Bagi Burhan, bulan suci Ramadan adalah maraton tanpa akhir. Sebagai kurir ekspedisi, ia adalah saksi dari keriuhan orang-orang yang saling mengirim kebahagiaan dalam bentuk parsel mewah, sementara ia sendiri hampir lupa rasanya berbuka di meja makan rumah. Sejak pertengkaran hebat dengan ayahnya dua tahun lalu—perkara pilihan hidup yang dianggap remeh—Burhan memilih mengasingkan diri di balik kemudi motornya, menembus bisingnya kota yang tak pernah tidur.
Namun, Ramadan kali ini terasa berbeda. Sebuah paket tanpa label pengiriman resmi mulai muncul di tas motornya setiap sore, tepat pukul lima. Paket itu sederhana: hanya kotak kayu kecil berisi takjil yang masih hangat. Hari pertama, kolak pisang yang manisnya pas. Hari kedua, bakwan jagung yang masih renyah.
"Duh, siapa yang taruh ini? Apa ada orang kantor yang salah masukin barang?" gumam Burhan sambil menepi di trotoar yang mulai dipadati pedagang kaki lima.
Tidak ada resi, tidak ada nama. Hanya ada secarik kertas bertuliskan tangan: “Untuk yang sedang di jalan. Jangan lupa berbuka, perjalanan masih jauh.”
Awalnya, Burhan curiga. Ia merasa ada yang sedang mempermainkannya. Namun, rasa lapar setelah seharian berpuasa mengalahkan egonya. Ia menyantap takjil itu di atas motor, di bawah lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Anehnya, rasa masakan itu memicu memori yang selama ini ia kunci rapat. Rasa jahe yang kuat di kolaknya, atau irisan daun seledri di bakwannya—semuanya terasa sangat familiar.
"Ini... rasa masakan rumah," bisiknya lirih.
Ketegangan mulai memuncak di hari ketujuh. Burhan bertekad menangkap siapa pun yang menaruh paket itu. Ia sengaja tidak beranjak jauh dari motornya saat jam istirahat sore di gudang pusat. Namun, paket itu tetap ada di sana saat ia kembali dari kamar mandi yang hanya berjarak lima menit.
Kali ini, isinya adalah opor ayam dalam wadah kecil dan sebuah alamat tujuan yang ditulis di atas amplop cokelat: Jalan Kenangan No. 45.
Burhan tertegun. Itu adalah alamat rumahnya sendiri. Rumah yang sudah dua tahun tidak ia injak. Amarah dan rindu bertabrakan di dadanya. Apakah ini cara ayahnya mengejeknya? Atau apakah ini semacam sindiran bahwa ia harus pulang?
Dengan tangan bergetar, ia memacu motornya menuju alamat itu. Sesampainya di depan pagar rumah yang catnya mulai mengelupas, Burhan menghentikan motornya. Ia melihat ayahnya sedang duduk di kursi kayu teras, namun sosok itu tidak lagi tegap seperti dua tahun lalu. Langkah kaki Burhan terasa berat saat menapaki halaman yang ditumbuhi rumput liar. Setiap langkahnya adalah sisa-sisa kemarahan yang perlahan luruh menjadi rasa bersalah.
Burhan mendekat pelan, mesin motornya dimatikan. "Ayah?"
Lelaki tua itu menoleh perlahan. Matanya yang sudah kabur oleh katarak tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya senja yang mulai redup. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus, dan tangannya gemetar hebat saat mencoba memegang tepi kursi.
"Kau datang, Burhan," suara Ayah parau, hampir hilang ditelan angin sore. "Ayah takut... Ayah takut paket terakhir ini tidak sampai ke tanganmu."
Hati Burhan seakan diremas. Ternyata, selama ini Ayah diam-diam pergi ke gudang ekspedisi tempatnya bekerja. Ayah meminta bantuan kepada Pak Damin, satpam gudang yang merupakan teman lamanya, untuk menyelipkan masakan itu ke tas motor Burhan setiap kali anaknya sedang tidak melihat. Pak Damin-lah yang memastikan kotak-kotak hangat itu sampai ke Burhan sebagai pesan rahasia yang tak sanggup diucapkan lewat telepon.
"Maafkan Ayah, Burhan. Ayah hanya tahu cara ini agar kau mau mencicipi rumah lagi," lirih Ayah.
Burhan tidak mampu lagi menahan bendungan di matanya. Ia melangkah maju, lalu bersimpuh di depan kaki ayahnya. Ia meraih tangan keriput yang selama ini ia hindari, lalu menciumnya lama dengan isak tangis yang pecah. Bau minyak kayu putih dan aroma dapur dari tangan ayahnya menghantam kesadaran Burhan.
"Burhan yang salah, Yah... Burhan yang berdosa," isaknya di pangkuan lelaki tua itu.
Ayah mengelus rambut Burhan dengan tangan yang gemetar. Paket-paket takjil itu bukan sekadar makanan; itu adalah surat permohonan maaf yang ditulis dengan bumbu rindu. Selama ini, Burhan sibuk mengantar ribuan paket milik orang asing, namun ia lupa mengantarkan maaf untuk hatinya sendiri.
Azan Magrib berkumandang dari masjid di ujung gang. Kali ini, Burhan tidak berbuka di pinggir jalan dengan debu yang beterbangan. Ia tetap bersimpuh, merasakan hangatnya tangan sang ayah di kepalanya.
Ramadan tahun itu mengajarkan Burhan sebuah refleksi nyata bahwa dalam tumpukan paket yang ia antar setiap hari, paket yang paling berharga adalah paket yang alamat tujuannya adalah pintu maaf di rumah sendiri. Ia menyadari bahwa seberapa jauh pun seorang kurir pergi, tujuan akhir yang paling melegakan adalah tempat di mana ia tidak perlu lagi merasa asing di depan orang tuanya sendiri.