayah belum juga sandar."

Pak Bari terdiam sejenak. Ia mengelus janggutnya yang memutih. Kami semua di sini tahu, ayah Aris tak akan pernah kembali dari badai besar tahun lalu. Namun, tak ada satu pun warga kampung yang tega menghancurkan imajinasi bocah tujuh tahun itu.

"Mungkin matahari sedang menyembunyikan mutiaranya di tempat yang sangat jauh, Aris. Ayahmu itu pelaut hebat, ia tak akan pulang dengan tangan kosong," sahut Pak Bari lembut sambil menepuk bahu Aris. "Ayo, ikut Bapak ke kedai. Ada es sirup sirsak kalau kamu mau."

Aku ingin sekali membelai rambut Aris dengan jemari cahayaku, memberitahunya bahwa ayahnya kini berada di tempat yang jauh lebih tenang daripada samudra mana pun. Namun, aku hanya bisa bersinar, memberikan sedikit penerangan pada jalan setapak yang dilalui Aris dan Pak Bari.

***

Mari kita bergeser sedikit ke arah pasar malam di dekat balai desa. Di sana, suasana jauh lebih riuh. Bau jagung bakar dan minyak goreng memenuhi udara. Di balik keriuhan itu, ada pemandangan menarik di pojok kios buku bekas milik Nek Sumi.

Ada dua remaja perempuan, Grace dan Karen, yang sedang berdebat sengit. "Kamu egois, Grace! Harusnya uang tabungan kita dipakai untuk beli seragam baru buat lomba tari minggu depan!" seru Karen dengan wajah memerah.

Grace menunduk, tangannya meremas ujung kausnya yang mulai tipis. "Tapi Karen, lihat Nek Sumi. Kiosnya bocor kemarin malam. Banyak bukunya yang hancur kena air hujan. Kalau kita tidak bantu perbaiki atapnya sekarang, beliau tidak bisa jualan lagi."

"Tapi lomba itu impian kita!" suara Karen meninggi, membuat beberapa orang menoleh.

Grace menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Impian kita bisa dikejar tahun depan, Ren. Tapi Nek Sumi hanya punya buku-buku ini untuk menyambung hidup. Apa kamu tega melihat beliau duduk kedinginan di bawah atap yang bolong?"

Karen terdiam. Amarahnya yang tadi meledak perlahan luruh, berganti dengan rasa malu yang menjalar di dadanya. Ia melihat Nek Sumi yang sedang sibuk mengelap sisa-sisa air di rak kayu dengan tangan yang gemetar.

"Maafkan aku, Grace," bisik Karen akhirnya. "Ayo, kita berikan uangnya ke tukang bangunan besok pagi. Seragam lama kita masih bisa dicuci bersih dan disetrika sampai rapi, kan?"

Aku tersenyum melihat mereka berpelukan di bawah temaram lampu jalan. Sifat manusia memang ajaib. Kadang ego menguasai, namun kasih sayang selalu punya cara untuk menang di akhir cerita.

***

Namun, pemandangan paling menyentuh justru ada di sebuah gubuk kecil yang terasing di dekat hutan bakau. Di sana tinggal Pak Mad, seorang mantan guru yang kini penglihatannya sudah nyaris hilang total. Setiap malam, ia duduk di kursi rotannya, mendengarkan suara radio tua yang statisnya lebih keras daripada suaranya.

Tiba-tiba, seorang pemuda datang membawa bungkusan makanan. Ia adalah pemuda paling bandel di kampung ini, sering mencuri mangga dan membolos sekolah. Namanya Bonno.

"Pak Guru, ini ada kiriman nasi liwet dari ibuku," kata Bonno dengan suara yang dibuat-buat kasar, seolah malu menunjukkan kebaikannya.

Pak Mad tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang tidak lagi lengkap. "Terima kasih, Nak. Kamu tahu saja bapak lagi lapar. Sini duduk, ceritakan padaku, apa warna langit sore ini? Apakah seindah biasanya?"

Bonno terdiam. Ia menatap ke arah langit—ke arahku. "Langitnya... warna emas bercampur ungu, Pak. Ada satu bintang yang bersinar paling terang, seolah-olah dia lagi menjaga kita semua dari atas sana."

Pak Mad mengeluh puas. "Indah sekali. Ceritakan lebih banyak, Bonno. Ceritakan tentang dunia yang tak bisa lagi kulihat."

Dan Bonno, si pemuda nakal itu, duduk berjam-jam di sana. Ia mendeskripsikan setiap jengkal kampung ini dengan kata-kata yang begitu puitis, membuat Pak Mad merasa seolah matanya telah sembuh kembali. Di sini, di gubuk kecil ini, aku belajar bahwa penglihatan bukan hanya soal mata, tapi soal bagaimana hati menerjemahkan dunia.

Malam semakin larut. Lampu-lampu rumah mulai dipadamkan satu per satu. Aku masih di sini, menggantung di angkasa, menjaga mimpi-mimpi penduduk kampung pesisir ini. Esok pagi, saat matahari mengambil alih tugasku, aku akan beristirahat dengan tenang, tahu bahwa di bawah sana, kemanusiaan masih berdenyut dengan sangat indah.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak